{"id":2364,"date":"2020-03-10T04:49:45","date_gmt":"2020-03-10T04:49:45","guid":{"rendered":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/?p=2364"},"modified":"2020-03-10T08:30:46","modified_gmt":"2020-03-10T08:30:46","slug":"virus-corona-siapa-yang-harus-disalahkan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/virus-corona-siapa-yang-harus-disalahkan\/","title":{"rendered":"Virus Corona, Siapa yang Harus Disalahkan?"},"content":{"rendered":"\n<p><em>Oleh, Erika Nofia Pransisca Permatasari<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Belakangan\nini, tanah air dihebohkan dengan adanya pernyataan terkait para WNI yang\ndinyatakan positif <em>Corona<\/em>. Setelah sebelumnya virus baru dengan nama <em>Corona Virus (Covid-19)<\/em> ini menjadi\nperbincangan utama di kancah kesehatan dunia. Pasalnya, virus ini menyerang\nratusan ribu jiwa di tanah asalnya, Kota Wuhan, China. Sebelum akhirnya\nmenyerang beberapa negara di dunia.<\/p>\n\n\n\n<p>Kota\nWuhan, China, meraih julukan kota mati akibat serangan virus baru dengan nama <em>Covid-19<\/em> ini. Pasalnya, virus ini\nmenular dengan mudah dan menyerang siapa pun yang mendekat. Ribuan kasus\nterjadi di China, hingga menimbulkan korban jiwa. Belum adanya vaksin serta\npengobatan yang ampuh memperpanjang daftar korban akibat virus ini.<\/p>\n\n\n\n<p>Tak\nsampai di sana, <em>Covid-19<\/em> dengan mudah\nmenyebar ke berbagai negara di belahan dunia. Negara-negara maju seperti\nJepang, Singapura, hingga Amerika pun turut menjadi korban. Tak ketinggalan\nKorea Selatan dengan kasus <em>&#8216;Super\nSpreader&#8217;<\/em> nya. Tanpa adanya persiapan, <em>Corona<\/em> menyerang manusia\ntanpa pandang bulu. Pemerintah di setiap negara, berupaya melakukan pencegahan\nberupa karantina, untuk melihat positif atau tidaknya <em>Covid-19<\/em> di dalam tubuh melalui masa inkubasi 14 hari. Antisipasi\ndilakukan terutama di daerah keluar masuknya WNA, seperti bandara dan pelabuhan\ninternasional. <\/p>\n\n\n\n<p><em>2019-nCoV (2019-Novel Corona Virus),<\/em>\nvirus menular jenis baru yang menyerang sistem pernapasan. Gejalanya mirip flu\ndan influenza. Hari ini akrab dengan sebutan <em>Covid-19<\/em>. Mereka yang terserang virus ini diharuskan memakai\nmasker. Katanya sih biar <em>gak<\/em> <em>nular<\/em> ke orang lain. Pekerja medis\nyang merawat pasien terinfeksi pun harus <em>pake<\/em> masker. Biar <em>gak<\/em>\ntertular, katanya. <em>Corona<\/em> yang menyebabkan gangguan pernapasan ini\nternyata masih satu keluarga dengan SARS yang muncul pada 2002 di China dan\nMERS yang muncul pada 2012 di Arab Saudi. Ketiga virus ini tergolong ke dalam <em>zoonosis<\/em>, yakni ditularkan dari hewan ke\nmanusia. Untuk selanjutnya menular dari manusia ke manusia. <\/p>\n\n\n\n<p>Waktu\n<em>Corona<\/em> lagi ramai menyerang negara-negara lain, masyarakat Indonesia\ndengan santainya bilang &#8220;tenang, Indonesia <em>mah<\/em> aman. Orang\nIndonesia dari kecil <em>udah<\/em> akrab sama yang namanya boraks, formalin, dan\nkawan-kawannya&#8221;. Ada juga yang dengan entengnya <em>nyeletuk<\/em>\n&#8220;dengan kekuatan tolak angin, jurus kerok tradisional, dan tukang <em>pijet<\/em>\nandalan, Indonesia bebas <em>Corona<\/em>&#8220;. Tapi panik setengah mati ketika\nPresiden Jokowi menyatakan ada dua WNI positif <em>Corona<\/em>. Apalagi sekarang\npasien terinfeksi sudah mencapai belasan orang. Hmmm, <em>stay safe<\/em> ya kawan-kawan. <\/p>\n\n\n\n<p>Bahkan\nawal <em>Corona<\/em> muncul di China, banyak orang Indonesia yang mengutuk dan\nseenak jidat bilang <em>klo<\/em> itu virus azab buat China karena memusnahkan\nmuslim Uighur. Ada juga yang bilang kalo itu virus sengaja dibuat China dengan\ntujuan mengurangi jumlah penduduknya, tapi mereka juga yang bongkar virus itu. <em>Sebenernya\nudah gak <\/em>aneh sih ya dengan perilaku orang Indonesia yang selalu mudah\nmenghakimi. Sampai akhirnya itu virus menyebar ke seluruh dunia, terus <em>sampe<\/em>\nke Indonesia. <em>Klo<\/em> <em>udah<\/em> <em>gini<\/em>, masih mau bilang <em>Corona<\/em>\nitu azab? Indonesia kena azab juga maksudnya? Padahal tinggal terima, <em>klo<\/em>\nini <em>emang<\/em> takdir dari Pemilik alam semesta ini, ya kan. <\/p>\n\n\n\n<p>Fenomena\n<em>panic buying<\/em> dengan cepat melanda. <em>Gak<\/em>\ncuma di Jabodetabek, Jawa Barat sampai Kota Tasik pun ikut dilanda si <em>panic buying<\/em> ini. Terlebih setelah Kang\nEmil Sang Gubernur dan Pak Budi Sang Walikota menyatakan Siaga 1 <em>Corona<\/em>.\nCoba <em>aja<\/em> <em>kunjungin<\/em> <em>tuh<\/em> toko obat, apotek, <em>minimarket<\/em>, sekalian <em>mall-mall<\/em> gede, pasti yang namanya\nmasker sama <em>hand sanitizer<\/em> <em>udah<\/em>\n<em>abis<\/em> di pasaran. <\/p>\n\n\n\n<p>Buat\nyang bingung, apa sih <em>panic buying? Panic\nBuying<\/em> merupakan sebuah fenomena dimana masyarakat berbondong-bondong\nmembeli kebutuhan pokok seperti masker, <em>hand\nsanitizer<\/em>, hingga bahan makanan dalam jumlah yang besar. Fenomena ini\nterjadi beberapa hari ke belakang hingga menyebabkan stok menipis di beberapa\ntempat. <\/p>\n\n\n\n<p>Tak\nhanya itu, fenomena <em>panic buying<\/em> ini\njuga dimanfaatkan oleh oknum-oknum yang mencari kesempatan dalam kesempitan.\nContoh yang paling banyak terjadi adalah penimbun masker. Oknum penjual\nmemanfaatkan keadaan ini dengan memberikan harga yang sangat tinggi, bahkan tak\nmasuk akal. Alasannya karna <em>supply<\/em>\ndan <em>demand<\/em> yang tidak seimbang.\nNamun, tingginya harga masker ini tidak sebanding dengan kualitas, banyak\nkorban merasa kecewa. Sebab, masker yang mereka beli dengan harga tinggi\ntersebut justru sudah rusak. Entah sobek, kotor, atau kerugian lain. Menanggapi\nhal ini, pemerintah mengimbau akan menghukum para pelaku penimbun masker berupa\nancaman penjara.<\/p>\n\n\n\n<p>Berbagai\nhimbauan ditujukan kepada masyarakat agar tidak panik dan tetap waspada dalam\nmenghadapi Corona. Kenali gejalanya, cegah sebelum terjadi. Harus dipahami\nterlebih dahulu bahwa <em>Covid-19<\/em>\nmenular melalui sentuhan, bukan udara. <em>Covid-19<\/em>\nyang menular melalui saluran pernapasan adalah bersin dan batuk. Oleh karena\nitu perlu sekiranya menjaga jarak dan menggunakan masker baik ketika batuk dan\nbersin, maupun berada di dekat orang yang batuk dan bersin.<\/p>\n\n\n\n<p>Selanjutnya\nadalah sentuhan, kontak personal dengan pasien terinfeksi, seperti berjabat\ntangan. Maupun permukaan benda mati. Dalam hal ini, perlu sekiranya menjaga\nkebersihan tangan. Salah satu caranya adalah rajin mencuci tangan dengan sabun\natau menggunakan <em>hand sanitizer.<\/em>\nPenularan terakhir adalah melalui kontaminasi feses.<\/p>\n\n\n\n<p>Masyarakat\ntidak perlu khawatir, apalagi sampai <em>panic\nbuying<\/em>. Pemerintah sudah mengantisipasi ini, dan memastikan persediaan\nkebutuhan pokok terpenuhi. Sebagai masyarakat, kita hanya perlu menjaga\nkebersihan, menjaga kesehatan, hingga tidak mengonsumsi makanan mentah.\nMengenali gejalanya juga menjadi salah satu cara mengantisipasi. Bagaimana\ngejala awalnya? Demam, batuk, sesak napas, serta mengalami gangguan pernapasan\nringan hingga berat. Pada kasus yang lebih parah, infeksi menyebabkan <em>pneumonia<\/em>, gagal ginjal, hingga berujung\npada kematian. <\/p>\n\n\n\n<p>Masyarakat\nyang sehat juga tidak perlu menggunakan masker, mereka hanya perlu menjaga\nkebersihan dan kesehatan lingkungannya. Rajin cuci tangan dengan sabun dan\nmengurangi kontak fisik dengan benda hidup dan benda mati. Masker hanya wajib\ndigunakan oleh orang yang positif terjangkit <em>Corona<\/em>, dan para pekerja\nmedis yang merawat pasien terjangkit <em>Corona<\/em>. <em>Covid-19<\/em> dijelaskan di berbagai sumber, tidak lebih berbahaya\ndaripada virus-virus mematikan sebelumnya. Virus ini hanya dapat bertahan pada\nsuhu normal ke rendah. Oleh karena itu, masyarakat harus mampu menjaga daya\ntahan tubuh mereka. <\/p>\n\n\n\n<p>Singapura\nadalah salah satu contoh negara yang berhasil menangani kasus <em>Corona<\/em>.\nMenteri kesehatan Singapura menjelaskan, bahwa dengan mengenali gejalanya, maka\nproses penyembuhan dapat dengan cepat dilakukan. Makanya, yang penting dicatat\nadalah kenali gejalanya, bukan siapa korbannya. Upaya pencegahan dapat dimulai\ndari diri sendiri. <\/p>\n\n\n\n<p>Di\nIndonesia, <em>mindset<\/em> masyarakat awam\nmasih cenderung menyudutkan korban. Rumah diisolasi, disambangi media, fotonya\ndisebar di grup-grup <em>Whatsapp<\/em>, keluarganya <em>digosipin<\/em>, <em>sampe<\/em>\ndikucilkan di lingkungannya. <em>Mindset<\/em>\nyang kaya <em>gini<\/em> <em>nih<\/em>, yang akhirnya bikin orang <em>mikir<\/em>\nberkali-kali <em>klo<\/em> mau lapor ketika kena gejala <em>Covid-19<\/em>. Padahal, masyarakat diimbau untuk segera memeriksakan\nketika terdapat gejala batuk, bersin yang dirasa menular.<\/p>\n\n\n\n<p>Jadi,\nsiapa yang salah? China? Virusnya? Korbannya? Masyarakat? Petugas Medis? Atau\njustru Pemerintah?<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh, Erika Nofia Pransisca Permatasari Belakangan ini, tanah air dihebohkan dengan adanya pernyataan terkait para WNI yang dinyatakan positif Corona. Setelah sebelumnya virus baru dengan nama Corona Virus (Covid-19) ini menjadi perbincangan utama di kancah kesehatan dunia. Pasalnya, virus ini menyerang ratusan ribu jiwa di tanah asalnya, Kota Wuhan, China. Sebelum akhirnya menyerang beberapa negara [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":2365,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[13],"tags":[],"class_list":["post-2364","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-opini"],"aioseo_notices":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2364","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2364"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2364\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2366,"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2364\/revisions\/2366"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2365"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2364"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2364"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2364"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}