{"id":2226,"date":"2019-12-27T11:49:08","date_gmt":"2019-12-27T11:49:08","guid":{"rendered":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/?p=2226"},"modified":"2019-12-27T11:49:08","modified_gmt":"2019-12-27T11:49:08","slug":"amerika-china-sedang-tidak-mesra-imbas-ke-ekonomi-indonesia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/amerika-china-sedang-tidak-mesra-imbas-ke-ekonomi-indonesia\/","title":{"rendered":"Amerika-China Sedang Tidak Mesra, Imbas ke Ekonomi Indonesia?"},"content":{"rendered":"\n<p>Ekonomi akan selalu\nmenjadi topik menarik dalam perbincangan setiap negara di belahan dunia manapun.\nSeperti melakukan pengukuran kesejahteraan suatu negara dapat diketahui dengan\ntingkat pertumbuhan ekonomi di negara tersebut. Tidak hanya itu, dengan ekonomi suatu negara dapat\nmengatur rumah tangganya dalam memproduksi barang yang menjadi unggulan di\nsuatu negara. Walaupun begitu, pada dasarnya setiap negara memiliki\nketerbatasan-keterbatasan untuk memenuhi kebutuhan dalam negerinya, sehingga\nsetiap negara seharusnya melakukan kegiatan impor barang yang tidak dapat\ndiproduksi oleh negaranya. Sebaliknya, negara tersebut harus melakukan ekspor\nbarang yang telah menjadi barang unggulan di\nnegaranya\nagar menambah devisa dan menggenjot pertumbuhan perekonomian negara tersebut.\nSehingga dapat dikatakan bahwa dalam hal ini negara perlu melakukan perdagangan\ninternasional untuk menutupi kebutuhan dalam negeri, meningkatkan kemakmuran\nsuatu negara hingga membuat hubungan baik antar negara yang berpartisipasi.<\/p>\n\n\n\n<p>Namun, apa jadinya bila\nnegara-negara penguasa ekonomi dunia yakni negara \u201cAdidaya\u201d dan negeri \u201cTirai Bambu\u201d malah sedang tidak mesra? Mereka\nsaling senggol-menyenggol ketika melakukan perdagangan internasional dengan\nmemainkan tarif bea masuk di negaranya masing-masing. Dampak saling balas tarif\nini mengakibatkan pertumbuhan ekonomi di Amerika Serikat dan China yang sedang\nsama-sama tersakiti ini\nmenurun.\nPerekonomian Amerika Serikat tumbuh melambat akibat menurunnya ekspor dan\ninvestasi non residensial.\nPertumbuhan ekonomi Eropa, Jepang, China, dan\nIndia juga lebih rendah dipengaruhi penurunan kinerja sektor eksternal serta\npermintaan domestik. Kondisi ini juga berpengaruh pada ekonomi global yang\ndapat mengalami kemerosotan sebesar 0,8 persen pada tahun 2020 nanti, jika\nbesaran tarif yang sudah berlaku atau telah sah diumumkan oleh kedua negara\ntersebut. Lalu bagaimana dengan perekonomian di Indonesia, akankah terkena imbas atas perang dagang ini?<\/p>\n\n\n\n<p>Perang dagang yang terjadi\npada dua negara penguasa ekonomi ini bermula pada awal 2018 setelah Amerika\nmemberlakukan tarif pada mesin cuci dan panel surya yang berasal dari China.\nPada tanggal 8 Maret 2018 Donald Trump mengumumkan pengenaan tarif 25% pada\nimpor baja dan 10% pada alumunium dari sejumlah negara. Kemudian pada tanggal\n22 Maret 2018 Trump menangguhkan tarif untuk beberapa negara, tapi\ntidak untuk China. Hal ini\nmengakibatkan mulai terjadi percikan api antara Amerika dan\nChina. China merespon dengan daftar 128 produk milik Amerika Serikat yang akan\ndikenakan bea masuk ke China sebesar 15-25% jika ternyata negosiasi yang\ndilakukan kedua negara tersebut gagal. <\/p>\n\n\n\n<p>Bulan berikutnya,\ntepatnya 19 Mei 2018 kedua negara mengumumkan rancangan kesepakatan, China\nsetuju untuk mengurangi surplus perdagangannya secara signifikan. Berlanjut\nhingga tanggal 6 Juli dengan mengenakan bea 25% atas impor China senilai US$ 34\nmiliar dilakukan negeri Paman Sam, termasuk mobil, <em>hard disk<\/em>, dan suku cadang pesawat. Atas hal tersebut China\nmengenakan tarif dengan ukuran dan cakupan yang sama, termasuk produk\npertanian, mobil, dan produk kelautan. Tidak berhenti di sana, pada tanggal 23 Agustus mengenakan\ntarif pada barang Cina senilai $16 miliar. Selanjutnya Cina menerapkan tarif\n25% untuk barang-barang Amerika senilai US$ 16 miliar, termasuk sepeda motor\nHarley Davidson, Bourbon, dan jus jeruk. Selanjutnya, pada tanggal 24 September\n2018 Amerika memberikan pajak 10% atas impor China senilai US$ 200 miliar.\nChina pun mengenakan bea masuk atas produk-produk Amerika Serikat senilai US$\n60 miliar. Berlanjut pada 1 Desember 2018 menunda selama tiga bulan rencana\nkenaikan tarif menjadi 25% dari 10% yang dimulai 1 Januari 2019 dengan barang\nChina senilai US$ 200 miliar. Kemudian, China setuju untuk membeli sejumlah\nproduk Amerika yang sangat substansial dan menangguhkan tarif tambahan yang\nditambahkan ke mobil dan suku cadang buatan Amerika selama tiga bulan mulai 1\nJanuari. <\/p>\n\n\n\n<p>Berlanjut di tahun 2019\ntepatnya pada 10 Mei, Washington mengakhiri gencatan senjata dengan\nmeningkatkan bea masuk atas impor China senilai US$ 200 miliar. Pada 15 Mei, Trump membuka <em>front<\/em> baru dalam perang, melarang\nperusahaan Amerika menggunakan peralatan telekomunikasi asing yang ditujukan\npada raksasa Tiongkok yakni Huawei. Kemudian 20 Mei, kementerian perdagangan Amerika\nmengeluarkan penangguhan hukuman 90 hari atas larangan tersebut. Selanjutnya,\ndi tanggal 1 Agustus, Trump mengumumkan\ntarif baru 10% untuk barang-barang China senilai US$ 300 miliar mulai 1\nSeptember (sekitar setengah dari tarif itu kemudian ditangguhkan hingga 15\nDesember). Pada tanggal 5 Agustus China memungkinkan Yuan jatuh di bawah 7,0 poin terhadap dolar Amerika\nuntuk pertama kalinya dalam 11 tahun. &nbsp;Hingga pada 23 Agustus China mengenakan tarif\nbaru pada barang-barang Amerika Serikat sebesar 5-10% yang mulai berlaku pada 1\nSeptember dan 15 Desember, bersamaan dengan tarif Amerika Serikat yang baru.\nTrump mengumumkan tarif yang direncanakan atas barang-barang China senilai US$\n300 miliar dinaikkan\nmenjadi 15% mulai dari 1 September, serta kenaikan tarif yang ada dari 25%\nmenjadi 30% mulai 1 Oktober. Amerika mulai memberlakukan tarif impor 15% untuk barang-barang\nChina seperti alas kaki, jam tangan pintar, hingga televisi layar datar yang\nberlaku pada 1 september 2019. Atas dasar tersebut China kemudian membalas\ndengan cara mengenakan tarif baru untuk minyak mentah Amerika, hal ini menjadi\nkali pertama bahan bakar menjadi target perang dagang antara China dan Amerika.<\/p>\n\n\n\n<p>Untuk mempertahankan\nhak-hak hukumnya sesuai dengan aturan WTO, dengan tegas China melakukan gugatan\nterhadap Amerika melalui WTO. Alhasil,\ngugatan tersebut mendapatkan izin dari organisasi perdagangan dunia, untuk\nmenjatuhkan sanksi sebesar US$ 3,6 miliar terhadap Amerika yang mengawali\nperang tarif antara kedua negara. Angka tersebut merupakan sekitar setengah\ndari yang diminta oleh negeri Panda, yang memiliki pendapat bahwa beberapa aturan\nanti <em>dumping<\/em> Amerika Serikat adalah\nilegal.<\/p>\n\n\n\n<p>Menanggapi hal ini,\nAmerika berpendapat bahwa mereka tengah menghukum China yang dituduh telah\nmelakukan pencurian kekayaan intelektual. Kemudian, akibat lebarnya defisit\nperdagangan antara kedua negara. Amerika melakukan pembelaan tertulis yang\nmenyatakan bahwa kedua negara telah sepakat tidak membawa \u2018perang dagang\u2019 ke\nWTO. Menurutnya China telah mengambil keputusan sepihak dan agresif, mencuri atau dengan cara tidak\nadil memperoleh teknologi dari mitra dagang di negeri Paman Sam tersebut. Tidak hanya itu, Amerika bergeming dengan\nmengatakan bahwa tindakan pemerintahnya tersebut bertujuan untuk melindungi\nindustri di dalam negeri. <\/p>\n\n\n\n<p>Dampak yang ditimbulkan\ndari adanya perang dagang duo negara penguasa ekonomi ini sudah cukup terasa di\nChina dan Amerika Serikat. Dampak yang di eluh-eluhkan dari peristiwa ini\nadalah mengancam pertumbuhan ekonomi dunia, bahkan menjerumuskan ke dalam\nresesi. Dikutip pada laman <em>CNN Indonesia<\/em>\n(8\/8) perkiraan peluang terjadinya resesi ekonomi global meningkat sebesar 40%\nhingga 50% untuk satu tahun hingga 1,5 tahun ke depan,\nungkap kepala ekonom Moody\u2019s Analytics untuk Asia Pasifik Steve Cochrane dalam\nrisetnya yang berjudul <em>\u2018Living on the\nThail Risk\u2019<\/em>. <\/p>\n\n\n\n<p>Akibat pelemahan\nekonomi dunia, Indonesia ikut terkena imbas\nsepanjang\n2019 yang terjadi akibat harga komoditas yang melemah dan volume perdagangan\nmenurun yang dipicu oleh permintaan pasar ekspor yang lesu. Hal tersebut\nberimbas pada defisit transaksi berjalan yang kian melebar. <\/p>\n\n\n\n<p>Perang dagang dua negara penguasa ekonomi,\nterbukti dengan saling balas tarif bea masuk antar kedua negara tersebut. Kekhawatiran\ndunia akan hal ini semakin menjadi-jadi dengan melemahnya perekonomian global\nhingga tersungkur. Negara-negara besar pun ikut terkena imbas akan hal ini, tak\nterkecuali Indonesia. Pelemahan ekonomi di negara katulistiwa ini ikut terkena\nimbas, dengan mendapat dua hantaman sekaligus. Untuk menghadapi ke-<em>galau<\/em><em>&#8211;<\/em>an\nakan hal ini, salah satu strategi yang bisa ditanamkan adalah pemerintah fokus\nuntuk mengelola permintaan dalam negeri, hal ini diyakini dapat meminimalisir\ndampak dari pengaruh eksternal. Kemudian dengan adanya perang dagang,\ndiharapkan investor akan mencabut investasinya di negara\nyang sedang berkonflik dan menanamkan sahamnya pada negara dengan kondisi\npolitik dan ekonomi stabil. Atas dasar tersebut, pemerintah Indonesia perlu\nmempermudah investor yang akan berinvestasi di tanah air guna meningkatkan daya\ntarik dan daya saing Indonesia di antara negara kawasan. Hal ini dipercaya\ndapat menjadikan Indonesia sebagai negara tujuan untuk investasi. Selain itu, Bank\nIndonesia harus tetap mempertahankan kebijakan moneter akomodatif, dengan\nadanya kebijakan ini diharapkan bank dapat memberikan kredit ke sektor riil\nsupaya pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat terus naik. <\/p>\n\n\n\n<p>Kontributor: Anisa tw<\/p>\n\n\n\n<p>Penyunting : Tim Editor<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ekonomi akan selalu menjadi topik menarik dalam perbincangan setiap negara di belahan dunia manapun. Seperti melakukan pengukuran kesejahteraan suatu negara dapat diketahui dengan tingkat pertumbuhan ekonomi di negara tersebut. Tidak hanya itu, dengan ekonomi suatu negara dapat mengatur rumah tangganya dalam memproduksi barang yang menjadi unggulan di suatu negara. Walaupun begitu, pada dasarnya setiap negara [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":2227,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[25],"tags":[],"class_list":["post-2226","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"aioseo_notices":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2226","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2226"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2226\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2228,"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2226\/revisions\/2228"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2227"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2226"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2226"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2226"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}