{"id":147,"date":"2019-05-24T03:24:57","date_gmt":"2019-05-24T03:24:57","guid":{"rendered":"https:\/\/gemercikmedia.com\/?p=147"},"modified":"2019-05-24T03:24:59","modified_gmt":"2019-05-24T03:24:59","slug":"pengkederan-yang-meriah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/pengkederan-yang-meriah\/","title":{"rendered":"Pengk(e)deran yang \u2018Meriah\u2019"},"content":{"rendered":"\n<p>Penambahan kata \u2018Maha\u2019 pada kata \u2018Siswa\u2019 tentu harus\ndiperkenalkan terlebih dahulu. Dimana, seorang siswa yang asalnya menuntut ilmu\ndi sekolah, berubah menjadi mahasiswa yang menuntut ilmu di perguruan tinggi.\nTentu akan terasa perbedaan yang cukup signifikan bila dibandingkan dengan\npendidikan pada jenjang pembelajaran yang ditempuh sebelumnya, baik dalam aspek\nakademik maupun sosial budaya. Agar mampu beradaptasi dengan suasana baru, maka\ndibuatlah pengenalan kehidupan kampus bagi mahasiswa baru.<\/p>\n\n\n\n<p>Pengenalan kehidupan kampus atau yang lebih sering disebut\nOspek (Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus), sudah diatur oleh Keputusan\nDirektur Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Kementerian Riset, Teknologi\ndan Pendidikan Tinggi Nomor 096\/B1\/SK\/2016, tentang Panduan Umum Pengenalan\nKehidupan Kampus Bagi Mahasiswa Baru. Dalam pedoman tersebut sudah dijelaskan\nsecara rinci mengenai tujuan, materi bahkan pelaksanaannya. Ospek Unsil\nmemiliki nama khusus dan berbeda dengan universitas lain, yaitu OMBUS\n(Orientasi Mahasiswa Baru Universitas Siliwangi) yang tentu dalam\npelaksanaannya mengacu pada pedoman tersebut.<\/p>\n\n\n\n<p>Setelah melewati OMBUS, setiap fakultas dan jurusan\nmemiliki kegiatan masa bimbingan (Mabim) dengan konsep yang berbeda-beda bahkan\nnama yang berbeda pula. Disini, terlihat bahwa konsep kaderisasi disesuaikan\ndengan budaya dan kebutuhan yang diperlukan.<\/p>\n\n\n\n<p><br>\nNamun terkadang, ada pengkaderan yang diwarnai dengan gegap gempita kemeriahan\nuntuk tercapainya suatu gagasan idealis, namun terkesan pragmatis, berbau\nkapitalis. Keidealan tersebut menjadi sebuah keharusan yang terkesan\nmemaksakan, karena lupa untuk mempertimbangkan kemampuan dan keberagaman, yang\ndipicu dengan alasan tujuan-tujuan (mereka), yaitu kemeriahan dan keidealan.\nKemeriahan bukan dijadikan sebagai ukuran idealnya suatu pengkaderan mahasiswa\nbaru. Apalagi secara tidak langsung memaksa mahasiswa baru untuk mengeluarkan\nuang yang jumlahnya tidak sedikit dan terkadang memberatkan bagi sebagian\nmahasiswa baru. Tapi apalah daya mahasiswa baru hanya bungkam karena ketakutan\nakan penilaian, dan hasil akhir kelulusan. Atau mungkin terjadi sistem\npengkaderan yang menghasilkan kemeriahan, sampai membuat lupa karena terlalu\nnyaman sehingga tumbuh bibit keapatisan.<\/p>\n\n\n\n<p>Dengan keapatisan yang tumbuh sedikit demi sedikit karena\ndididik oleh kehingar-bingaran kemeriahan suatu acara pengkaderan, hal tersebut\nmembuat mahasiswa lupa akan tugasnya sebagai social control. Terbukti dengan\nterkikis sedikit demi sedikitnya yang telah mengakibatkan mahasiswa kurang peka\nterhadap keaadaan disekitarnya. Mereka lupa bahwa disekitarnya masih banyak\norang yang membutuhkan bahkan mereka sendiri membutuhkan. Namun karena\nmendewakan kemeriahan, mereka akhirnya memaksakan sesuatu tanpa mempertimbangkan\ndahulu kemampuan yang dimiliki.<\/p>\n\n\n\n<p>Pengkaderan yang dilakukan Ormawa ada yang ditafsirkan\nmenjadi pengkederan Ormawa \u2018Kapitalis\u2019 karena mereka menjual pengkaderan demi\nmenghisap uang, tenaga, dan waktu demi iming-iming sebuah penilaian,\nkemeriahan, dan keidealan tanpa mempertimbangkan kemampuan yang ada pada\nmasing-masing pribadi yang membuat objeknya menjadi \u2018keder\u2019. Mengutip perkataan\nMuhammad al-Fayyadl \u201cKapitalisme memang tidak merampok langsung hartamu, tapi\nia menghisap waktumu dan tenagamu. Dua hartamu yang tak tergantikan dan mempola\nkerjamu\u201d.<\/p>\n\n\n\n<p>Acara pengkederan di Ormawa \u2018Kapitalis\u2019 itu seperti\nmenghisap rokok, dihisap kemudian sebagian nikotin menempel kemudian\nsebagiannya lagi dikeluarkan dan terhempas begitu saja. Zat nikotin sebagai zat\ncandu, kenikmatan semu. Padahal menghisap rokok dapat menyebabkan kanker,\nserangan jantung, impotensi, dan gangguan kehamilan dan janin. Candu yang\nmenjadikan hasrat supaya meinginkannya lagi bahkan lebih dari kemarin hingga\nketergantungan.<\/p>\n\n\n\n<p>Semakin berhasrat untuk menghisap asap lebih banyak supaya\nasap yang terhembus keluar bisa lebih banyak hingga lebih meriah dan menjadi\nsebuah kenikmatan dan kepuasan tersendiri bagi penghisapnya. Dari tahun ke\ntahun akan terus terjadi pengulangan kasus yang sama. Pengkaderan yang mewah\njelas bukan sebuah kesalahan. Namun memberatkan sebagian mahasiswa jelas sebuah\nkesalahan. Tidak semua mahasiswa orang berpunya, tidak semua mahasiswa bisa\ndipukul rata sebagai orang yang punya. Untuk apa ada Bidikmisi, jika uang yang\n650.000 rupiah per bulan itu habis dipakai untuk membayar biaya pengkaderan?<\/p>\n\n\n\n<p>Uang, waktu, dan tenaga di satu paketkan. Mungkin ada yang\npernah merasakan problematika-problematika pengkaderan ini, tapi kenapa orang\nyang bersangkutan malah mengulang problematika tersebut kepada adik tingkatnya?\nMungkin saja terjadi akibat dibebani target yang harus lebih meriah dari\npengkaderan sebelumnya. Sehingga&nbsp; tidak terlalu mempertimbangkan uang,\ntenaga, dan waktu yang harus dikorbankan. Berbanding terbalik dengan kapasitas\nyang ada, karena yang terpenting proker (program kerja) berjalan dengan tepat\nwaktu dan meriah. Namun disini yang harus digaris bawahi adalah jangan berpikir\ningin meriah terlebih dulu, apalagi dengan membebani mahasiswa baru sebagai\nobjeknya. Alangkah lebih baiknya membuat acara pengkaderan sederhana namun\nesensinya sangat bermakna supaya membentuk rasa keperihatinannya yang akan\nmenjadi landasan dari karakternya. Setelah pembentukan karakter tersebut\ntercapai, barulah memikirkan kemeriahan dengan memanfaatkan apa yang ada sesuai\ndengan kemampuan. Memaksimalkan fasilitas kampus yang ada, dengan budget yang\ntidak terlalu besar, namun bisa meriah karena ada sentuhan kreativitas.\nMisalnya acara outdoor party di Taman Kampus dengan iringan musik akustik atau\ntradisional, dihiasi cahaya-cahaya kecil sebagai bibit harapan, keakraban serta\ncanda tawa ditemani kehangatan, dan ada makanan yang tengah dihidangkan\nlangsung dari panggangan.<\/p>\n\n\n\n<p>Dengan adanya sedikit cubitan ini semoga bisa menambah\n\u2018kemeriahan\u2019 acara yang diselenggarakan. Pengkadaran mahasiswa yang terpenting\nadalah esensi dan tidak memberatkan baik dalam segi keuangan, waktu, dan tenaga\nkarena setiap orang tidak bisa dipukul rata. Hampir semua orang setuju bahwa\nhal terpenting dari seorang mahasiswa adalah kapasitas dan kemampuannya, bukan\nkemewahan. Maka dari itu, pengkaderan adalah hal yang paling fundamental.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201c<strong><em>Jika Anda bergetar dengan geram setiap melihat\nketidakadilan, maka Anda adalah kawan saya.<\/em><\/strong>\u201d -Che Guevara-\n\n(<strong><em>Dzaky Muhamad Zaenal Mutaqin<\/em><\/strong>,\nManajemen 2017)\n\n\n\n<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Penambahan kata \u2018Maha\u2019 pada kata \u2018Siswa\u2019 tentu harus diperkenalkan terlebih dahulu. Dimana, seorang siswa yang asalnya menuntut ilmu di sekolah, berubah menjadi mahasiswa yang menuntut ilmu di perguruan tinggi. Tentu akan terasa perbedaan yang cukup signifikan bila dibandingkan dengan pendidikan pada jenjang pembelajaran yang ditempuh sebelumnya, baik dalam aspek akademik maupun sosial budaya. Agar mampu [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":148,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[13],"tags":[],"class_list":["post-147","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-opini"],"aioseo_notices":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/147","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=147"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/147\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":149,"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/147\/revisions\/149"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/media\/148"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=147"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=147"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=147"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}