{"id":10234,"date":"2024-07-21T07:53:31","date_gmt":"2024-07-21T07:53:31","guid":{"rendered":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/?p=10234"},"modified":"2024-07-21T07:53:31","modified_gmt":"2024-07-21T07:53:31","slug":"mahasiswa-kkn-tampilkan-kesenian-terbang-dalam-upaya-melestarikan-kesenian-daerah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/mahasiswa-kkn-tampilkan-kesenian-terbang-dalam-upaya-melestarikan-kesenian-daerah\/","title":{"rendered":"Mahasiswa KKN Tampilkan Kesenian Terbang dalam Upaya Melestarikan Kesenian Daerah"},"content":{"rendered":"\n<p><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Gemercik News-Tasikmalaya (21\/07). <\/strong>Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) kelompok 51 Universitas Siliwangi (Unsil) menampilkan kesenian terbang dari berbagai padepokan di Desa Nagrog, Kecamatan Cipatujah. Wakil Koordinator Desa, Arnas Alfariez, mengatakan bahwa penampilan kesenian terbang ini bertujuan untuk memperkenalkan kesenian tersebut kepada masyarakat luas serta sebagai upaya melestarikan kesenian daerah.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cAlasannya karena banyak orang yang <em>nggak<\/em> <em>tau<\/em> mengenai kesenian terbang atau <em>buhun<\/em> ini, lalu yang kedua karena untuk kesenian terbang ini sudah jarang yang melestarikannya. Di samping itu kami juga mengangkat objek wisata yaitu Tonjong Canyon,\u201d ucap Arnas kepada Gemercik pada Jumat (19\/07).<\/p>\n\n\n\n<p>Arnas menyebutkan bahwa terdapat enam kesenian yang tampil dari enam dusun di Desa Nagrog. Setiap penampilan berbeda, tetapi memiliki tujuan yang sama, yaitu untuk mengingatkan terhadap ciptaan Tuhan.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cDi setiap desa itu ada enam dusun yang otomatis ada enam kesenian. Di setiap dusunnya itu masing-masing berbeda, tapi untuk tujuannya hampir sama mengingatkan sesama manusia bahwa jangan lupa akan ciptaan Tuhan,\u201d ujar Arnas.<\/p>\n\n\n\n<p>Arnas menjelaskan bahwa kesenian terbang atau <em>buhun<\/em> mirip dengan rebana yang diiringi kendang dan sinden. Kesenian ini mengandung arti doa untuk sampai ke langit.<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Kesenian terbang itu mirip seperti rebana, cuma diiringi sama kendang, ada kayak sinden juga. Untuk lirik-lirik dalam seni <em>buhun<\/em> itu tentang Islam, kalau di Sunda itu kayak <em>pupujian<\/em>,&#8221; ungkap Arnas.<\/p>\n\n\n\n<p>Selain itu, Arnas mengatakan bahwa Desa Nagrog memiliki objek wisata yang dikenal banyak orang, yaitu Tonjong Canyon. Dengan demikian, masyarakat yang berkunjung dapat menikmati wisata alam sekaligus menikmati kesenian khas desa tersebut.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cDi samping ada objek wisatanya juga, masyarakat yang ingin berwisata ke sana bisa melihat kesenian Desa Nagrog. <em>Nah<\/em>, jadi ke sana juga <em>nggak<\/em> untuk <em>spot<\/em> foto, tapi menikmati keseniannya,\u201d ucap Arnas.<\/p>\n\n\n\n<p>Terakhir, Arnas mengungkapkan bahwa kegiatan penampilan kesenian dan pengenalan wisata memberikan dampak positif di bidang ekonomi maupun pendidikan. Kegiatan ini dapat membantu pedagang lokal melalui penyelenggaraan pasar malam serta mengajarkan kesenian terbang kepada remaja Desa Nagrog agar kesenian tersebut tidak punah.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cSaya bekerja sama dengan pedagang lokal. Kami angkat perekonomiannya dengan bikin sebuah sistem <em>kayak<\/em> pasar malam dan di samping akses ekonomi tadi, kami juga <em>adain<\/em> bidang pendidikannya untuk remaja-remaja yang ingin belajar supaya kesenian ini, <em>tuh<\/em>, tidak punah,\u201d tutup Arnas Alfariez.<\/p>\n\n\n\n<p>Reporter: Rifki Ardi Gunansyah<\/p>\n\n\n\n<p>Penulis: Dhanti Trioktaviani<\/p>\n\n\n\n<p>Penyunting: Fika Fatma Yuslia<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Gemercik News-Tasikmalaya (21\/07). Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) kelompok 51 Universitas Siliwangi (Unsil) menampilkan kesenian terbang dari berbagai padepokan di Desa Nagrog, Kecamatan Cipatujah. Wakil Koordinator Desa, Arnas Alfariez, mengatakan bahwa penampilan kesenian terbang ini bertujuan untuk memperkenalkan kesenian tersebut kepada masyarakat luas serta sebagai upaya melestarikan kesenian daerah. \u201cAlasannya karena banyak orang yang nggak [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":10236,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[14,17],"tags":[],"class_list":["post-10234","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita","category-luar-kampus-berita"],"aioseo_notices":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10234","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=10234"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10234\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":10237,"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10234\/revisions\/10237"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/media\/10236"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=10234"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=10234"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=10234"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}