{"id":2283,"date":"2020-01-24T07:46:05","date_gmt":"2020-01-24T07:46:05","guid":{"rendered":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/?p=2283"},"modified":"2020-01-24T07:46:12","modified_gmt":"2020-01-24T07:46:12","slug":"kesultanan-selacau-warisan-padjadjaran-yang-diakui-dunia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/kesultanan-selacau-warisan-padjadjaran-yang-diakui-dunia\/","title":{"rendered":"Kesultanan Selacau: Warisan Padjadjaran yang Diakui Dunia"},"content":{"rendered":"\n<p><strong>Gemercik News-Tasikmalaya.\n<\/strong>Pada awal tahun 2020, Indonesia tengah diramaikan dengan fenomena\nkemunculan keraton dan kekaisaran di Indonesia. Setelah Keraton Agung Sejagat di Purworejo dan Sunda <em>Empire<\/em> di Bandung, kini\nKesultanan Selacau Patra Kusuma yang berlokasi di Kampung Nagara Tengah,\nDesa Cibungur, Kecamatan Parungponteng, Kabupaten Tasikmalaya pun ikut viral. Keraton ini didirikan\npada tahun 2004 dan dipimpin oleh Sultan Raden Rohidin Patrakusumah VIII yang\nmengaku sebagai keturunan ke-9 Raja Padjajaran Surawisesa. <\/p>\n\n\n\n<p>Dadang Setiawan selaku\npengawal kesultanan membenarkan bahwa keberadaan Keraton Selacau ini telah ada\nsejak dulu. Namun, menurut beliau, dikarenakan kondisi ekonomi, Kesultanan Selacau\nini baru didirikan pada tahun 2004.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201c(Pada tahun) 2004 baru\n(menjadi) awal berdiri (Keraton Selacau ini) karena mungkin (disebabkan oleh) faktor\nekonomi. Dari dulu juga sudah ini (ada), (tetapi) karena terbentur ekonomi,\njadi, makanya (tahun) 2004 baru (berdiri). Kebetulan Pak Sultan mungkin\nekonominya lebih baik,\n(sehingga) di situ baru dibuka (pembangunannya), begitu,&#8221; jelas Dadang.<\/p>\n\n\n\n<p>Adapun, keterangan Abud\nsebagai salah satu masyarakat sekitar mengatakan bahwa Keraton Selacau ini\ndiyakini sebagai regenerasi dari Kerajaan Padjadjaran. Menurutnya, Selacau ini\ndiambil dari nama gelar di Eropa. Kemudian, dalam bahasa Belanda disebut dengan <em>selagodon<\/em>,\nsedangkan dalam bahasa Sunda dikenal dengan sebutan Selacau.<\/p>\n\n\n\n<p>Dilansir dari Suara\nIndonesia News bahwa Kesultanan Selacau ini telah diakui oleh organisasi\nPerserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang mengatur bidang pendidikan dan kebudayaan\n(UNESCO). Hal ini telah dibuktikan dengan dokumen yang sah dan resmi di Leiden,\nBelanda. Hal ini pun dibenarkan oleh Dadang selaku pengawal kesultanan.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cEmang sudah diakui\noleh PBB. Bahkan, cagar budayanya juga (sudah) diakui oleh UNESCO,&#8221; ujar Dadang<\/p>\n\n\n\n<p>Sebelumnya, dikutip dari Kompas.com terkait penuturan Sultan Rohidin\nyang mengklaim memiliki legalitas Kesultanan Selacau yang diperoleh\ndari PBB mengatakan bahwa, &#8220;Selacau\npunya dua literatur leluhur saya yang saya ajukan tahun 2004 sampai akhirnya\ntahun 2018 keluar putusan warisan kultur budaya peninggalan sejarah yang (berada)\ndi (bawah) kepemimpinan Surawisesa. Fakta sejarah dikeluarkan oleh lembaga PBB.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p>Abud selaku warga\nsekitar menyayangkan kesultanan ini tidak mendapatkan pengakuan di Indonesia. Sedangkan\ndi luar negeri, kesultanan ini telah diakui dan tercantum di PBB. <\/p>\n\n\n\n<p>\u201cKalau di dunia diakui. (Sedangkan) kalau di negara (sendiri),\nya, seperti itu,\u201d tutur Abud.<\/p>\n\n\n\n<p>Layaknya sultan pada umumnya, dalam kesehariannya\nSultan Rohidin mengadakan pertemuan-pertemuan. Selain dengan pengagung, dengan\npihak luar juga mengadakan rapat atau mengagendakan program untuk kedepannya.\nDi kesultanan Selacau juga sering mengadakan pengajian rutin mingguan hingga\nmengadakan acara hari jadi Kesultanan\nSelacau yang diagendakan setiap satu kali dalam satu tahun.<\/p>\n\n\n\n<p>Tak hanya mengurusi &nbsp;bidang pemerintahan, Sultan juga menggeluti\nbisnis salah satunya bidang transportasi umum. Sultan menjadi pemilik angkutan umum mini bus atau yang lebih\nakrab disapa elf. Sedangkan pekerjanya masih warga sekitar keraton.<\/p>\n\n\n\n<p>Menurut masyarakat sekitar, keberadaan Kesultanan\nSelacau ini sangat membantu warga, mulai dari bidang ekonomi, hingga bidang\npertanian. Salah satu contohnya ialah memperbaiki jalan rusak yang seharusnya\nmenjadi PR bagi pemerintah. Hal ini kemudian tentunya membuka peluang pekerjaan bagi masyarakat sekitar. Sultan juga melakukan perbaikan dalam menjaga makam\nleluhur dengan cara pemugaran makam. Tak jarang, para pengunjung melakukan\nziarah ke makam leluhur. Tak hanya itu, di area kesultanan juga dibebaskan untuk umum, baik untuk kegiatan kebudayaan,\natau menjadi tempat rekreasi hingga sarana olahraga berlari, misalnya. <\/p>\n\n\n\n<p>Reporter: Fadil, Sri,\nAnisa T. W.<\/p>\n\n\n\n<p>Penulis: Anisa T. W.<\/p>\n\n\n\n<p>Penyunting: Ana<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Gemercik News-Tasikmalaya. Pada awal tahun 2020, Indonesia tengah diramaikan dengan fenomena kemunculan keraton dan kekaisaran di Indonesia. Setelah Keraton Agung Sejagat di Purworejo dan Sunda Empire di Bandung, kini Kesultanan Selacau Patra Kusuma yang berlokasi di Kampung Nagara Tengah, Desa Cibungur, Kecamatan Parungponteng, Kabupaten Tasikmalaya pun ikut viral. Keraton ini didirikan pada tahun 2004 dan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":2284,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[14,17],"tags":[],"class_list":["post-2283","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita","category-luar-kampus-berita"],"aioseo_notices":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2283","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2283"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2283\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2285,"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2283\/revisions\/2285"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2284"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2283"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2283"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2283"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}