. . .

IPM Kembali Menjadi Fokus dalam Tema KKN 2019

Gemercik News—Tasikmalaya (3/1), Kuliah Kerja Nyata (KKN) gelombang satu dimulai dengan ditandai oleh acara upacara pelepasan peserta KKN gelombang satu yang bertempat di lapangan utama Universitas Siliwangi. Dalam laporan ketua pelaksana yang disampaikan oleh Eri Cahrial, Ir., MP. KKN pada gelombang satu ini diikuti oleh 1309 peserta yang terdiri dari FKIP sebanyak 731 peserta, FE 108 peserta, Faperta 8 peserta, FT 255 peserta, FAI 106 peserta, dan FISIP 101 peserta.

Dalam laporan Ketua pelaksana Eri Cahrial. Ir., MP. berpesan agar menjaga nama baik sivitas akademik Universitas Siliwangi demi kelancaran pelaksanaan KKN ditahun-tahun yang akan datang.

Seluruh peserta KKN akan ditempatkan di 10 kecamatan yang terdiri dari 70 desa di kabupaten Tasikmalaya selama 30 hari yang dilaksanakan sampai tanggal 7 Februari 2019. Dosen pembimbing lapangan pada KKN gelombang pertama kali ini sebanyak 35 orang yang teridiri dari FKIP 21 orang, FE 2 orang, FT 6 orang, FAI 3 orang dan FISIP 3 orang.

Dengan mengusung tema “Pemberdayaan Masyarakat melalui KKN Tematik untuk Mendukung Peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kabupaten Tasikmalaya”. 
Dengan tema masih seputar IPM dikarenakan fokus pembangunan pemerintah dilihatnya dari peningkatan IPM. Kesehatan, pendidikan, dan daya beli masih menjadi program untuk KKN tahun ini.

Ditemui selepas upacara pelepasan, Eri Cahrial mengatakan bahwa program itu tidak terpaku pada yang diberikan “Bisa saja program utamanya misalkan Pendidikan, pendukungnya kesehatan, insidentalnya misalkan daya beli. Tidak terpatok pada program yang diberikan, semua unsur ada tetapi ada penekanan tergantung desa wilayah masing – masing” tuturnya.

“Dalam KKN kali ini tempatnya hampir sama dengan tahun sebelumnya, hanya  untuk kali ini ada tempat yang sudah lama tidak ditempati oleh KKN Unsil yang akan ditempati kembali yaitu Desa Sindangsari, Kecamatan Cikatomas yang terakhir kali KKN Unsil berada disana pada tahun 2011.” Tambahnya.

Disinggung mengenai atribut untuk KKN beliau mengatakan bahwa pedoman yang di website belum terevisi. “Pedoman yang ada di website itu belum terevisi, untuk KKN yang sekarang kita akan menggunakan anggaran dari DIPA UNSIL, jadi untuk atribut kaos dan topi tidak ada, karena memang tidak ada anggarannya. Hal ini sudah terjadi selama tiga tahun juga.”

Mengenai persiapan KKN sendiri yang sempat beredar isu tentang persiapan yang tiba-tiba, beliau juga menambahkan bahwa LP2MP melakukan persiapan seefektif mungkin. “Persiapan KKN ini selama tiga bulan, persiapan tidak hanya menentukan tempat, harus survey juga kelapangan yang dilaksanakan oleh LP2MP, kemudian menentukan desa, berkoordinasi dengan pemerintah daerah, perijinan-perijinan, kan tidak dipersiapkan dalam satu dua minggu. Beredarnya isu itu karena ketidaktahuannya saja. Kita juga harus mempersiapkan seefektif mungkin, terutama di lapangan agar relatif lancar dan alhamdulillah karena kita sudah kerjasama dengan pemerintah daerah setempat dan para camat setempat alhamdulillah welcome”.

Selaku ketua pelaksana Eri berharap mahasiswa peserta KKN bisa lebih dewasa dalam menyikapi kehidupan di masyarakat sehingga mereka pada saat lulus mereka benar-benar siap untuk menjadi sebagai warga masyarakat sesuai dengan bidang ilmunya. “Karena pengalaman berkehidupan di masyarakat, walaupun mereka berasal dari masyarakat tetapi dalam menanggapi masalah pedesaan dan lain sebagainya, itu belajar kreativitasnya bisa meningkatkan kedewasaan mereka.” tambahnya.

Reporter: Trescha R.
Penyunting: Vika A.

Ikuti Kami

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *