. . .

~ Sejumput Penyadaran ~

Sebab suatu hari tatkala Lae begitu menikmati hari di luar rumah hingga rumah hanya menjadi tempat lelap, ada saja yang menamparnya seolah mengatakan bahwa ada orang yang juga ingin menghabiskan waktunya denganmu –di sisa umur tua mereka.

Pada suatu hari Lae pulang selepas seruan maghrib berkumandang, Bapak dan Ibu tengah berada di teras rumah sambil memainkan sebuah kotak seolah sangat mengasyikan. Seekor anak burung, yang ternyata ada di dalam kotak itu. Bapak dan Ibu menyuapi anak burung itu dengan remah-remah beras dan mereka tampak begitu antusias, berebut siapa yang akan menyuapi anak burung itu lebih banyak. Menciptakan tawa kekanakan dari bibir Ibu, sesuatu yang tak pernah bisa kulakukan; pikir Lae.

Pada suatu hari lagi Lae pulang tepat saat makan malam, Bapak dan Ibu tengah menikmati makanan mereka di meja makan bersama seorang anak lelaki berkebutuhan khusus yang akhir-akhir ini sering sekali berada di rumah –lebih sering dibanding diriku; pikir Lae. Dia menempati posisi makan malam yang sudah begitu jarang Lae nikmati bersama Bapak-Ibu. Dia menggantikan cerita-cerita yang biasanya Lae sampaikan guna meramaikan suasana di meja makan. Akhirnya Lae hanya akan berlalu menuju kamar untuk mengistirahatkan kepenatan. Anak lelaki itu menggantikan posisi Lae untuk mendapatkan pertanyaan sederhana Bapak yang begitu membuatnya bersemangat;

“mau dibuatkan cemilan? Bapak habis memetik pisang dari kebun, siapa tahu mau buat keripik untuk menemani nonton tv.”.

Tapi Lae bahkan sudah lupa kapan terakhir kali berada di meja yang sama untuk menikmati masakan Ibu, Lae selalu bilang sudah makan saat di kampus.

Pada suatu hari kemudian, Lae pulang saat malam masih manusiawi –sekitar pukul sepuluh. Lae melihat Ibu sendirian di ruang tengah sedang menonton acara tv, Lae bergegas membersihkan diri dan berganti pakaian. Saat tengah berbaring di kasur bersama lagu yang menenangkan, Ibu tiba-tiba berada di mulut pintu kamar seraya berkata:

“Bapak sakit. Dari tadi batuk terus sampai sempat keluar darah. Besok habis matkul langsung pulang, ya? Antar Bapak ke dokter.”.

Jadi ini alasan Bapak sudah terlelap di kamar dan tak menonton acara Indonesia Lawyers Club kegemarannya? Sehingga Ibu menunggu kepulangan Lae dengan menonton acara tv sendirian, tanpa ditemani ocehan Bapak yang tak pernah bosan membincangkan perpolitikan Negara seperti malam-malam biasanya.

Lae, si anak tunggal, anak perempuan mereka satu-satunya, harta paling berharga yang mereka miliki, kemana saja ia? Apa gunanya kehadiran ia di dunia ini? Menyibukkan diri di luar rumah seolah orang paling berpengaruh, mengerjakan tugas sebagai kewajiban mahasiswa tapi lupa tugas sebagai seorang anak pada orangtua, memilih makan di kantin kampus padahal Ibu memasakkan makanan kegemaran sang anak di rumah. Anak perempuan –tunggal ini membuat sang orang tua dilanda kesepian, kehilangan anak yang jelas masih se-atap dengan mereka.

Hingga sang orang tua begitu bahagia menyuapi seekor anak burung yang mereka temukan di bawah pohon rambutan samping rumah seolah tengah menyuapi anak perempuan tunggal mereka yang dulu begitu manja. Hingga mereka merawat seorang anak berkebutuhan khusus untuk menemani makan malam yang tak pernah lagi dinikmati bersama sang anak kandung. Hingga mereka begitu antusias menanyakan dan mendengarkan cerita si anak asuh yang terkadang sulit dipahami ucapannya itu guna menggantikan cerita keseharian sang anak kandung yang bahkan begitu sulit untuk sekedar bertegur sapa.

Lae kalah oleh seekor anak burung dan anak orang lain yang begitu dilimpahi perhatian dan kepedulian oleh orang tuanya, karena kesalahan Lae sendiri.

Maka inilah alasan mengapa kini Lae senantiasa pulang bahkan saat matahari belum terbenam, mengapa Lae sering kali abai pada pekerjaan dari hobby-hobbynya, mengapa Lae begitu sulit ‘tuk dihubungi. Agar Lae masih dapat melihat keberadaan mereka -sang orang tua, agar dapat menemani makan malam mereka meski tak seramai dulu karena Lae yang tak lagi terlalu suka bercerita, agar setidaknya mereka tahu jika Lae ada meski tak dapat membuat mereka tertawa.

Setidaknya aku terlihat di sisa masa tua mereka. Pikir Lae.

Lae, si anak perempuan-tunggal, ingin memastikan jika kedua orangtuanya, kedua manusia keramatnya masih berada di dunia yang sama.

[[ a.f – 02/11/18 ]]

Penyunting: Yyn.y

Ikuti Kami

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *