. . .

Khadijah Adalah Rumah Kita

Peresensi: Yeyen Yenti

Judul : Khadijah: Ketika Rahasia Mim Tersingkap
Penulis : Sibel Eraslan
Penerjemah : Ahmad Saefudin, Hyunisa Rahmanadia, dan Erwin Putra
Penyunting : Koeh
Penerbit : Kaysa Media
Cetakan : Kedua, 2013
Tebal Buku : xxxii + 388 Halaman
Harga : Rp 55000 – Rp 65000
ISBN : 978-979-1479-63-9

Novel “Khadijah: Ketika Rahasia Mim Tersingkap” merupakan novel yang diterjemahkan oleh Ahmad Saefudin, Hyunisa Rahmanadia, dan Erwin Putra dari novel “Cöl ve Deniz” karya Sibel Eraslan. Sibel Eraslan lahir di Uskudar, Istanbul, 1967. Beliau merupakan lulusan Fakultas Hukum Universitas Istanbul yang giat beraktivitas dalam bidang Hak Asasi Manusia, pendidikan, pemberian jaminan kerja, dan hak-hak kaum hawa. Selain novel ini, beliau juga menulis beberapa novel lain, di antaranya: “Fatimah az-Zahra: Kerinduan dari Karbala”, “Aisyah: Sang Mawar Gurun Fir’aun”, dan “Maryam: Bunda Suci Sang Nabi”.

Novel ini tergolong ke dalam novel lama atau jadul, tapi isi dari novel ini akan membuat setiap pembaca ingin terus membaca dan membagikannya pada saudara atau sahabat sebagai salah satu novel yang direkomendasikan untuk dibaca terlebih jika pembaca adalah kaum hawa. Mengingat Sibel Eraslan beraktivitas dalam bidang hak-hak kaum hawa, dalam novel ini sangat menggambarkan bagaimana pentingnya sosok Ibunda Khadijah sebagai kekasih Nabi Muhammad, Ibunda Khadijah yang menjadi pendukung terbesar Kekasih-Nya dalam menyebarkan agama Islam.

Kehidupan Ibunda Khadijah bagaikan laut penuh ombak yang begitu bergejolak dengan rintangan dan cobaan, meski begitu Ibunda tetap tabah, kuat, dan berhasil melewati segala rintangan yang hadir dalam kehidupannya. Sibel Eraslan menyampaikan hal tersebut dengan indah melalui kata-kata yang lembut namun menggebu membuat pembaca ikut terhanyut dalam alur cerita seakan ikut menyaksikan secara langsung kejadian beribu-ribu tahun yang lalu itu.

Ketika membaca bagian awal novel ini, pembaca disajikan kilas balik perjalanan Nabi Ibrahim melawan Raja Namrud hingga pembangunan Kakbah. Cerita berlanjut dengan lahirnya Khadijah; bayi perempuan keluarga Khuwaylid dan Fatimah yang kaya raya dan terhormat. Meskipun pada masa itu kelahiran seorang anak perempuan dianggap membawa sial dan kebanyakan anak perempuan yang lahir di Mekah berakhir menjadi budak dan dijual oleh ayahnya sendiri, keluarga Khuwaylid dan Fatimah menyayangi Khadijah dan merawatnya penuh cinta.

Perjuangan hidup Ibunda Khadijah berawal ketika pernikahan beliau dengan Abu Hala bin Zurara yang dikaruniai dua orang putra; Hala dan Hindun, mulai berakhir karena Abu Hala jatuh sakit sepulangnya dari Syam dan tidak lama kemudian Abu Hala; suami Ibunda Khadijah, ayah dari Hala dan Hindun, meninggalkan mereka menuju alam baka. Ibunda Khadijah pun harus mengurus kedua putranya sendiri.

Setelah bermusyawarah dengan kerabat dan keluarga, beliau memutuskan untuk menikah dengan Atik bin Aziz, pernikahan itu dikaruniai seorang bayi wanita. Namun, kehidupan rumah tangga Ibunda Khadijah tidak berjalan lancar. Ketika Atik sedang mabuk, ia selalu menyiksa anak-anak Ibunda Khadijah membuat pernikahan ini berakhir dengan kepergian Ibunda Khadijah sembari membawa kedua putra dan bayi mungilnya ditemani Maisaroh sang pelayan tanpa meninggalkan keretakan setitikpun.

Ketika melihat pemuda berinisial ‘Mim’, dialah Muhammad bin Abdullah bin Abu Muthalib yang menjadi khalifah dagang Khadijah (yang saat itu belum menjadi Nabi dan Rasul), membuat hati Ibunda Khadijah berdebar dan kilauan cahaya yang terpancar dari dalam pemuda itu membawa Ibunda Khadijah dalam kesyahduan, kegembiraan sendiri dan membuat hatinya menjadi teduh.

Banyak gejolak yang dialami Ibunda Khadijah sebelum dan bahkan sesudah beliau menikah dengan sang kekasih-Nya, kehilangan berulang dialami oleh beliau. Meski begitu, Ibunda Khadijah tetap tabah dan kuat menjadi rumah sekaligus kekasih bagi kekasih-Nya; Al-Amin (nama panggilan Nabi Muhammad karena akhak baik yang dimiliki beliau).

Ibunda Khadijah menjadi orang pertama yang menerima kalimat takbir “ALLAHUAKBAR”, ketika suaminya telah menjadi Rasulullah. Ketika kalimat syahadat keluar dari bibir Ibunda Khadijah, beliau adalah orang pertama yang mengulangi kalimat Nabi Muhammad al-Mustafa. Mereka menjadi yang pertama melaksanakan Wudu dan Salat.

Ibunda Khadijah adalah pakaian dermawan. Saat tidak ada seorang pun mempercayai Rasulullah, beliau percaya. Saat tidak ada satu pun manusia yang mendukung Rasulullah, beliau mendermakan seluruh harta yang dimiliki. Saat semua orang menutup pintunya, wanita suci itu menjadi rumah bagi Rasulullah, juga bagi seluruh kaum muslimin.

Di akhir novel ini mengisahkan wafatnya Ibunda Khadijah setelah pemboikotan Bani Hasyim oleh para pemuka Quraisy. Rasulullah begitu merasa kehilangan, beliau telah mengalami begitu banyak kehilangan dan perpisahan.

Setelah beberapa tahun menjalani hijrah seperti yang dijalani rasul-rasul sebelumnya, Rasulullah kembali ke kotanya sebagai Pembebasan Mekah. Dan di sana, Rasulullah hendak mendirikan markas besar pasukan tepat di seberang Gunung Hajun.

“Khadijah, Khadijah sedang berbaring di sini…,” demikian beliau akan memberi jawaban jika ditanya sebabnya.

Dengan membaca novel ini, pembaca akan belajar mencintai Ibunda Khadijah; kekasih dari sang Kekasih-Nya. Ibunda Khadijah merupakan rumah bagi kita umat muslim layaknya beliau menjadi rumah bagi Rasulullah, yang penuh dengan cinta dan sayap-sayap kasih sayang yang luas dan menjadi selimut ketika Rasulullah menggigil, menjadi penopang dan pendukung ketika Rasulullah meragukan dirinya sendiri. Novel ini juga secara tidak langsung menyampaikan pentingnya peran seorang wanita dalam kehidupan, dan seakan menyampaikan bahwa wanitalah yang bisa membuat dan menyokong pria agar mampu bertahan dan berjuang di luar sana.

Kesan mendalam akan didapatkan pembaca setelah membaca novel ini, pembaca akan merasa menaiki Roller Coaster, seperti ketika kisah cinta Rasulullah dan Ibunda Khadijah disampakain akan membuat pembaca tersipu malu dan ikut berdebar, pembaca juga akan terbawa arus kesedihan yang dialami oleh Ibunda Khadijah dan Rasulullah dalam novel ini hingga meteteskan air mata yang mungkin tidak bisa dibendung.

Penyunting: Nida.al, Indri

Ikuti Kami

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *