{"id":11437,"date":"2025-12-08T12:18:08","date_gmt":"2025-12-08T12:18:08","guid":{"rendered":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/?p=11437"},"modified":"2025-12-08T13:12:59","modified_gmt":"2025-12-08T13:12:59","slug":"jenaka-jembatan-ekonomi-politik-nasional-oleh-anak-mudauntuk-keadilan-akses-kesehatan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/jenaka-jembatan-ekonomi-politik-nasional-oleh-anak-mudauntuk-keadilan-akses-kesehatan\/","title":{"rendered":"JENAKA: Jembatan Ekonomi Politik Nasional oleh Anak Mudauntuk Keadilan Akses Kesehatan"},"content":{"rendered":"\n<h1 class=\"wp-block-heading\">PENDAHULUAN<\/h1>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Latar Belakang Masalah<\/h2>\n\n\n\n<p><em>\u201cHealth cannot be a question of income, it is a fundamental human right.\u201d <\/em>&#8211; Nelson Mandela<\/p>\n\n\n\n<p>Sayangnya, di Indonesia kutipan tersebut masih sebatas idealisme. Ketidakadilan akses kesehatan tidak hanya mencerminkan persoalan medis, melainkan juga ketidaksetaraan ekonomi politik yang sudah mengakar. Meskipun anggaran negara dialokasikan, hambatan struktural seperti distribusi sumber daya yang tidak merata, justru memperburuk kesenjangan antara masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa masalah kesehatan publik memerlukan solusi mendalam yang menyentuh aspek ekonomi-politik, bukan hanya sekadar pengobatan.<\/p>\n\n\n\n<p>Data terbaru tahun 2025 memperkuat urgensi ini. Indonesia menempati peringkat kedua di dunia untuk kasus TBC terbanyak. Fakta ini muncul di tengah peningkatan anggaran kesehatan APBN 2024 menjadi Rp 186,4 triliun. Besarnya anggaran tidak otomatis meningkatkan hasil jika tata kelola dan distribusi sumber daya bermasalah. Isu seperti krisis obat generik dan kenaikan iuran BPJS juga terus menjadi sorotan publik pada tahun 2025, yang semakin menegaskan tantangan dalam ekonomi-politik kesehatan.<\/p>\n\n\n\n<p>Urgensi masalah ini sangat tinggi, terutama karena Indonesia akan mencapai puncak bonus demografi pada tahun 2045, di mana 70% populasi berada di usia produktif. Tanpa akses kesehatan yang adil dan merata, bonus demografi dapat berubah menjadi &#8220;bencana demografi,&#8221; menghambat produktivitas dan pertumbuhan ekonomi.<\/p>\n\n\n\n<p>Dampak dari ketidakadilan kesehatan bersifat multi-aspek dan menciptakan rantai masalah yang sulit diputus, seperti program kesehatan pemerintah yang masih menghadapi sejumlah tantangan dan kekurangan. JKN misalnya, terus diguncang oleh isu defisit keuangan yang menurut putusan Mahkamah Agung (MA) dan audit Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP), tidak<\/p>\n\n\n\n<p>disebabkan oleh rendahnya iuran, melainkan oleh kesalahan dan kecurangan dalam tata kelola BPJS Kesehatan (Universitas Gadjah Mada, 2021). Kekurangan ini menunjukkan bahwa solusi belum sepenuhnya efektif untuk mengatasi masalah yang kompleks dan spesifik di tingkat lokal.<\/p>\n\n\n\n<p>Namun, celah ini justru membuka peluang besar bagi anak muda untuk tampil sebagai agen perubahan. Memiliki sifat yang komunikatif dan kreatif terutama dalam ranah digital, menjadikan anak muda dapat menyebarkan edukasi kesehatan secara efektif dan luas. Partisipasi pemilih muda yang tinggi pada Pemilu 2024 dan semakin terbukanya ruang digital untuk aspirasi publik, memberikan ruang bagi mereka untuk melakukan advokasi kebijakan (Kementerian Pemuda dan Olahraga, 2022). Selain itu, sektor ekonomi kreatif yang dipelopori anak muda telah melahirkan berbagai startup kesehatan, seperti layanan <em>telemedicine <\/em>dan pengembangan alat medis terjangkau. Ir. Soekarno yang kita kenal sebagai mantan Presiden dan pahlawan Indonesia pun meyakini, bahwa anak muda memiliki kekuatan untuk bertransformasi dari objek kebijakan menjadi arsitek solusi, mereka lahir sebagai inovator masa depan.<\/p>\n\n\n\n<p>Melihat potensi tersebut, esai ini mengusulkan sebuah kerangka kerja yang dinamakan &#8220;<em>JENAKA<\/em>: Jembatan Ekonomi Politik Nasional oleh Anak Muda untuk Keadilan Akses Kesehatan.&#8221; <em>JENAKA <\/em>adalah sebuah inisiatif yang dirancang untuk memadukan kekuatan, kreativitas, dan literasi digital anak muda dalam tiga pilar utama: Edukasi Kesehatan Publik, Advokasi Kebijakan, dan Inovasi Ekonomi- Kesehatan. Kerangka kerja ini sejalan dengan temuan penelitian dari UNICEF yang menunjukkan potensi besar anak muda sebagai agen perubahan, terutama ketika mereka diberdayakan dengan sumber daya dan ruang yang memadai. Lebih lanjut, Bank Dunia juga menegaskan bahwa investasi di sektor kesehatan bukanlah sekadar biaya, melainkan investasi strategis jangka panjang yang mendorong pertumbuhan ekonomi, meningkatkan produktivitas, dan menciptakan lapangan kerja (World Bank, 2025).<\/p>\n\n\n\n<h1 class=\"wp-block-heading\">PEMBAHASAN<\/h1>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Analisis Hubungan antara Ekonomi-Politik dan Akses Kesehatan<\/h2>\n\n\n\n<p>Aspek politik juga memainkan peran utama. Meskipun anggaran kesehatan terus meningkat, distribusi dan tata kelola dana tersebut masih menjadi masalah. Alokasi dana yang tidak terpadu dan tersebar di berbagai kementerian\/lembaga menyulitkan pengawasan dan evaluasi, berpotensi menyebabkan tumpang tindih program dan ketidakefektifan. Ketidakadilan ini pada akhirnya memicu ketidakpuasan sosial, yang jika dibiarkan akan mengganggu kestabilan politik dan keterikatan masyarakat. Oleh karena itu, tantangan seperti prevalensi TBC yang tinggi dan stunting yang lambat turun tidak dapat dipandang hanya sebagai masalah kesehatan, melainkan sebagai gejala dari ketidakadilan politik dan ekonomi yang perlu ditangani segera.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Evaluasi Kritis terhadap Solusi pemerintah yang Ada<\/h2>\n\n\n\n<p>Program-program yang telah dijalankan oleh pemerintah, meskipun memiliki tujuan yang baik, terbukti masih memiliki kelemahan. Program JKN\/BPJS Kesehatan, sebagai pilar utama jaminan kesehatan, terus didera isu defisit. Analisis mendalam menunjukkan bahwa defisit ini bukan karena rendahnya iuran, melainkan akibat dari kesalahan dan kecurangan dalam tata kelola internal BPJS Kesehatan. Kenaikan iuran yang diputuskan pemerintah melalui Perpres No. 64 Tahun 2020 justru dianggap sebagai solusi yang tidak menyentuh akar permasalahan dan hanya memindahkan beban finansial kepada masyarakat, bertentangan dengan asas kemanusiaan dan keadilan sosial (Indonesia Corruption Watch, 2020).<\/p>\n\n\n\n<p>Program percepatan penurunan stunting juga menunjukkan penurunan yang &#8220;minimal&#8221;. Meskipun anggaran dialokasikan, implementasi di lapangan terhambat oleh minimnya koordinasi lintas sektor, keterbatasan tenaga kesehatan, dan rendahnya literasi gizi di masyarakat. Sementara itu, program pemerataan tenaga kesehatan seperti <em>Nusantara Sehat <\/em>menghadapi tantangan dalam hal komunikasi dan insentif. Banyak tenaga kesehatan muda yang terlibat dalam program ini justru merasa kesulitan dan terpaksa bekerja secara &#8220;sukarela&#8221; tanpa bayaran yang layak,<\/p>\n\n\n\n<p>yang dapat mengikis idealisme mereka dan menyebabkan stres psikologis .Berbagai tantangan dan kekurangan ini menunjukkan bahwa pendekatan yang terpusat dan kurang fleksibel cenderung tidak efektif dalam menyelesaikan masalah yang kompleks di tingkat lokal (Administrativa, 2022).<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Peran Strategis Anak Muda sebagai Katalis Perubahan<\/h2>\n\n\n\n<p>Mengingat kegagalan solusi yang ada, anak muda muncul sebagai agen perubahan yang berpotensi memutus siklus ini. Dengan jumlahnya yang masif dan literasi digital yang tinggi, mereka memiliki kekuatan untuk melakukan perubahan signifikan. Partisipasi politik generasi muda yang semakin meningkat memberikan mereka platform untuk menyuarakan aspirasi dan menuntut pertanggungjawaban dari para pemangku kebijakan. Mereka dapat mendesak reformasi dalam tata kelola BPJS Kesehatan, menuntut transparansi anggaran, dan memastikan alokasi dana yang lebih adil (Indonesia Corruption Watch, 2020).<\/p>\n\n\n\n<p>Selain itu, anak muda juga berperan sebagai inovator sosial dan ekonomi. Dengan kreativitas dan keberanian untuk mengambil risiko, mereka melahirkan berbagai usaha awal dalam kesehatan yang menawarkan solusi berbasis teknologi untuk mengatasi kesenjangan layanan. Contohnya adalah layanan <em>telemedicine <\/em>yang menjangkau masyarakat di daerah terpencil, atau aplikasi edukasi yang menyediakan informasi gizi dan kesehatan mental yang mudah diakses. Inisiatif- inisiatif ini tidak hanya mengisi kekosongan yang tidak terjangkau, tetapi juga menunjukkan bahwa keadilan kesehatan dapat dicapai melalui jalur ekonomi kreatif yang berpihak pada masyarakat (Mediastartup.id, 2025).<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Kerangka Kerja <em>JENAKA<\/em>; Menjembatani Kesenjangan<\/h2>\n\n\n\n<p>Sebagai sebuah kerangka kerja menyeluruh, <em>JENAKA <\/em>(Jembatan Ekonomi Politik Nasional oleh Anak Muda untuk Keadilan Akses Kesehatan) mengusulkan pendekatan terpadu yang memberdayakan anak muda untuk menjadi arsitek solusi. <em>JENAKA <\/em>berlandaskan pada tiga pilar yang saling berinteraksi, menciptakan sinergi antara edukasi, politik, dan ekonomi.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Tabel 1: Pilar Solusi <em>JENAKA <\/em>dan Implementasinya<\/h2>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-table\"><table class=\"has-fixed-layout\"><tbody><tr><td><strong>Pilar Solusi<\/strong> <strong><em>JENAKA<\/em><\/strong><strong><em><\/em><\/strong><\/td><td><strong>Tujuan<\/strong><strong><\/strong><\/td><td><strong>Implementasi (Contoh)<\/strong><\/td><\/tr><tr><td>Edukasi Kesehatan Publik<\/td><td>Meningkatkan literasi dan kesadaran kesehatan masyarakat.<\/td><td>Kampanye digital kreatif melalui media sosial, pengembangan komunitas advokasi kesehatan seperti; penyelenggaraan\u00a0 lokakarya\u00a0 interaktif tentang stunting dan penyakit menular.<\/td><\/tr><tr><td>Advokasi kebijakan<\/td><td>Mendorong perumusan kebijakan yang adil dan akuntabel.<\/td><td>Partisipasi aktif dalam musyawarah publik dan forum aspirasi, meyakinkan DPR terkait pengawasan anggaran kesehatan, dan menuntut perbaikan tata kelola\u00a0 BPJS\u00a0 yang\u00a0 bebas\u00a0 dari kekurangan.<\/td><\/tr><tr><td>Inovasi Ekonomi- Kesehatan<\/td><td>Menciptakan solusi\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 yang terjangkau dan berkelanjutan secara ekonomi.<\/td><td>Mengembangkan program <em>telemedicine <\/em>untuk daerah terpencil, memproduksi alat medis berbiaya rendah, atau membangun<em> platform <\/em>yang menghubungkan\u00a0 masyarakat\u00a0 dengan layanan kesehatan berbasis komunitas.<\/td><\/tr><\/tbody><\/table><\/figure>\n\n\n\n<p>Dengan implementasi yang terstruktur, <em>JENAKA <\/em>berupaya mengatasi tantangan ekonomi-politik kesehatan dengan memanfaatkan kekuatan anak muda. Solusi ini tidak hanya berfokus pada perbaikan teknis, tetapi juga pada perbaikan sistem pengelolaan yang lebih transparan dan adil, serta pada penciptaan lingkungan ekonomi yang mendukung akses kesehatan yang merata. Ini sejalan dengan studi dari Bank Dunia yang menyatakan bahwa investasi kesehatan adalah motor penggerak pertumbuhan ekonomi, dan inisiatif. <em>JENAKA <\/em>hadir sebagai perwujudan dari investasi tersebut (World Bank, 2025).<\/p>\n\n\n\n<h1 class=\"wp-block-heading\">PENUTUP<\/h1>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Kesimpulan<\/h2>\n\n\n\n<p>Keadilan akses kesehatan di Indonesia tidak akan tercapai tanpa perbaikan dalam sistem ekonomi dan politik. Analisis menunjukkan bahwa solusi yang ada, seperti JKN\/BPJS dan program stunting, telah terbukti kurang efektif karena masih gagal dalam mengatasi masalah struktural seperti tata kelola yang buruk, ketidakefektifan anggaran, dan ketidakmerataan sumber daya. Dengan demikian, pendekatan baru yang menyeluruh dan berani mutlak diperlukan.<\/p>\n\n\n\n<p>Anak muda, dengan energi, literasi digital, dan posisi strategisnya dalam bonus demografi, adalah agen kunci untuk memutus rantai kegagalan ini. Maka dari itu, pemerintah dan pihak berkepentingan harus menciptakan ruang yang lebih besar bagi partisipasi mereka dalam perumusan kebijakan kesehatan dan mendorong investasi pada inisiatif kesehatan berbasis teknologi yang dipimpin oleh anak muda. Selain itu, perbaikan sistem pengelolaan anggaran dan BPJS harus segera dilakukan untuk menindak tegas praktik curang dan memastikan dana publik benar-benar dimanfaatkan untuk kepentingan rakyat (Indonesia Corruption Watch, 2020).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center\"><strong>Bagan 1: Kerangka <em>JENAKA <\/em>untuk Keadilan Akses Kesehatan<\/strong><\/p>\n\n\n<div class=\"wp-block-image\">\n<figure class=\"aligncenter size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"300\" height=\"178\" src=\"https:\/\/gemercikmedia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/Desain-tanpa-judul-10-300x178.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-11441\"\/><\/figure><\/div>\n\n\n<p><em>JENAKA <\/em>bukan sekadar akronim, melainkan keberanian anak muda untuk menjadi jembatan antara harapan dan kenyataan. Ia adalah bukti bahwa anak muda bukan sekadar pewaris bangsa, tetapi pencipta masa depan dalam perbaikan ekonomi-politik Indonesia serta kesehatan yang adil bagi seluruh warga Indonesia.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Daftar Pustaka<\/h2>\n\n\n\n<p>Adisampublisher. (2025). Evaluasi Kebijakan dan Strategi Penurunan Angka Stunting pada Tahun 2024. <a href=\"https:\/\/jurnal.dpr.go.id\/index.php\/aspirasi\/article\/download\/4800\/pdf\">https:\/\/jurnal.dpr.go.id\/index.php\/aspirasi\/article\/download\/4800\/pdf<\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Administrativa. (2022). Kinerja Program Nusantara Sehat di Daerah Terpencil Perbatasan dan Kepulauan. <a href=\"https:\/\/administrativa.fisip.unila.ac.id\/index.php\/1\/article\/download\/122\/85\">https:\/\/administrativa.fisip.unila.ac.id\/index.php\/1\/article\/download\/122\/85<\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Antara News. (2025). Ministry announces 2024 stunting rate at 19.8 percent. <a href=\"https:\/\/en.antaranews.com\/news\/356741\/ministry-announces-2024-stunting-rate-at-198-percent\">https:\/\/en.antaranews.com\/news\/356741\/ministry-announces-2024-<\/a> <a href=\"https:\/\/en.antaranews.com\/news\/356741\/ministry-announces-2024-stunting-rate-at-198-percent\">stunting-rate-at-198-percent<\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). (2024). Pembangunan SDM Faktor Penting dalam Mencapai Visi Indonesia Emas 2045. <a href=\"https:\/\/www.brin.go.id\/news\/118590\/pembangunan-sdm-faktor-penting-dalam-mencapai-visi-indonesia-emas-2045\">https:\/\/www.brin.go.id\/news\/118590\/pembangunan-sdm-faktor-penting-<\/a> <a href=\"https:\/\/www.brin.go.id\/news\/118590\/pembangunan-sdm-faktor-penting-dalam-mencapai-visi-indonesia-emas-2045\">dalam-mencapai-visi-indonesia-emas-2045<\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Indonesia Corruption Watch (ICW). (2020). Kenaikan Iuran JKN Tak Selesaikan Masalah Defisit Pendanaan. <a href=\"https:\/\/antikorupsi.org\/id\/article\/kenaikan-iuran-jkn-tak-selesaikan-masalah-defisit-pendanaan\">https:\/\/antikorupsi.org\/id\/article\/kenaikan-<\/a> <a href=\"https:\/\/antikorupsi.org\/id\/article\/kenaikan-iuran-jkn-tak-selesaikan-masalah-defisit-pendanaan\">iuran-jkn-tak-selesaikan-masalah-defisit-pendanaan<\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Kantor Staf Presiden. (2021). Hadapi Masalah Defisit Keuangan BPJS Kesehatan. <a href=\"https:\/\/www.ksp.go.id\/hadapi-masalah-defisit-keuangan-bpjs-kesehatan-moeldoko-perlu-dipikirkan-sumber-pendanaan-alternatif.html\">https:\/\/www.ksp.go.id\/hadapi-masalah-defisit-keuangan-bpjs-kesehatan-<\/a> <a href=\"https:\/\/www.ksp.go.id\/hadapi-masalah-defisit-keuangan-bpjs-kesehatan-moeldoko-perlu-dipikirkan-sumber-pendanaan-alternatif.html\">moeldoko-perlu-dipikirkan-sumber-pendanaan-alternatif.html<\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Kementerian Keuangan. (2024). Realisasi Anggaran Kesehatan Sebesar Rp164,3<\/p>\n\n\n\n<p>T. <a href=\"https:\/\/www.kemenkeu.go.id\/informasi-publik\/publikasi\/berita-utama\/Realisasi-Anggaran-Kesehatan-Subesar-Rp164\">https:\/\/www.kemenkeu.go.id\/informasi-publik\/publikasi\/berita-<\/a> <a href=\"https:\/\/www.kemenkeu.go.id\/informasi-publik\/publikasi\/berita-utama\/Realisasi-Anggaran-Kesehatan-Subesar-Rp164\">utama\/Realisasi-Anggaran-Kesehatan-Subesar-Rp164<\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Kementerian Kesehatan. (2023). Anggaran Kesehatan 2024 Ditetapkan Sebesar 5.6% dari APBN. <a href=\"https:\/\/kemkes.go.id\/id\/%20anggaran-kesehatan-2024-ditetapkan-sebesar-5-6-dari-apbn-naik-8-\">https:\/\/kemkes.go.id\/id\/%20anggaran-kesehatan-2024-<\/a> <a href=\"https:\/\/kemkes.go.id\/id\/%20anggaran-kesehatan-2024-ditetapkan-sebesar-5-6-dari-apbn-naik-8-\">ditetapkan-sebesar-5-6-dari-apbn-naik-8-<\/a><a href=\"https:\/\/kemkes.go.id\/id\/%20anggaran-kesehatan-2024-ditetapkan-sebesar-5-6-dari-apbn-naik-8-1-dibanding-2023\">1-dibanding-2023<\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Kementerian Kesehatan. (2025). Laporan Pusat Krisis Kesehatan. <a href=\"https:\/\/pusatkrisis.kemkes.go.id\/download\/fpjqg\/files5830Laporan_Pusat_Krisis_Ke\">https:\/\/pusatkrisis.kemkes.go.id\/download\/fpjqg\/files5830Laporan_Pusat_<\/a> <a href=\"https:\/\/pusatkrisis.kemkes.go.id\/download\/fpjqg\/files5830Laporan_Pusat_Krisis_Ke\">Krisis_Ke<\/a><a href=\"https:\/\/pusatkrisis.kemkes.go.id\/download\/fpjqg\/files5830Laporan_Pusat_Krisis_Kesehatan_tanggal_29_Juni_2025_pukul_07.30_WIB.pdf\">sehatan_tanggal_29_Juni_2025_pukul_07.30_WIB.pdf<\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Kementerian Pemuda dan Olahraga. (2022). Pentingnya Partisipasi Pemuda Dalam Strategi Peningkatan IPP. <a href=\"https:\/\/deputi1.kemenpora.go.id\/detail\/165\/pentingnya-partisipasi-pemuda-dalam-strategi-penin\">https:\/\/deputi1.kemenpora.go.id\/detail\/165\/pentingnya-partisipasi-pemuda-<\/a> <a href=\"https:\/\/deputi1.kemenpora.go.id\/detail\/165\/pentingnya-partisipasi-pemuda-dalam-strategi-penin\">dalam-strategi-penin<\/a><a href=\"https:\/\/deputi1.kemenpora.go.id\/detail\/165\/pentingnya-partisipasi-pemuda-dalam-strategi-peningkatan-ipp\">gkatan-ipp<\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Mediastartup.id. (2025). Jurnal Digital Anak Bangsa. <a href=\"https:\/\/www.mediastartup.id\/\">https:\/\/www.mediastartup.id\/<\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Poncosari.bantulkab.go.id. (2021). Kegiatan Advokasi Kesehatan Reproduksi Remaja. <a href=\"https:\/\/poncosari.bantulkab.go.id\/first\/artikel\/894-Kegiatan-Advokasi-Kesehatan-Repro\">https:\/\/poncosari.bantulkab.go.id\/first\/artikel\/894-Kegiatan-<\/a> <a href=\"https:\/\/poncosari.bantulkab.go.id\/first\/artikel\/894-Kegiatan-Advokasi-Kesehatan-Repro\">Advokasi-Kesehatan-Repro<\/a><a href=\"https:\/\/poncosari.bantulkab.go.id\/first\/artikel\/894-Kegiatan-Advokasi-Kesehatan-Reproduksi-Remaja--KRR-Bagi-Tokoh-Agama-dan-Tokoh-Masyarakat\">duksi-Remaja&#8211;KRR-Bagi-Tokoh-Agama-dan-<\/a> <a href=\"https:\/\/poncosari.bantulkab.go.id\/first\/artikel\/894-Kegiatan-Advokasi-Kesehatan-Reproduksi-Remaja--KRR-Bagi-Tokoh-Agama-dan-Tokoh-Masyarakat\">Tokoh-Masyarakat<\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Radar Surabaya. (2025). Sektor Kesehatan Terancam Krisis, 90 Persen Bahan Baku Obat Impor. <a href=\"https:\/\/radarsurabaya.jawapos.com\/ekonomi\/776480488\/sektor-kesehatan-terancam-krisis-90-p\">https:\/\/radarsurabaya.jawapos.com\/ekonomi\/776480488\/sektor-kesehatan-<\/a> <a href=\"https:\/\/radarsurabaya.jawapos.com\/ekonomi\/776480488\/sektor-kesehatan-terancam-krisis-90-p\">terancam-krisis-90-p<\/a><a href=\"https:\/\/radarsurabaya.jawapos.com\/ekonomi\/776480488\/sektor-kesehatan-terancam-krisis-90-persen-bahan-baku-obat-impor\">ersen-bahan-baku-obat-impor<\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Tempo. (2024). Kasus TBC Indonesia Nomor 2 di Dunia. <a href=\"https:\/\/www.tempo.co\/politik\/kasus-tbc-indonesia-nomor-2-di-dunia-ini-kelompok-yang-berisiko-ti\">https:\/\/www.tempo.co\/politik\/kasus-tbc-indonesia-nomor-2-di-dunia-ini-<\/a> <a href=\"https:\/\/www.tempo.co\/politik\/kasus-tbc-indonesia-nomor-2-di-dunia-ini-kelompok-yang-berisiko-ti\">kelompok-yang-berisiko-ti<\/a><a href=\"https:\/\/www.tempo.co\/politik\/kasus-tbc-indonesia-nomor-2-di-dunia-ini-kelompok-yang-berisiko-tinggi-tertular-1424049\">nggi-tertular-1424049<\/a><\/p>\n\n\n\n<p>TNP2K. (2020). Nusantara Sehat Team-based Deployment. <a href=\"https:\/\/kms.kemenkopm.go.id\/index.php?p=fstream-pdf&amp;fid=764&amp;bid=537\">https:\/\/kms.kemenkopm.go.id\/index.php?p=fstream-<\/a> <a href=\"https:\/\/kms.kemenkopm.go.id\/index.php?p=fstream-pdf&amp;fid=764&amp;bid=537\">pdf&amp;fid=764&amp;bid=537<\/a><\/p>\n\n\n\n<p>UNICEF. (2023). 20,000 young people from Latin America and the Caribbean call on leaders to take action at the EU-CELAC Summit. <a href=\"https:\/\/www.unicef.org\/cuba\/en\/publications\/who-are-the-youth-today-generation-unlimited\">https:\/\/www.unicef.org\/cuba\/en\/publications\/who-are-the-youth-today-<\/a> <a href=\"https:\/\/www.unicef.org\/cuba\/en\/publications\/who-are-the-youth-today-generation-unlimited\">generation-unlimited<\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Universitas Airlangga. (2024). Menuju Pemilu 2024: Pentingnya Representasi Generasi Muda. <a href=\"https:\/\/politik.fisip.unair.ac.id\/menuju-pemilu-2024-pentingnya-representasi-generasi-muda-dalam-menjawab-tantangan-di-tengah-arus-disrupsi\/\">https:\/\/politik.fisip.unair.ac.id\/menuju-pemilu-2024-<\/a> <a href=\"https:\/\/politik.fisip.unair.ac.id\/menuju-pemilu-2024-pentingnya-representasi-generasi-muda-dalam-menjawab-tantangan-di-tengah-arus-disrupsi\/\">pentingnya-representasi-generasi-muda-dala<\/a><a href=\"https:\/\/politik.fisip.unair.ac.id\/menuju-pemilu-2024-pentingnya-representasi-generasi-muda-dalam-menjawab-tantangan-di-tengah-arus-disrupsi\/\">m-menjawab-tantangan-di-<\/a> <a href=\"https:\/\/politik.fisip.unair.ac.id\/menuju-pemilu-2024-pentingnya-representasi-generasi-muda-dalam-menjawab-tantangan-di-tengah-arus-disrupsi\/\">tengah-arus-disrupsi\/<\/a> Universitas Gadjah Mada. (2021). Jurnal: Tantangan Kebijakan Asuransi Kesehatan Nasional JKN. <a href=\"https:\/\/jurnal.ugm.ac.id\/jkki\/article\/downloadSuppFile\/70231\/18961\">https:\/\/jurnal.ugm.ac.id\/jkki\/article\/downloadSuppFile\/70231\/18961<\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah \u201cHealth cannot be a question of income, it is a fundamental human right.\u201d &#8211; Nelson Mandela Sayangnya, di Indonesia kutipan tersebut masih sebatas idealisme. Ketidakadilan akses kesehatan tidak hanya mencerminkan persoalan medis, melainkan juga ketidaksetaraan ekonomi politik yang sudah mengakar. Meskipun anggaran negara dialokasikan, hambatan struktural seperti distribusi sumber daya yang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":11438,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[217],"tags":[],"class_list":["post-11437","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-esai"],"aioseo_notices":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11437","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=11437"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11437\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":11445,"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11437\/revisions\/11445"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/media\/11438"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=11437"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=11437"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=11437"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}