{"id":2223,"date":"2019-12-27T11:42:13","date_gmt":"2019-12-27T11:42:13","guid":{"rendered":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/?p=2223"},"modified":"2019-12-27T11:49:23","modified_gmt":"2019-12-27T11:49:23","slug":"toko-pinggir-jalan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/toko-pinggir-jalan\/","title":{"rendered":"Toko Pinggir Jalan"},"content":{"rendered":"\n<p>Oleh: Theda Dzar Ghifari Ankasa Mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Siliwangi Angkatan 2017 <\/p>\n\n\n\n<p>Layaknya angin badai\nyang kedatangannya tidak diharapkan, ia terus berjalan mencari belas kasih\norang yang masih peduli terhadap dirinya. Orang memanggilnya Surti, perempuan\ndesa&nbsp; berusia 25 tahun, mempunyai rambut\nyang lebat yang terlihat cocok dengan wajah cantiknya. Namun sayang, kejadian\nyang menimpanya membuat malu warga desanya, sehingga kehidupan Surti sudah\ntidak ada artinya lagi untuk warga setempat, yang ada hanyalah kebencian yang\ntertanam yang ditularkan ke warga lainnya.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cLihatlah,\nperempuan busuk itu. Pergi kau dari sini!\u201c<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cBiarkan saja perempuan\nitu. Biarkan dia mati kelaparan. Hari juga sudah mulai gelap, ia akan kesulitan\nmencari tempat untuk berlindung dari dinginnya malam desa ini.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Surti berjalan melewati\nrumah-rumah di desanya dengan harapan ada yang mau memberikan tempat untuk\nberlindung demi bisa bertahan hidup dalam dinginnya malam dan rasa lapar dalam\nperutnya. Namun yang didapat hanyalah tatapan tajam sinis yang seolah-olah\ntidak mengharapkan ia kembali ke desa kelahirannya ini.<\/p>\n\n\n\n<p>Semuanya berawal ketika\nSurti yang tidak tahan dengan kehidupan di desa dan berniat pergi untuk mencari\npekerjaan di kota, karena sang suami telah tiada akibat kecelakaan saat\nbekerja. Kehidupan pun berubah drastis, Surti bertanggung jawab penuh atas\nkehidupan keluarganya untuk menggantikan peran suaminya dengan bekerja.<\/p>\n\n\n\n<p>Dengan meninggalkan\nbibi dan adiknya yang masih menempuh pendidikan di SMA, Surti berniat berangkat\nke kota. Kedua orang tua Surti telah tiada, Surti hanya tinggal dengan bibi dan\nadiknya. Ia berniat pergi ke kota untuk mencari pekerjaan dengan tujuan\nmendapatkan uang yang bisa ia gunakan untuk keluarga kecilnya di desa. Ia pun\nberjalan meninggalkan desa setelah pamit dengan bibi dan adiknya menuju kota. <\/p>\n\n\n\n<p>Surti harus berjalan\ndari rumahnya ke jalan utama sekitar satu jam. Sesampainya di jalan utama, ia harus bersabar menunggu&nbsp; kendaraan umum antardesa yang terkadang lewat\ndan terkadang juga tidak ada sama sekali yang lewat untuk bisa ditumpangi\nmenuju kota. Setelah hampir satu jam menunggu, tak ada satu pun kendaraan umum\nyang lewat. <\/p>\n\n\n\n<p>Hingga akhirnya ada\nsebuah mobil pribadi yang berisi sepasang suami istri yang mobilnya berhenti di\nhadapan dirinya.&nbsp; Suami istri tersebut\nmenawarkan Surti tumpangan untuk ikut naik ke dalam mobilnya,<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cMau kemana mbak?\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cMau ke kota bu,\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cMari mbak ikut saya saja, kebetulan saya mau\nke kota.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Dengan senang hati ia\nmenerima tumpangan suami istri tersebut dan ikut bersama mereka. Dalam\nperjalanan mereka berbincang-bincang menanyakan perihal kepergiannya dari desa\nke kota.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cAnu bu, suami saya\nsudah meninggal. Saya mau menggantikan peran suami saya untuk bekerja.\nPekerjaan di desa penghasilannya sedikit, jadi saya pergi ke kota untuk\npenghasilan yang lebih baik,\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cOalah.. hebat sekali\nloh mba ini,\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cIya bu, terima kasih.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Jarak dari jalan utama\ntempat menunggu mobil ke pusat kota jika ditempuh dengan mobil sekitar empat\njam perjalanan. Beruntung sekali ada suami istri yang baik, yang\nmau menampungnya untuk pergi ke kota. Jika tidak, mungkin akan lebih lama jika\nmenggunakan mobil umum.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam perjalanan,\nmereka berhenti sejenak untuk beristirahat akibat perjalanan yang cukup jauh ke\nkota, mereka membeli makan dan minum di warung pinggir jalan yang\npemandangannya langsung mengarah ke sawah yang mulai tergusur oleh\nbangunan-bangunan perumahan. Dengan rasa letih akibat perjalanan yang\nmelelahkan, sang suami pun tak lama kemudian tidur di teras warung tersebut\ndengan dengkuran yang keras akibat lelahnya perjalanan, ia juga kelelahan\nkarena harus bekerja pada malam harinya, sehingga harus beristirahat dengan\ncukup agar staminanya\nkuat ketika bekerja pada\nmalam hari.<\/p>\n\n\n\n<p>Sang istri pun\ntiba-tiba memanggil Surti untuk menemaninya dan mengajak <em>ngobrol<\/em> sambil\nmemakan makanan ringan\nyang ia beli di warung tersebut.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cEmangnya mau kerja di mana mbak? Nanti tinggal sama siapa?\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cBelum tahu bu,\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cLoh kok\nbelum\ntahu?\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cSaya di kota gak punya kenalan toh bu, jadi\nbingung mau kerja di mana,\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cHidup di kota itu\nbahaya mbak\nkalo gak ada\nkenalan, orang-orangnya juga banyak yang hidup individual mbak,\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cIya toh bu,\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cTapi sebentar deh.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Ia pun beranjak dari\ntempat duduk seolah-olah mengingat akan sesuatu dan menelpon kakaknya yang berada di kota dan\nmenanyakan tentang lowongan pekerjaan yang dibuka kakaknya apakah masih ada\natau tidak.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cHallo mas,\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cIya de, ada apa?\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cLowongan kerjaan di\ntoko masih buka gak mas? Ini\nloh, aku bawa perempuan, umurnya masih muda, sekitar 25 tahunan, lagi nyari\npekerjaan, kasian mas,\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cMasih ada de, bawa\nsaja dia ke toko. Kebetulan mas lagi di toko,\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cOawalah oke mas.\nMakasih.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Ia pun segera\nmenghampiri Surti seolah-olah mendapatkan kabar baik dan menawarkan pekerjaan itu\nkepada Surti. <\/p>\n\n\n\n<p>\u201cGini loh mbak, di kota, kakakku punya toko baru belum ada\npegawainya. Kebetulan mbak\nlagi nyari pekerjaan kan? Saya mau menawarkannya,\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cIya toh bu?\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cIya mba, gajinya juga\nlumayan, 2 juta sebulan. Mau <em>ngga<\/em> mba?\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cSaya sih mau bu. Tapi saya\nbingung nanti tidur di mana,\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cTenang <em>aja<\/em>,\nnanti saya belikan bantal dan kasur untuk mbak. Untuk sementara tidur di toko\ndulu <em>aja<\/em>, gimana?\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cDi toko juga sudah ada\ntoiletnya, warung makan juga <em>gak<\/em> jauh <em>kok<\/em><em>,<\/em>\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cWaah.. ya sudah bu saya terima pekerjaannya.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Ia pun mengucapkan\nbanyak terima kasih karena telah bertemu keluarga yang baik, yang mau\nmembantunya untuk mencari pekerjaan dan menghidupi keluarganya di desa.<\/p>\n\n\n\n<p>Perjalanan pun\ndilanjutkan setelah sang suami bangun dari tidurnya. Sang istri pun bercerita\ntentang apa yang terjadi saat ia tidur. Sang suami pun langsung melaju\nmelanjutkan perjalanan ke kota, menuju toko untuk menemui kakak sang istri.<\/p>\n\n\n\n<p>Setelah perjalanan yang cukup jauh, akhirnya\nsampai juga di wilayah perkotaan. Surti pun terkagum-kagum melihat pemandangan\nyang sangat berbeda dengan di desa, seperti gedung-gedung yang menjulang\ntinggi, jalanan yang macet oleh kendaraan, dan teriknya cuaca di kota akibat\nkurangnya pepohonan.<\/p>\n\n\n\n<p>Tak lama kemudian\nsampailah di toko sang kakak yang letaknya berada tak jauh dengan pintu masuk\ntol. Surti pun bertemu lalu berbincang-bincang dengan kakak dari perempuan yang\nmemberinya tumpangan ke tempat ini. Surti pun sepakat untuk bekerja dan tinggal\nsementara di sini.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cKerjaannya mudah <em>kok<\/em> mbak, cuma <em>ngejagain<\/em> toko ini.\nKalau ada yang beli yaa dilayani, ini <em>list<\/em> daftar harga-harganya\nsilahkan mbak\nhafalkan,\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cToko ini nanti lusa kalau bisa mulai buka ya, jangan lupa\ndibersihkan terlebih dahulu,\u201d <\/p>\n\n\n\n<p>\u201cBaik mas, terima kasih\nbanyak sebelumnya.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Ia pun mengucapkan\nbanyak terima kasih pada pemilik toko karena sudah memberinya tempat tinggal\ndan pekerjaan sebagai penjaga toko dengan gaji yang lumayan.<\/p>\n\n\n\n<p>Toko pun mulai buka,\nmenjual bermacam-macam barang-barang rumah tangga, perabotan dapur, beras,\nminyak, rokok, aneka minuman, dan makanan\nringan layaknya sebuah minimarket.&nbsp; Para\npelanggan pun mulai berdatangan, mulai dari warga sekitar yang ingin berbelanja\nhingga mobil-mobil yang pengemudinya beristirahat dahulu untuk ngopi dan\nmerokok sebelum memasuki tol.<\/p>\n\n\n\n<p>Hari-hari terus\nberganti. Setiap bulan ia mengirimkan hasil kerjanya untuk bibi dan adiknya di\ndesa. Uang di transfer ke nomor rekening\nbibinya untuk keperluan kehidupan keluarganya di desa.<\/p>\n\n\n\n<p>Surti pun merasa\npekerjaannya mulai membosankan dengan gaji yang sebagian besar ia kirim untuk\nkeluarganya dan ia hanya mendapatkan sebagian kecilnya\nsaja untuk hidup di kota yang serba mahal ini. Surti pun mulai berpikir untuk mencari pekerjaan\nlain, tapi ia kebingungan karena tidak memiliki kenalan di kota ini.<\/p>\n\n\n\n<p>Suatu hari ada pembeli\nyang datang ke toko dengan menggunakan baju yang terlihat mahal, menggunakan\nmobil pejabat berplat warna merah yang mampir membeli rokok dan minuman ke\ntoko, saat akan membayarnya ia melihat Surti dengan tatapan yang berbeda.\nSeolah-olah ada yang aneh pada diri Surti.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cBerapa mbak?\u201d <\/p>\n\n\n\n<p>\u201cTotalnya 30 ribu pak,\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cIni mbak uangnya 100 ribu,\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cKalau mbanyak berapa ya?\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cMaksudnya apa ya pak? Saya\n<em>ga<\/em><em>k<\/em><em>\n<\/em>ngerti.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Orang tersebut ternyata\ntertarik terhadap kecantikan Surti, ia berharap bisa mendapatkan Surti dengan\nmenawarkan uang yang ia punya.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201c<em>Ga<\/em><em>k<\/em>\nusah\npura-pura mbak,\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cMbak butuh berapa?\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>\u201c300 ribu? 400 ribu?\natau berapa ribu dalam semalam?\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cMau?\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Surti pun paham apa\nyang dimaksud pria tersebut,\ntanpa pikir panjang karena kebutuhan yang diperlukannya untuk hidup di kota\nyang serba mahal dan ia tidak mempunyai kerabat lain untuk mencari pekerjaan\nlain di kota\nini, ia pun menjawab apa yang dimaksud oleh pria tersebut\nlalu bernegosiasi tentang harga dengannya. <\/p>\n\n\n\n<p>Setelah mencapai\nkesepakatan mengenai harga dan tempat, yang ternyata tempat yang dipilih adalah\ntoko ini, karena sudah terdapat kasur dan toilet, serta jauh dari keramaian\npusat kota. Pria itu pun berjanji malam ini akan datang ke sini\nlagi untuk menemuinya.<\/p>\n\n\n\n<p>Toko pun tutup lebih\nawal pada pukul sembilan malam, untuk mempersiapkan tempat yang akan digunakan sebagai\ntempat bermain dengan pejabat \u2018nakal\u2019 itu. Toko yang sudah dipercayakan\nuntuk dijaga oleh pemilik toko, akan dijadikan tempat yang tidak semestinya.\nKasur yang diberikan oleh perempuan yang membantu memberinya pekerjaan\ndigunakan untuk melayani predator berdasi yang sedang kelaparan yang baru ia\ntemui tadi siang.<\/p>\n\n\n\n<p>Pejabat itu pun\ndatang malam itu, menggunakan sepeda motor klasik dengan\ntujuan agar tidak ada yang mengetahui bahwa ia adalah seorang pejabat. Ia pun\nmasuk ke dalam toko dan disambut Surti yang sudah menggunakan rok pendek dengan\ndada yang terbuka, ia berpenampilan tidak seperti biasanya di depan orang yang\nbaru ia kenal. Malam\nitu Surti berdandan sangat cantik demi memuaskan nafsu pelanggannya, ia rela\nmerelakan harga dirinya agar mendapatkan pundi-pundi uang.<\/p>\n\n\n\n<p>Ronde pertama pun\ndimulai, di atas kasur yang sudah diganti spreinya dan ruangan yang sudah harum\ndiberi pewangi agar meminimalisasi bau keringat yang bercucuran pada malam\nkelam itu. Sambil meminum alkohol yang pejabat itu berikan, Surti pun melayani\npejabat itu secara perlahan serta menyetel suara musik yang keras untuk meredam\njeritan.<\/p>\n\n\n\n<p>Malam itu pun\nberakhir dengan hebat. Pejabat itu pun pamit sebelum\nmatahari terbit dengan memberikan uang yang sudah disepakati sebelumnya. Ia pun\nberjanji akan datang lagi di lain waktu.<\/p>\n\n\n\n<p>Seperti hari-hari\nbiasanya, toko pun setiap pagi buka kembali untuk menjual berbagai macam\nbarang. Pemilik toko pun selalu mengecek setiap seminggu sekali keadaan toko\ntersebut. Ia sangat puas terhadap kerja Surti yang bersih, rapi,\ndan maksimal dalam bekerja. Barang-barang yang terjual pun uangnya sesuai\ndengan barang yang terjual.<\/p>\n\n\n\n<p>Entah mendapatkan kabar\ndari mana, toko pun setiap harinya\nbertambah ramai oleh pelanggan-pelanggan yang \u2018nakal\u2019. Banyak pelanggan toko yang\nkembali menanyakan hal yang sama seperti yang dilakukan pejabat waktu itu.\nRasanya pejabat itu mempunyai banyak kenalan yang mempunyai kebutuhan yang sama\ndengan dirinya dan merekomendasikan mengenai tempat ini. <\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;Malam-malam itu pun terulang kembali, bahkan\ndalam seminggu terkadang Surti bisa melayani beberapa orang yang datang ke\ntoko. Dengan melihat terlebih dahulu latar belakang pelanggannya untuk dapat\nmenentukan harga yang dipasangnya saat itu.&nbsp;\n<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cMalam ini kosong?\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cMaaf mas, sudah ada\njanji dengan orang lain, lusa saja gimana?\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cOalah, oke deh.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Toko itu pun menjadi terkenal, pada pagi dan\nsiang hari seperti toko biasa pada umumnya, namun saat malam hari toko itu\nadalah tempat untuk orang-orang yang mencari kepuasan dengan meninggalkan istri\ndan anaknya demi orang lain.<\/p>\n\n\n\n<p>Surti sadar bahwa\ndirinya sekarang adalah seorang pelacur, bibi dan adiknya di desa tidak\nmengetahui kehidupan Surti yang sesungguhnya di kota seperti apa. Mereka hanya\nmengetahui bahwa ia bekerja di sebuah toko dan selalu mengirimkan hasil\npekerjaannya ke bibinya dengan tepat waktu tiap bulannya. Surti sampai berani\nterjun ke kehidupan yang kelam seperti ini, demi kebutuhan keluarga dan dirinya agar dapat terpenuhi.<\/p>\n\n\n\n<p>Pada suatu hari Surti\nmendapatkan sebuah pelanggan yang berjanji akan membayarnya dengan uang yang\nlebih besar dari biasanya, ia pun mengiyakan ajakan tersebut untuk malam ini.\nMalam harinya ia berdandan terlebih dahulu seperti biasa, agar pelanggan puas dengan\napa yang akan didapatkannya. Ternyata yang datang adalah mobil polisi dengan suara\nsirinenya yang nyaring, membuat Surti ketakutan. Mereka sudah mengintai toko\ntersebut sejak beberapa hari sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cJangan bergerak, diam\ndi tempat.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Ternyata pelanggan yang\ndatang saat siang hari adalah polisi yang menyamar, mereka mendapatkan\ninformasi tempat ini dari masyarakat, bahwa toko pinggir jalan ini menjadi\ntempat bermain pada malam hari. Surti pun malam itu ikut dibawa ke kantor\npolisi untuk dimintai keterangan. <\/p>\n\n\n\n<p>Esok harinya sang\npemilik toko datang ke kantor polisi setelah dihubungi oleh polisi atas\nkejadian semalam, ia mengaku sangat terkejut dengan apa yang terjadi dan tidak\nmempercayai apa yang telah dilakukan Surti. Pemilik toko lalu menceritakan semuanya\nkepada adiknya yang saat itu membawa Surti ke tokonya. Adiknya pun sangat\nterkejut, ia tidak percaya bahwa Surti yang dilihatnya adalah perempuan yang\nbaik ternyata malah sebaliknya.<\/p>\n\n\n\n<p>Surti pun sambil\nmenangis menyesali perbuatannya dan meminta maaf kepada pemilik toko serta\nperempuan yang telah memberinya pekerjaan\ndan\nmemberi tempat tinggal. <\/p>\n\n\n\n<p>\u201cMaafkan saya pak,\nmaafkan perbuatan saya,\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cSaya sudah\nmengecewakan bapak, yang mau menerima saya dan memberikan pekerjaan di toko,\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cSudah tidak apa-apa\nmbak,\nsemoga kamu bisa mengambil pelajarannya dari kejadian ini.\u201d <\/p>\n\n\n\n<p>Toko pinggir jalan itu\nakhirnya ditutup, pemilik toko pun\nbergegas membersihkan barang-barang tokonya untuk dipindahkan ke tempat lain,\nserta berniat menjual toko tersebut. Toko tersebut ternyata bisa laris karena\nterdapat seorang pelacur yang cantik di\ndalamnya.\n<\/p>\n\n\n\n<p>Polisi pun\nmemberitahukan kejadian yang menimpa Surti kepada bibinya di desa melalui\ntelepon, bibinya pun sangat terkejut dan <em>syok<\/em> mendengar berita tersebut.\nIa merasa tidak percaya apa yang dikatakan polisi dan berniat datang langsung\nke kantor polisi untuk memastikannya.<\/p>\n\n\n\n<p>Esoknya,\nbibi serta adiknya datang untuk menjenguk Surti yang masih terdapat di kantor\npolisi, mereka pun menangis histeris karena memang benar itu adalah Surti.\nSurti pun menyesali perbuatannya dan meminta maaf karena tidak memberitahukan\nkepada\nmereka tentang kehidupan sesungguhnya yang ia jalani di kota. Itu semua demi\nmembahagiakan mereka agar kehidupannya bisa terpenuhi di desa.\n<\/p>\n\n\n\n<p>Yang lebih mengejutkan\nlagi, setelah polisi melakukan pemeriksaan, mereka memberitahukan bahwa Surti\nmenderita gejala HIV akibat berhubungan badan dengan\norang-orang yang menggunakan jasa dirinya. Hal ini membuat bibinya kembali\nmenangis dan merasa kecewa dengan apa yang terjadi terhadap Surti.<\/p>\n\n\n\n<p>Surti pun ditahan\nsementara untuk dimintai keterangan oleh polisi dan menjalani beberapa sidang\ntentang kasusnya. Surti pun dibebaskan dalam beberapa hari setelah keterangan\nsudah didapatkan semuanya. Karena di dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana\n(KUHP) tidak ada pasal yang dapat menjerat seorang Pekerja Seks Komersial\n(PSK). Ketentuan KUHP hanya dapat digunakan untuk menjerat penyedia PSK atau\nbiasa disebut muncikari.<\/p>\n\n\n\n<p>Surti pun setelah\ndibebaskan langsung pergi kembali ke desanya, ia pun datang tanpa membawa\napa-apa selain\nperasaan malu dengan apa yang terjadi pada dirinya. Warga desa pun telah\nmengetahui kasus yang terjadi terhadap Surti, akibat mendengar berita dari\nbeberapa warga yang tahu akan kejadian yang menimpa Surti.<\/p>\n\n\n\n<p>Warga pun sepakat bahwa\nSurti sudah tidak layak lagi tinggal di desa, akibat berita yang tersebar\ntentang dirinya yang membuat warga desa setempat malu dan penyakit yang\ndideritanya menjadi ketakutan warga desa tersebut. Hal ini karena warga desa\ntidak mengetahui bahwa penyakit ini tidak akan menular jika hanya dengan\nbersentuhan dan bertatap secara langsung. Minimnya informasi tentang penyakit HIV\ndi desa tersebut membuat Surti semakin dibenci, mereka tidak mengetahui bahwa penyakit\nHIV hanya bisa ditularkan melalui perilaku seksual dan penggunaan jarum suntik.<\/p>\n\n\n\n<p>Surti pun diusir keluar\ndari desa, bibi dan adiknya pun tidak bisa berbuat apa-apa karena mereka pun\ndiancam akan diusir oleh warga jika membantunya. Surti pun akhirnya kembali\nberjalan meninggalkan desa, dengan masih berharap ada warga desa yang\nmembantunya. Dengan perut yang lapar dan hari sudah mulai gelap ia tetap\nberjalan pergi meninggalkan desa. Surti pun harus kembali berjalan ke jalan\nutama yang sebelumnya ia lalui, sekitar satu jam Surti berjalan menuju jalan\nutama&nbsp; dan harus menunggu mobil yang mau\nmemberikannya tumpangan, karena saat malam hari sudah tidak ada kendaraan umum\nyang akan lewat.&nbsp; Surti pun berjalan dan\nterus berjalan, ia tidak mempunyai tujuan mau kemana dan pada siapa ia akan\ntinggal. Dengan posisi perut kelaparan dan dinginnya cuaca malam, ia berpikir\nakan mati saja malam ini. <\/p>\n\n\n\n<p>Namun, dari\nkejauhan ada sebuah mobil yang berjalan melintasi jalan tersebut dengan pelan,\nia pun segera melambaikan tangannya untuk memberikan tanda bahwa ia butuh\ntumpangan. Mobil pun datang menghampiri dan berhenti di depannya, kaca mobil\npun dibuka oleh pengendara mobil tersebut. Surti pun kaget, karena pengemudinya\nadalah pria yang waktu itu bersama istrinya menawarkan tumpangan kepada\ndirinya. Tetapi hari ini pria tersebut mengemudi sendiri, tidak bersama\nistrinya. Pada awalnya Surti enggan menaiki mobil itu, karena merasa tidak enak\nkarena ia telah mengecewakan orang baik sepertinya. Yang membuat Surti terkejut\nadalah kata-kata\nyang pria itu ucapkan kepadanya.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cBerapa mbak?\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Surti pun terdiam\nsejenak memikirkan pertanyaan yang terlontar dari pria tersebut, seolah-olah\ntidak percaya orang baik yang ia temui ternyata memiliki kebutuhan lain yang\ntidak diketahui istrinya. Ternyata mobil tersebut sengaja melaju dengan pelan\nkarena mencari perempuan yang sedang menunggu di pinggir jalan. Dengan kondisi\nperut yang lapar dan cuaca malam yang dingin Surti pun menjawab pertanyaan pria\nitu <\/p>\n\n\n\n<p>\u201c300 ribu sudah\ntermasuk tempat tidur dan makan malam,\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cBaiklah,\nayo cepat naik.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Surti pun melakukan\nkembali hal yang sama seperti yang ia lakukan sebelumnya, ini terjadi karena\nkebutuhan untuk hidup yang sulit. Menjadi seorang pelacur merupakan pekerjaan\nyang sangat luar biasa. Jika kita melihatnya dari sudut\npandang yang berbeda, orang-orang selalu memandang rendah pekerjaan ini, mereka\nhanya merasa dirinya lah\nyang paling benar. Namun, akan berbeda hal jika\nseseorang menjadi pelacur karena alasan kebutuhan ekonomi yang terus meningkat\ndan sulitnya mencari pekerjaan yang upahnya layak, lalu apa salahnya jika\nseseorang menjadi palacur, yang tujuannya sama dengan pekerjaan lain yaitu\nuntuk memenuhi kebutuhan keluarga dan dirinya sendiri agar\nlebih baik. Jangan hanya bisa memberikan komentar yang negatif serta\nmerendahkan pekerjaan orang lain tanpa memberikan solusi yang matang, jauh di belakang\nhal tersebut,\nmereka juga memiliki banyak kebutuhan yang harus mereka penuhi.<\/p>\n\n\n\n<p>Memang benar sekali jika ada yang mengatakan menjadi pelacur bukanlah pekerjaan yang baik, pekerjaan ini memang perlu menjadi perhatian semua pihak dan perlu diberikan edukasi yang lebih agar para pelacur itu sadar mendapatkan uang dengan cepat dengan cara yang salah seperti itu mempunyai risiko yang besar di belakangnya. Jangan jauhi orang-orangnya, tetapi bantulah mereka untuk mencari solusi apa yang dibutuhkannya. <\/p>\n\n\n\n<p>Penyunting : Tim Editor<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Theda Dzar Ghifari Ankasa Mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Siliwangi Angkatan 2017 Layaknya angin badai yang kedatangannya tidak diharapkan, ia terus berjalan mencari belas kasih orang yang masih peduli terhadap dirinya. Orang memanggilnya Surti, perempuan desa&nbsp; berusia 25 tahun, mempunyai rambut yang lebat yang terlihat cocok dengan wajah cantiknya. Namun sayang, kejadian yang menimpanya [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":2224,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[165],"tags":[],"class_list":["post-2223","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-sastra"],"aioseo_notices":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2223","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2223"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2223\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2229,"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2223\/revisions\/2229"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2224"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2223"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2223"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2223"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}