{"id":171,"date":"2019-05-24T03:51:11","date_gmt":"2019-05-24T03:51:11","guid":{"rendered":"https:\/\/gemercikmedia.com\/?p=171"},"modified":"2019-05-24T03:51:13","modified_gmt":"2019-05-24T03:51:13","slug":"masih-relevankah-demokrasi-di-indonesia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/masih-relevankah-demokrasi-di-indonesia\/","title":{"rendered":"Masih Relevankah Demokrasi di Indonesia?"},"content":{"rendered":"\n<p>Oleh Ayu Sabrina Barokah<\/p>\n\n\n\n<p>Jurusan Ilmu Politik 2018<\/p>\n\n\n\n<p><em>Orang gila dituntut di pengadilan,\nkeputusan tidak sah. Orang gila bersaksi di pengadilan juga tidak sah. Kok\ndalam Pilpres orang gila bisa sah<\/em>? Begitulah agaknya segelintir pertanyaan yang muncul dari\norang&nbsp;<em>waras<\/em>&nbsp;ketika mengetahui isu tentang orang gila yang\nmemiliki hak suara.<\/p>\n\n\n\n<p>Bermacam isu telah banyak muncul menjelang pesta demokrasi\ndimulai.&nbsp;<em>Orang<\/em>&nbsp;<em>gila<\/em>&nbsp;punya hak suara merupakan satu\nisu yang terlindungi atas nama&nbsp;<em>Demokrasi<\/em>. Namun, apakah demokrasi\nmemang memberikan ruang seluas-luasnya untuk warga negara Indonesia menyuarakan\npendapatnya, sekalipun orang gila? Demokrasi merupakan salah satu jenis\nkekuasaan yang digunakan oleh Barat. Demokrasi menurut Barat memang melibatkan\nbanyak orang. Namun, Barat pun berpendapat bahwa demokrasi bukan yang terbaik\nkarena keputusan kebanyakan dari masyarakat belum tentu tepat dan mereka\ncenderung memutuskan apa yang menurut mereka terlihat paling baik saja.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam hal ini, apakah orang gila termasuk kepada&nbsp;<em>kebanyakan\ndari masyarakat<\/em>&nbsp;yang dimaksud? Apakah mereka sama atau setara dengan\norang waras? Mari kita berspekulasi. Jika memang orang gila mempunyai hak suara\ndi Pilpres nanti, menjadi masalahkah siapa yang dia pilih? Atau menjadi\nmasalahkah siapa yang terpilih nantinya hanya karena orang gila ikut memilih?\nOrang gila dan orang waras hanya pikiran yang membatasinya. Orang waras akan\nmemilih berdasarkan banyak pertimbangan, baik dari segi keuntungan untuk publik\nataupun dirinya sendiri. Tetapi ketika orang gila memilih kita tidak tahu apa\nyang mereka pikirkan ketika melihat Jokowi dan Prabowo di surat suara.\nLagipula, apakah mereka tahu siapa saja calon presiden kita besok?<\/p>\n\n\n\n<p>Banyak yang harus dipertanyakan mengenai kenapa orang gila\nbisa memiliki hak suara di kontestasi Pilpres. Sahkah di hadapan demokrasi? Ya,\nyang menjadi masalah adalah beban publik ketika mereka (<em>orang gila<\/em>)\nbenar-benar datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS). Sebelum mereka beranjak ke\nbilik suara mungkin akan banyak hal yang terjadi. Bisa jadi, orang gila\ntersebut tiba-tiba&nbsp;<em>kumat<\/em>. Anda bisa bayangkan? Orang gila tersebut\nbisa saja memporak-porandakan tempat pemungutan suara tersebut dan membuat\nkericuhan serta terganggunya kelangsungan pemungutan suara atau mungkin\nmembahayakan keselamatan banyak orang. Lebih jauh dari itu, jika seperempat\nDaftar Pemilih Tetap di Indonesia adalah orang gila dan mereka menggunakan hak\npilihnya. Maka, seperempat nasib kita ditentukan oleh orang gila.<\/p>\n\n\n\n<p>Sehubungan dengan hal tersebut, apakah ini salah demokrasi?\nMasih relevankah demokrasi untuk kita gunakan di negara ber-<em>flower<\/em>&nbsp;ini?\nDemokrasi adalah tentang semua orang dapat menyuarakan pendapatanya. Namun,\ndemokrasi ini bisa berdampak buruk ketika&nbsp;<em>semua orang&nbsp;<\/em>benar-benar\nterlibat dalam menunjang kebijakan publik di sebuah negara dan hal ini disebut\nsebagai Mobokrasi. Tentang kesetaraan hak dan kewajiban antara orang gila dan\norang waras, silahkan pembaca pikirkan setarakah menurut anda antara orang\nwaras dengan orang gila?<\/p>\n\n\n\n<p>Penyunting: Annisa Az Zahra<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh Ayu Sabrina Barokah Jurusan Ilmu Politik 2018 Orang gila dituntut di pengadilan, keputusan tidak sah. Orang gila bersaksi di pengadilan juga tidak sah. Kok dalam Pilpres orang gila bisa sah? Begitulah agaknya segelintir pertanyaan yang muncul dari orang&nbsp;waras&nbsp;ketika mengetahui isu tentang orang gila yang memiliki hak suara. Bermacam isu telah banyak muncul menjelang pesta [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":172,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[13],"tags":[],"class_list":["post-171","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-opini"],"aioseo_notices":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/171","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=171"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/171\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":173,"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/171\/revisions\/173"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/media\/172"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=171"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=171"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=171"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}