{"id":180,"date":"2019-05-24T04:21:05","date_gmt":"2019-05-24T04:21:05","guid":{"rendered":"https:\/\/gemercikmedia.com\/?p=180"},"modified":"2019-05-24T04:21:07","modified_gmt":"2019-05-24T04:21:07","slug":"memaknai-sexy-killers-untuk-5-tahun-kedepan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/memaknai-sexy-killers-untuk-5-tahun-kedepan\/","title":{"rendered":"Memaknai \u201cSexy Killers\u201d  untuk 5 Tahun Kedepan"},"content":{"rendered":"\n<p>Ada Udang di Balik Batu.\nMungkin itu peribahasa yang tepat dalam memaknai film dokumenter yang dirilis\noleh tim Watchdoc. Satu tahun waktu yang dibutuhkan oleh tim Ekspedisi\nIndonesia Biru untuk menjelajah Indonesia dimulai dari Suku Baduy Dalam dan\ndiakhiri di tempat di mana semua dimulai dan mendokumentasikan semua\nkegiatannya dalam bentuk karya jurnalistik. Film dokumenter terbaru yang\ndikeluarkan oleh Watchdoc, yang berjudul Sexy Killers membahas asal usul energi\nyang selalu digandrungi oleh semua manusia, energi listrik. Selain membahas\nasal usulnya, seperti pada karya Watchdoc yang biasanya selalu terselip\npembahasan yang menarik pada setiap karya dokumenternya, kali ini terselip\nmasalah penguasa yang menguasai proses pengolahan dari batubara mentah menuju\nke PLTU dan menjadi listrik. Yang lebih menarik selain penguasa, terdapat pula\n\u201ccalon penguasa\u201d (re: Presiden).<\/p>\n\n\n\n<p>Peribahasa yang ada di paragraf\nsebelumnya bermaksud menunjukkan apa yang didapat setelah menyaksikan film\ndokumenter ini. Terdapat maksud tertentu dari tujuan yang dituju, begitu cara saya\nmenafsirkan apa yang terjadi setelah menyaksikan Sexy Killers tersebut selain\nbetapa naifnya saya menikmati listrik tanpa menyadari bahwa dampak\npembangkitnya yang sangat berbahaya dalam hal ini PLTU, seperti yang dilihat\ndari film dokumenter tersebut. Dalam film tersebut dapat disaksikan betapa\nprihatinnya kondisi alam Indonesia yang sudah berubah sebab dikonsumsi oleh\npengusaha dan penguasa yang sangat bersinergi dalam mencari keuntungan, memang\nkompak dalam hal ini. Contohnya saja, dalam kasus perusahaan tambang yang dalam\naturannya, di peraturan menteri lingkungan hidup seharusnya 500 meter, namun\nnyatanya masih ada yang berjarak dekat, bahkan sangat dekat antara pemukiman\ndan perusahaan tambang.<\/p>\n\n\n\n<p>Lantas mengapa masih ada\npertambangan yang jaraknya sangat dekat dengan pemukiman warga? Lho itu kan\naturan pemerintah yang jelas hukumnya. Apakah ada kongkalikong antara\npemerintah daerah dengan pengusaha atau mungkin pengusahalah yang berkuasa di\ndalam pemerintah? Dalam film ini dijelaskan siapa yang ada di balik usaha-usaha\ntambang yang dekat dengan masyarakat tersebut. Ya, para penguasa yang ada di\nbalik usaha-usaha tambang batubara tersebut. Ditayangkan pada Sexy Killers,\nterdapat efek berantai antara pengusaha dengan penguasa. Mungkin kita sempat\nberfikir apakah para penguasa dan elit politik hanya mendapat uang dari\ntugasnya sebagai elit negara. Nyatanya para penguasa ini juga pengusaha. Gurita\nbisnis penguasa masuk ke dalam konteks pengusaha menjadikan mereka memiliki\nkepentingan dalam berkuasa, yaitu agar usahanya tetap berkembang dan mendulang\nratusan bahkan miliaran rupiah. Dengan peran sebagai pemerintah atau elit\npolitik pemangku kebijakan, para penguasa ini memanfaatkan posisinya demi\nmempertahankan usahanya.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Tidak usah pusing-pusing\nmenafsirkan pemikiran tadi, singkatnya demi menjaga bisnis, kekuasaan harus\ndiraih agar bisnis tidak berhenti dan dapat leluasa menguasai apa saja dalam\nkonteks seperti izin bisnis yang dikeluarkan oleh pemerintah dan semacamnya.\nPerusahaan-perusahaan penguasa sektor pertambangan batubara yang ada di\nIndonesia, seperti yang dipaparkan dalam Sexy Killers, mayoritas dikuasai oleh\npenguasa (pejabat pemerintahan, elit politik, menteri-menteri) di Indonesia.\nSebut saja Menko Kemaritiman, capres satu, dua; cawapres satu, dua, dan tim\nsukses serta BPN maupun TKN-nya yang ada dalam gurita bisnis tersebut. Dan\nketika dilihat semuanya memiliki keterkaitan satu dengan yang lainnya, yang\nberbeda kubu pun ternyata sama seleranya dalam berbisnis dan ternyata sejalan.\nSeakan-akan ada upaya untuk tetap menjaga bisnisnya tetap berjalan dengan cara\nberkuasa dan berdiri diatas penderitaan rakyat, tidak peduli memihak kubu mana\nsemua terlihat sama saja, itu pendapat saya loh.<\/p>\n\n\n\n<p>Pilpres yang akan datang sudah\npasti menjadi penentu, yang terpilih akan memainkan banyak peran di dalamnya.\nCapres dan cawapres yang akan bertarung untuk mengejar plat nomor merah\nbertuliskan RI-1 dan RI-2, ternyata ada dan terlibat dalam gurita bisnis\ntambang batubara. Lucunya, ketika debat presiden sempat ditanyakan mengenai\nefek negatif dari berdirinya tambang-tambang tersebut terutama setelah proses\nmenambang selesai. Seperti ini pertanyaannya: \u201c2018, kurang lebih 8 juta hektar\nlubang tambang belum direklamasi&#8230; Pertanyaanya bagaimana langkah konkrit\nbapak-bapak untuk mengatasi masalah lingkungan dan sosial ekonomi yang\nditimbulkan oleh lubang-lubang bekas tambang tersebut?\u201d Kedua capres menjawab\ndengan jawaban ada sedikit masuk akal dan ada yang memberikan laporan kerjanya\n\u201ckita harus lebih galak lagi untuk mengejar pelanggar-pelanggar pencemaran\nlingkungan hidup\u201d lalu ada pula \u201cmemang ada satu, dua, tiga yang memang belum\ndikerjakan, tetapi dengan pengawasan pemerintah daerah dan kementrian LH, saya\nyakin itu bisa dikerjakan (reklamasi)\u201d. Dan ya, itulah langkah konkrit yang\ndisampaikan mereka, selebihnya bisa disaksikan saja sendiri.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cLoh kok, bisnis mereka\ndikaitan dengan pilpres sih?\u201d Ada yang bertanya seperti itu ketika tulisan ini\ndibuat. Jadi, biasanya terdapat politik kepentingan yang ada di balik maksud\ncalon-calon yang mencalonan diri. Posisi di dalam dunia bisnis memang tidak ada\nkaitannya dengan posisi di dalam pemerintahan atau elit politik. Namun, hal itu\nterjadi apabila fokus di dalam satu bidang saja, tapi ini lain ceritanya\napabila sudah mencalonkan diri atau mempunyai jabatan ternyata memiliki bisnis,\ndan bisnis atau usahanya ternyata bukan bisnis kelas teri pula. Akan ada\nkeinginan-keinginan lebih, yang biasanya menyimpang dari tujuan mulia sebagai\npejabat pemerintah atau elit politik atau wakil rakyat. Oleh karena itu\nkegiatan bisnis mereka dapat dikaitkan dengan alasan mereka maju ke\nperpolitikan, apakah untuk rakyat atau untuk yang lain. Dan juga terdapat\nfenomena bagi-bagi jabatan bagi para timses, juru kampanye dan sebagainya yang\nberperan dalam menangnya si calon, hal tersebut juga beraroma politik\nkepentingan. Dan itulah pembahasan menarik dari karya Watchdoc kali ini.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Jadi, penentu menangnya salah\nsatu pasangan calon ada di tangan para pemilih. Penentunya adalah rakyat.\nSecara idealnya memang rakyatlah penentu seperti apa pemimpin negara yang akan\ngenap berusia 74 tahun ini. Presiden kita nanti apakah dapat menjadi jalan\nkeluar atas apa yang terjadi jika dilihat dari sudut pandang film dokumenter\nini? atau ternyata menjadi pengusaha berkedok penguasa seperti yang sudah\ndibahas di beberapa paragraf di atas. Semua kemungkinan dapat terjadi, penguasa\nmemanfaatkan posisi untuk meraup rupiah sebanyak-banyaknya atau penguasa\nmemanfaatkan posisi untuk memberikan keadilan sosial bagi seluruh rakyat\nIndonesia, tidak ada yang tahu. Negara ini tetap berdiri kokoh selama rakyatnya\nbersatu teguh, ini Indonesia kita, dulu katanya tongkat, kayu dan batu jadi\ntanaman sekarang pun semoga masih sama dan tepat. Jangan sampai \u201cAda Udang di\nBalik Batu\u201d lagi untuk 5 tahun kedepan. Sekian.<\/p>\n\n\n\n<p>Penulis: M. Yusya Rahmansyah<\/p>\n\n\n\n<p>Penyunting: Neli.P<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ada Udang di Balik Batu. Mungkin itu peribahasa yang tepat dalam memaknai film dokumenter yang dirilis oleh tim Watchdoc. Satu tahun waktu yang dibutuhkan oleh tim Ekspedisi Indonesia Biru untuk menjelajah Indonesia dimulai dari Suku Baduy Dalam dan diakhiri di tempat di mana semua dimulai dan mendokumentasikan semua kegiatannya dalam bentuk karya jurnalistik. Film dokumenter [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":181,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[13],"tags":[],"class_list":["post-180","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-opini"],"aioseo_notices":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/180","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=180"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/180\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":182,"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/180\/revisions\/182"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/media\/181"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=180"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=180"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=180"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}