{"id":183,"date":"2019-05-24T04:23:22","date_gmt":"2019-05-24T04:23:22","guid":{"rendered":"https:\/\/gemercikmedia.com\/?p=183"},"modified":"2019-05-24T04:23:26","modified_gmt":"2019-05-24T04:23:26","slug":"mengapa-selalu-kartini","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/mengapa-selalu-kartini\/","title":{"rendered":"Mengapa (Selalu) Kartini?"},"content":{"rendered":"\n<p style=\"text-align:center\">Oleh : Erika Nofia Pransisca Permatasari<\/p>\n\n\n\n<p style=\"text-align:center\">Ilmu Politik 2017 <\/p>\n\n\n\n<p style=\"text-align:center\">Sumber Foto: Google <\/p>\n\n\n\n<p><em>Habis Gelap Terbitlah Terang<\/em>. Mungkin kalimat tersebut sudah tidak asing jika terdengar di telinga kita. Atau mungkin beberapa dari kalian yang membaca tulisan ini justru sudah pernah membaca bukunya? Yap, sebuah pepatah atau kalimat ungkapan tersebut merupakan judul sebuah buku. Jika ditanya, siapa penulisnya? Tentu sudah tidak perlu ditanyakan lagi. Bahkan nama Sang Penulis nya tersebar di mana-mana, judul lagu misalnya. Hingga tanggal lahir nya pun dijadikan salah satu hari besar nasional yang diperingati setiap tahun. Nama lengkapnya Raden Ajeng Kartini Djojo Adhiningrat atau yang kerap disapa R.A Kartini. Lahir pada 21 April 1879 atau tepat di hari ini Ia lahir 140 tahun yang lalu.<\/p>\n\n\n\n<p>Sebelum membahas lebih jauh mengenai sosok R.A Kartini, mari amati\nlebih jauh mengenai pahlawan-pahlawan wanita nasional. Seperti Dewi Sartika,\nCut Nyak Dhien, hingga Cut Meutia. Mereka juga merupakan wanita-wanita yang\ntidak kalah hebatnya dengan Kartini, yang turut berperang melawan Belanda\nselama hidupnya hingga wafat mengabdikan diri untuk melawan kolonial. Namun\nmengapa hanya Kartini yang hari lahirnya diperingati setiap tahun? Apa hanya\nKartini yang memperjuangkan emansipasi? Sebetulnya emansipasi bagaimana yang\nharus dibentuk? Bukankah di dalam Islam derajat wanita lebih tinggi dari pria?\nLalu persamaan hak apa yang diperjuangkan? Hingga Kartini saat ini selalu\nmelekat di hati masyarakat Indonesia.<\/p>\n\n\n\n<p>Padahal jauh sebelum Kartini dilahirkan, ada seorang pahlawan\nwanita yang hingga akhir hidupnya masih berjuang melawan Belanda sampai\ndiasingkan ke Sumedang. Ia adalah Cut Nyak Dhien, seorang pahlawan wanita yang\nberasal dari Aceh Besar dan dilahirkan pada 1848. Seorang anak perempuan dari\nturunan kalangan bangsawan, namun tidak pernah menghiraukan latar belakang\nkeluarganya dan tidak mengurangi semangatnya untuk melawan penjajah. Cut Nyak\nDhien yang kala itu berusia 25 tahun dibuat&nbsp;<em>naik pitam<\/em>&nbsp;oleh\npasukan Belanda yang tiba-tiba datang dan membakar Masjid Raya Baiturrahman\nmembuat Cut Nyak Dhien kemudian berteriak:<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cLihatlah wahai\norang-orang Aceh!! Tempat ibadat kita dirusak!! Mereka telah mencorengkan nama\nAllah! Sampai kapan kita begini? Sampai kapan kita akan menjadi Budak Belanda?\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Sejak saat itulah Cut Nyak Dhien selalu turun tangan dalam\npertempuran melawan Belanda. Setelah pernikahan keduanya dengan Teuku Umar pun\nIa tetap gigih berjuang. Hingga ketika Teuku Umar wafat, Cut Nyak Dhien&nbsp;<em>pasang\nbadan<\/em>&nbsp;menggantikan suaminya itu memimpin perlawanan melawan Belanda\nbersama pasukan kecilnya dan hancur pada 1901. Hingga Cut Nyak Dhien ditangkap\ndan dibawa oleh Belanda ke Banda Aceh untuk kemudian dibuang ke Sumedang. Di\nsanalah Cut Nyak Dhien yang menderita rabun tinggal dan menghabiskan sisa\nhidupnya, hingga wafat pada 6 November 1908. Melalui SK Presiden RI No.106\nTahun 1964 pada tanggal 2 Mei 1964 kemudian Cut Nyak Dhien ditetapkan sebagai\nPahlawan Nasional.<\/p>\n\n\n\n<p>Posisi Cut Nyak Dhien sebagai salah seorang pahlawan wanita yang\nmelekat kemudian tergeserkan oleh kehadiran R.A Kartini yang kemudian disebut\nsebagai pahlawan emansipasi. Perjuangan Kartini memang tidak dapat dipungkiri\nkehebatannya. Ia yang bercita-cita luhur karena ingin melihat perempuan pribumi\ndapat menuntut ilmu dan belajar seperti sekarang ini. Gagasan-gagasan baru\nmengenai emansipasi atau persamaan hak wanita pribumi, dan dianggap sebagai hal\nbaru yang dapat merubah pandangan masyarakat. Sejarah mengatakan bahwa Kartini\nhanya berjuang di dalam kamar, menulis berbagai surat yang ditujukan untuk\nteman wanita Belandanya, bahkan menuntut ilmu pun tidak diizinkan untuk pergi\nke Batavia ataupun kuliah di Negeri Belanda. Ia hanya diizinkan menjadi guru\ndan mendirikan sekolah wanita pertamanya setelah menikah. Setelah Kartini\nwafat, surat-suratnya dikumpulkan untuk kemudian dijadikan sebuah buku berjudul\n&#8220;Habis Gelap Terbitlah Terang&#8221; yang awalnya berbahasa Belanda.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Pemikirannya memang mengubah pola pikir masyarakat atas wanita\npribumi. Hal ini juga yang menginspirasi W.R Soepratman untuk membuat lagu\nberjudul &#8220;Ibu Kita Kartini&#8221; dan atas jasanya Ia diberi gelar Pahlawan\nKemerdekaan Nasional berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No.108\nTahun 1964, pada tanggal 2 Mei 1964. Hari lahirnya juga ditetapkan sebagai Hari\nKartini dan diperingati setiap tahunnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Setelah membaca lebih jauh, nampak jelas bahwa perjuangan Cut Nyak\nDhien tentu lebih besar dan berat karena turun langsung melawan Belanda.\nKartini hanya memperjuangkan emansipasi yang dia maksudkan adalah persamaan\nhak-hak wanita pribumi di mata Belanda. Dilihat lebih jauh lagi, Kartini yang\nhanya berjuang melalui cita-cita dan surat-suratnya di dalam kamar, mengalahkan\nseorang Cut Nyak Dhien yang mempertaruhkan nyawanya di hadapan Belanda. Sebagai\nkaum terpelajar, marilah kits cari tahu kembali pahlawan wanita mana saja yang\npatut dikenang jasa-jasanya selain Kartini. Tentu tidak pantas bagi kaum\nseperti kita mengingat pahlawan hanya ketika peringatan hari tertentu saja.\nBerpura-pura peduli dan mengunggahnya di sosial media. Padahal ketika ditanya\nsiapa pahlawan wanita selain Kartini pun masih bertanya pada&nbsp;<em>&#8216;Si\nGoogle&#8217;<\/em>&nbsp;yang serba tahu. Tidak ingatkah kalian pada salah satu kutipan\nseruan Bung Karno yang biasa disebut \u201cJas Merah\u201d atau kepanjangan dari Jangan\nSekali-kali Melupakan Sejarah? Coba ingat kembali, bahwa pahlawan nasional\nwanita bukan hanya R.A Kartini.<\/p>\n\n\n\n<p>Penyunting: Sri Hardiani<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh : Erika Nofia Pransisca Permatasari Ilmu Politik 2017 Sumber Foto: Google Habis Gelap Terbitlah Terang. Mungkin kalimat tersebut sudah tidak asing jika terdengar di telinga kita. Atau mungkin beberapa dari kalian yang membaca tulisan ini justru sudah pernah membaca bukunya? Yap, sebuah pepatah atau kalimat ungkapan tersebut merupakan judul sebuah buku. Jika ditanya, siapa [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":184,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[13],"tags":[],"class_list":["post-183","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-opini"],"aioseo_notices":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/183","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=183"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/183\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":185,"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/183\/revisions\/185"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/media\/184"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=183"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=183"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=183"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}