{"id":2313,"date":"2020-02-16T08:11:40","date_gmt":"2020-02-16T08:11:40","guid":{"rendered":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/?p=2313"},"modified":"2020-02-16T10:27:59","modified_gmt":"2020-02-16T10:27:59","slug":"tradisi-akad-nikah-budaya-sunda","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/tradisi-akad-nikah-budaya-sunda\/","title":{"rendered":"Tradisi Akad Nikah Budaya Sunda"},"content":{"rendered":"\n<p><strong>Oleh Nuurul Aulia Mar&#8217;ie<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Indonesia terkenal dengan keragaman budaya dan adat istiadat\nyang dimilikinya mulai dari kepercayaan, suku, bahasa, dan lainnya. Hampir setiap daerah\ndi Indonesia melahirkan kebudayaan yang unik dan\nmemiliki ciri khas tersendiri, salah satunya tradisi upacara pernikahan\nadat. Meski\ntradisi akad nikah di Indonesia melewati\nproses yang cukup panjang dan terbilang rumit, namun mayoritas penduduk Indonesia masih menggunakan tradisi\nyang sudah mendarah daging. <\/p>\n\n\n\n<p>Biasanya adat yang dipilih telah disepakati oleh kedua\nmempelai. Pernikahan\nadat khas suku sunda misalnya, memiliki beberapa rangkaian khusus dalam setiap\nperayaannya. Kekayaan budaya sunda dapat dilihat dari prosesi adatnya yang\ndiwarnai dengan humor namun tidak menghilangkan nuansa sakral dan khidmat.<\/p>\n\n\n\n<p>Pada hari yang telah ditentukan, kedua\nmempelai bersama iring-iringan pengantin pria menuju tempat berlangsungnya\nacara pernikahan dengan membawa seserahan. Seserahan biasanya berisi\nperlengkapan yang dibutuhkan oleh pengantin wanita, seperti seperangkat alat\nsalat, alat mandi, alat kecantikan, baju, sepatu, tas, dan lain-lain. Seserahan\ndalam pernikahan memiliki makna tanggung jawab seorang pria untuk mencukupi\nkehidupan perempuan yang akan dipersuntingnya. Dalam seserahan terselip juga\nsimbol keseriusan mempelai pria untuk mencintai dan setia pada calon\npasangannya.<\/p>\n\n\n\n<p>Kedatangan rombongan pengantin pria disambut\ndengan ramai oleh keluarga pengantin wanita yang dipimpin oleh Ki Lengser dan\nNini. <em>Tak<\/em> ketinggalan penari wanita\nberkostum menyerupai burung merak dan penari pria membawa payung. Mereka bertugas memayungi\npengantin pria dan orang tuanya sembari diiringi gamelan degung.<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;Kemudian dilanjutkan dengan <em>ngabageakeun. <\/em>Prosesi dimana ibunda mempelai wanita mengalungkan bunga melati kepada mempelai pria lalu diarahkan untuk menuju tempat berlangsungnya akad nikah. Tentu saja sudah dipenuhi oleh kerabat, para saksi, dan petugas KUA (Kantor Urusan Agama).<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"300\" height=\"178\" src=\"https:\/\/gemercikmedia.com\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/untitled-3282.JPG-1-300x178.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-2315\"\/><\/figure>\n\n\n\n<p>Mempelai\npria\nmenanti kedatangan mempelai wanita yang\nsedang dijemput oleh kedua orang tuanya di kamar. Ketika kedua mempelai sudah hadir, kemudian dikenakan <em>tiung\npanjan<\/em><em>g.<\/em> Hal\nini bermakna penyatuan dua insan yang masih murni. <em>Tiung<\/em> baru dibuka ketika kedua mempelai\nakan menandatangani surat nikah.<\/p>\n\n\n\n<p>Setelah dinyatakan sah oleh penghulu dan para\nsaksi, mempelai wanita mencium tangan suaminya sebagai bentuk rasa\nhormat dan bakti seorang istri.\nMempelai pria mengecup sekilas kening wanita yang sudah menjadi istrinya sebagai bentuk kasih\nsayang dan perlindungan. Mereka menandatangani berkas sebagai bukti bahwa mereka &nbsp;telah\nsah secara agama dan juga hukum.<\/p>\n\n\n\n<p>Prosesi selanjutnya yaitu\nSungkeman, kedua mempelai meminta restu untuk memulai kehidupan bahtera\nrumah tangga mereka. Dilakukan secara bergantian\ndengan posisi berlutut dan meletakan kepala dipangkuan mereka. Diawali dengan\nsungkem kepada orang tua mempelai wanita, kemudian\ndilanjutkan kepada orang tua\nmempelai pria. Sungkeman seringkali menjadi prosesi haru biru bagi siapa\nsaja yang menyaksikannya. <\/p>\n\n\n\n<p>Setelah selesai sungkeman, acara dilanjutkan\ndengan mendengarkan wejangan yang disampaikan oleh perwakilan dari kedua keluarga. Wejangan\nberisi nasihat mengenai kehidupan pernikahan serta hak dan kewajiban\nmasing-masing pasangan dalam rumah tangga.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;\n&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Dilansir dari <em>kompasiana.com<\/em>, saweran berasal dari kata <em>panyaweran,<\/em> dalam bahasa sunda berarti tempat jatuhnya air dari atap rumah.&nbsp; Saweran dilakukan oleh kedua orang tua sembari diiringi kidung. Kedua mempelai duduk berdampingan di bawah sebuah payung. Saweran dilakukan sampai kidung selesai dilantunkan. Memiliki makna berbagi rezeki dan kebahagiaan. Alat saweran bernama bokor, yang berisi uang logam (kemakmuran), beras (kemakmuran), kembang gula (mendapatkan manis dalam hidup berumah tangga), dan kunyit (kejayaan).<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"300\" height=\"178\" src=\"https:\/\/gemercikmedia.com\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/untitled-3712.JPG-300x178.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-2316\"\/><\/figure>\n\n\n\n<p>Prosesi\nselanjutnya\nyaitu <em>Meuleum Harupat<\/em>. Mempelai pria\nmemegang batang <em>harupat<\/em>, lalu mempelai wanita membakarnya menggunakan lilin. <em>Harupat<\/em>\nyang telah menyala kemudian dimasukkan\nke dalam sebuah kendi. &nbsp;Selanjutnya, &nbsp;diangkat kembali lalu dipatahkan lantas dibuang jauh-jauh. Melambangkan nasehat kepada kedua mempelai untuk\nsenantiasa bersama dalam memecahkan\nmasalah di dalam rumah tangga. Kendi berisi air, berarti bagaimana istri mendinginkan suasana yang membuat pikiran\nserta hati suami tidak nyaman.<\/p>\n\n\n\n<p>Kemudian <em>Nincak\nEndog<\/em>. Dalam bahasa Indonesia berarti menginjak telur. Mempelai pria menginjak telur\nayam kampung &nbsp;mentah yang diletakkan di bawah sebuah papan dengan kaki kanan. Kaki kanan melambangkan segala sesuatu yang\ndikerjakan dimulai dari kanan sebagai suatu kebaikan. Selanjutnya, mempelai\nwanita membersihkan kaki suaminya menggunakan air dari kendi yang terbuat dari\ngeraba dengan penuh kelembutan, kemudian mengeringkannya dengan\nhanduk. Lalu kendi air tersebut dipecahkan oleh kedua mempelai. <\/p>\n\n\n\n<p><em>Nincak Endog <\/em>mengandung makna\nkemampuan mempelai pria memberikan keturunan. Sedangkan mempelai wanita membersihkan dan mengeringkan kaki mempelai pria, bermakna bahwa mempelai wanita akan melayani dan mengabdi kepada suaminya.<\/p>\n\n\n\n<p>Tahap selanjutnya, yaitu <em>Huap Lingkup <\/em>dan <em>Pabetot\nBakakak Hayam<\/em>. Prosesi<em> huap <\/em><em>lingkup,\n<\/em>yakni ketika kedua orang tua\nmempelai menyuapkan nasi kuning dengan potongan ayam di atasnya. Diberikan\nkepada kedua mempelai secara bergantian.\nKemudian, kedua mempelai juga saling bergantian menyuapi nasi kuning.\n<\/p>\n\n\n\n<p>Prosesi ini berarti sebuah bentuk suapan dan pengurusan\nterakhir orang tua terhadap kedua mempelai. Karena selanjutnya mereka akan mengurus rumah tangganya sendiri. Nasi kuning yang disuapkan adalah sebuah bentuk doa dari orang tua\ndan orang sekitar agar memiliki kemakmuran\ndalam rumah tangga mempelai.<\/p>\n\n\n\n<p>Prosesi berikutnya adalah <em>Pabetot Bakakak Hayam<\/em><em>.<\/em> Dilakukan oleh kedua mempelai yang memegang ayam panggang bagian paha. Selanjutnya\nkedua mempelai akan diberikan intruksi untuk menarik ayam tersebut\nke arah yang saling berlawanan.\nKepercayaan dalam prosesi ini adalah mempelai yang\nmendapatkan bagian lebih besar memiliki rezeki yang\nlebih besar pula. Selain itu, prosesi ini juga mengingatkan agar saling membantu dan berkerja sama satu sama\nlain. <\/p>\n\n\n\n<p>Dilansir dari <em>weddingku.com<\/em>, tahap yang terakhir yaitu prosesi buka pintu.\nProsesi ini memberikan pemahaman dalam hidup\nbermasyarakat. Untuk dapat bergaul baik\ndengan tetangga dan diterima menjadi bagian dari lingkungan sekitar. Keduanya\nharus membuka pintu terlebih dahulu.<\/p>\n\n\n\n<p>Tradisi\ndi atas dilakukan seusai akad nikah. Dimulainya prosesi ini ditandai denga ketukan pada pintu rumah sebanyak\ntiga kali. Kemudian mempelai wanita akan menanti pujaannya di\ndepan pintu. Mempelai wanita menjawab\nketukan dengan sebuah tembang berisi pertanyaan. Sembari menunggu jawaban untuk memastikan apakah benar\norang yang berada di luar sana merupakan lelaki pujaannya atau bukan. <\/p>\n\n\n\n<p>Dahulu, kedua mempelai saling berdialog\nseperti berpantun dalam bahasa sunda.\nBerbeda dengan sekarang dimana\nterdapat juru rias selaku pemimpin jalannya upacara. Mereka\nakan membantu kedua mempelai untuk berdialog. Percakapan itu pun\ndiakhiri dengan pengajuan agar mempelai pria\nmengucapkan dua kalimat syahadat. Hal ini untuk membuktikan apakah sang suami\ndapat menjadi imam yang baik atau\ntidak. <\/p>\n\n\n\n<p>Setelah pintu terbuka, mempelai pria akan masuk ke dalam lalu mempelai wanita menyambut suaminya dengan\nmenjabat tangan khas tradisi Sunda yang disebut <em>munjungan<\/em>. Caranya, mempelai wanita dan mempelai pria saling\nmenyatukan kedua telapak tangan lalu kedua ujung jarinya ditempelkan ke hidung.\nKemudian, mempelai wanita menunduk\nseraya menyentuhkan ujung jarinya dengan ujung jari mempelai\npria. Hal ini merupakan tanda hormat istri\nkepada suami serta suami lebih santun kepada istrinya. Diakhir upacara buka\npintu, tangan kedua mempelai\nakan digandengkan. <\/p>\n\n\n\n<p>Upacara pernikahan bukanlah sembarang upacara. Apalagi jika pernikahan tersebut menggunakan\nadat sebuah daerah. Karena setiap prosesi yang dilalui mengandung makna yang dalam. Pernikahan merupakan\nupacara sakral yang dipenuhi dengan doa dan harapan dari orang tua, keluarga,\nsahabat dan orang sekitar. Jadi, apakah kamu tertarik menggunakan\nadat sunda dalam upacara pernikahanmu?<\/p>\n\n\n\n<p>Penyunting: Rini<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh Nuurul Aulia Mar&#8217;ie Indonesia terkenal dengan keragaman budaya dan adat istiadat yang dimilikinya mulai dari kepercayaan, suku, bahasa, dan lainnya. Hampir setiap daerah di Indonesia melahirkan kebudayaan yang unik dan memiliki ciri khas tersendiri, salah satunya tradisi upacara pernikahan adat. Meski tradisi akad nikah di Indonesia melewati proses yang cukup panjang dan terbilang rumit, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":2317,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[25],"tags":[],"class_list":["post-2313","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"aioseo_notices":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2313","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2313"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2313\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2319,"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2313\/revisions\/2319"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2317"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2313"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2313"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2313"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}