. . .

Literasi, Langkah Awal Membangun Karakter Para Generasi Negeri

Oleh Tia Elvia
Pendidikan Bahasa Inggris 2018

Literasi merupakan kata yang begitu familiar di kalangan khalayak umum. Biasanya, masyarakat menafsirkan dunia literasi adalah seputar membaca. Membaca bagi sebagian orang mungkin adalah hal yang terkesan membosankan, bahkan mereka akan melakukan kegiatan tersebut hanya ketika mereka membutuhkan sebuah informasi. Namun, literasi sesungguhnya bukan hanya soal membaca.

Dilansir dari laman okezone.com, Kepala Perpustakaan Nasional, Muhammad Syarif Bando menyatakan bahwa literasi bukan hanya sekedar membaca, tetapi juga aplikasi dari nilai-nilai positif dari apa yang dibaca. Hal ini dikatakannya saat menjadi narasumber dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Bidang Perpustakaan Tahun 2019 di Birawa Hall Hotel Bidakara, Jakarta Selatan. “Literasi bukan sekedar membaca, tapi bagaimana seseorang bisa menyerap nilai-nilai positif dari apa yang dibaca, kalau yang sekedar bisa baca banyak, tapi belum tentu terliterasi dengan baik,” jelas Syarif Bando.

Sebuah studi tahun 2009 di University of Sussex menemukan bahwa membaca dapat mengurangi stres hingga 68% dan Ini bekerja lebih baik serta lebih cepat daripada metode relaksasi lainnya, seperti mendengarkan musik atau meminum secangkir teh panas. Hal ini disebabkan karena pikiran kita diundang ke dunia sastra yang bebas dari tekanan yang mengganggu kehidupan sehari-hari kita. Kita tak harus memilih sebuah buku yang menjadi best seller, namun hal yang terpenting adalah tentang ketertarikan kita pada buku tersebut sehingga mampu menyediakan relaksasi di ruang berfikir kita.

Namun sayangnya, tidak semua orang mengetahui informasi penting tersebut. Mereka cenderung bersikap apatis terhadap hal tersebut. Keadaan mengkhawatirkan ini seharusnya mampu mendapatkan perhatian lebih dari kita semua, mengingat perkembangan literasi di Indonesia kian hari kian meredup. Sebagai seorang anak yang lahir di era 2000-an, tentunya saya merasakan perbedaan yang begitu kentara ketika menyaksikan permainan anak kecil di era sekarang ini. Mereka cenderung lebih menyukai bermain dengan gadget, dibandingkan dengan bermain bersama teman sebayanya. Bahkan, ketika mereka diberikan dua pilihan antara membaca dongeng atau bermain game online, mereka akan memilih untuk bermain game online.

Hal ini tentunya menjadi tugas bagi seluruh kalangan, baik kalangan akademisi maupun non akademisi. Gadget memang dapat memberikan salah satu dampak positif, salah satunya mengajarkan strategi dan membentuk teamwork, namun dampak negatif dari penggunaan gadget memberikan efek yang begitu kentara bagi kelangsungan hidup anak, salah satunya adalah kurangnya awareness pada lingkungan sekitarnya. Anak adalah cikal bakal penerus negeri yang seharusnya dibangun karakternya sejak dini, salah satunya melalui literasi.

Literasi adalah suatu pondasi dasar untuk mewujudkan apa cita-cita dan tujuan bangsa ini, karena cara awal untuk menanamkan tabiat-tabiat nasionalisme yang baik adalah melalui membaca. Sejak duduk di bangku sekolah dasar, anak sudah diajarkan apa itu Pancasila dan bagaimana cara merealisasikan nilai-nilai dari kelima sila Pancasila. Berkaitan dengan hal ini, tentunya dapat kita simpulkan jika Indonesia menumbuhkan sikap nasionalisme setiap warga negaranya melalui dunia literasi dan peran kita sebagai kalangan akademisi adalah menumbuhkan jiwa literasi di kalangan generasi muda.

Banyak kegiatan literasi yang diadakan di setiap tahunnya, salah satunya adalah World Book Day atau Hari Buku Sedunia. World Book Day merupakan salah satu event yang diorganisir oleh UNESCO. Di Indonesia, World Book Day biasanya dilangsungkan setiap tanggal 23 April. Kegiatan ini biasanya mengundang banyak komunitas, penulis, dan juga penerbit untuk mempromosikan literasi dan buku sebagai media dalam meningkatkan ilmu pengetahuan. Melalui kegiatan ini, publik diharapkan mampu menyadari akan pentingnya literasi dan juga membaca.

Dilansir dari laman solihullobserver.co.uk, Di Inggris tepatnya pada bulan maret kemarin, Grace Academy Solihull mengadakan “Bookie Breakfast” untuk memperingati World Book Day. Bookie Breakfast adalah kegiatan dimana murid-murid menyantap sarapan pagi mereka sembari membaca sebuah buku. Tema sekolah untuk acara tersebut adalah cerita pengantar tidur, sehingga murid-murid mengenakan piyama, sandal, baju rias, dan baju hangat terbaik mereka untuk menikmati kegiatan itu.

Mark Penney, kepala sekolah Solihull Junior School menyatakan bahwa, “Murid-murid kami memiliki begitu banyak cinta untuk sastra dan buku, Hari Buku Dunia adalah kesempatan yang sempurna untuk dirayakan,”. Selain itu, Ashley Connolly yang merupakan pustakawan sekolah, biasanya akan mengatur sarapan dan mendorong siswa duduk bersama. Setelah itu mereka akan membaca dan menceritakan berbagai buku baru yang beragam. Ashley juga menyatakan, “Membaca harus menjadi kegiatan sosial, bukan aktivitas pribadi. Kami ingin siswa berbicara satu sama lain tentang buku yang mereka baca dan berbagi cerita satu sama lain”.

Berdasarkan pemaparan di atas, sudah dapat kita simpulkan jika literasi adalah pondasi penting yang tak bisa kita anggap hal biasa. Selain memiliki banyak manfaat untuk kesehatan, literasi tentunya juga memegang peranan penting bagi kelangsungan dan eksistensi bangsa Indonesia di masa yang akan datang. Sebagai warga negara Indonesia yang bertanggung jawab, mari bersama kita bahu-membahu untuk kobarkan kembali semangat literasi demi tercapainya cita-cita negeri.
Penulis: Tia Elvia, Pendidikan Bahasa Inggris 2018

Penyunting: Yanifa RS

Ikuti Kami

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *