{"id":2393,"date":"2020-03-14T01:15:43","date_gmt":"2020-03-14T01:15:43","guid":{"rendered":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/?p=2393"},"modified":"2020-03-14T01:18:18","modified_gmt":"2020-03-14T01:18:18","slug":"daun-kelor","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/daun-kelor\/","title":{"rendered":"DAUN KELOR"},"content":{"rendered":"\n<p><\/p>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-image\"><figure class=\"aligncenter size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"300\" height=\"178\" src=\"https:\/\/gemercikmedia.com\/wp-content\/uploads\/2020\/03\/image-1-300x178.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-2398\"\/><\/figure><\/div>\n\n\n\n<p> <em>Oleh: Fachriel Hayqal M.<\/em> <\/p>\n\n\n\n<p>Daun Kelor merupakan tanaman yang bisa tumbuh dengan cepat, berumur panjang, berbunga sepanjang tahun, dan tahan kondisi panas ekstrim. Tanaman ini berasal dari daerah\u00a0tropis \u00a0dan\u00a0subtropis\u00a0di\u00a0Asia Selatan. Daun kelor umum digunakan untuk menjadi pangan dan obat di Indonesia, biji kelor juga digunakan sebagai penjernih air skala kecil. Sejak awal tahun 1980-an, penelitian terhadap manfaat tanaman mulai dari daun, kulit batang, buah, sampai bijinya,\u00a0 telah dimulai. Ada sebuah laporan hasil penelitian, kajian dan pengembangan terkait dengan pemanfaatan tanaman kelor untuk penghijauan, serta penahan penggurunan di Ethiopia, Somalia, dan Kenya oleh tim Jerman, di dalam berkala <em>Institute for Scientific Cooperation<\/em>, Tubingen, 1993. <\/p>\n\n\n\n<p>Laporan\ntersebut dikhususkan terhadap kawasan&nbsp;\nyang termasuk Ethiopia, Somalia, dan Sudan, karena menanam pohon kelor\nsudah menjadi tradisi penduduknya sejak lama. Mengingat pohon tersebut dapat\nmenjadi bagian di dalam kehidupan sehari-hari sebagai bahan sayuran, bahan baku\nobat-obatan, juga untuk diperdagangkan. Di kawasan Arba Minch dan Konso, pohon\nkelor justru digunakan sebagai tanaman untuk penahan longsor, konservasi tanah,\ndan terasering. Sehingga, pada musim penghujan, walau dalam jumlah yang paling\nminimal, jatuhan air hujan akan dapat ditahan oleh sistem akar kelor. Dan pada\nmusim kemarau, \u201ctabungan\u201d air sekitar akar kelor akan menjadi sumber air bagi\ntanaman lain. Selain itu, karena sistem akar kelor cukup rapat, bencana longsor\njarang terjadi. Periset dari&nbsp; <em>Anna\nTechnology University, <\/em>Tamilnadu<em>,<\/em> India,C. Senthil Kumar,\nmembuktikan bahwa daun kelor memang berkhasiat sebagai <em>hepatoprotektor<\/em>\nalias pelindung hati. <\/p>\n\n\n\n<p>Menurut\ndokter sekaligus herbalis di Yogyakarta, dr. Sidi Aritjahja, kelor mengandung\nantioksidan yang sangat tinggi dan sangat bagus untuk penyakit yang berhubungan\ndengan masalah pencernaan, misalnya luka usus dan luka lambung.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cBagian\napa pun yang dipakai aman, asal memperhatikan caranya,\u201d ujar salah satu alumnus\nUniversitas Gadjah Mada. Minumlah rebusan daun kelor selagi air hangat, sebab\nefek antioksidan masih kuat dalam keadaan hangat.<\/p>\n\n\n\n<p>Adapun manfaat daun kelor yaitu sebagai berikut:<\/p>\n\n\n\n<p>Daun\nkelor mengandung protein, vitamin, dan mineral yang cukup tinggi. Daun kelor\nmengandung vitamin A, vitamin B1 (<em>tiamin<\/em>), vitamin B2 (<em>riboflavin<\/em>),\nvitamin B3 (<em>niacin<\/em>), vitamin B6, serta vitamin C. Daun kelor juga\nmemiliki kandungan penting lainnya seperti kalsium, kalium, zat besi,\nmagnesium, fosfor, seng, serta rendah kalori. Semua senyawa tersebut sangat\ndiperlukan bagi kesehatan tubuh.<\/p>\n\n\n\n<p>Daun\nkelor juga mampu memberikan khasiat untuk kecantikan kulit. Daun ini mengandung\nprotein dan vitamin C yang dapat melindungi sel-sel kulit dari kerusakan.\nBahkan, daun kelor juga dapat menjaga kesehatan dan kekuatan rambut. Untuk\ndijadikan perawatan kulit dan rambut, Anda bisa menjadikan daun kelor sebagai\nmasker.<\/p>\n\n\n\n<p>Adapun efek samping dari penggunaan daun kelor antara\nlain:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\"><li>Diare<\/li><\/ul>\n\n\n\n<p>Bahaya\ndaun kelor yang harus diwaspadai selanjutnya yaitu menyebabkan diare. Daun\nkelor memiliki efek laksatif atau pencahar, sehingga berpotensi menyebabkan\natau memperburuk diare. Jika Anda mengalami kondisi ini, sebaiknya hindari\nkonsumsi daun kelor sementara waktu. Daun kelor lebih direkomendasikan untuk\ndikonsumsi ketika Anda mengalami kesulitan buang air besar atau biasa disebut\ndengan sembelit.<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\"><li>Kerusakan Hati dan Ginjal<\/li><\/ul>\n\n\n\n<p>Kerusakan\nhati dan ginjal merupakan salah satu efek samping daun kelor yang berbahaya.\nPenggunaan obat-obatan tertentu untuk jangka panjang memang umumnya dapat\nmemicu kerusakan pada organ tertentu dalam tubuh, terutama hati dan ginjal.\nPenelitian pada hewan telah membuktikan bahwa konsumsi jangka panjang dari daun\nkelor juga dapat menyebabkan kondisi ini. Pemeriksaan fungsi ginjal dan hati\nharus dilakukan secara rutin untuk setiap orang yang menggunakan tanaman kelor\nmaupun herbal lainnya sebagai pengobatan.<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\"><li>Berbahaya bagi Kandungan<\/li><\/ul>\n\n\n\n<p>Efek\nsamping satu ini bukan merupakan efek samping daun kelor, melainkan bagian\ntanaman kelor lainnya. Bunga, kulit pohon, dan akar tanaman kelor dipercaya\nmemiliki komponen yang dapat menyebabkan keguguran. Kandungan beberapa <em>fitonutrien<\/em>\ndalam daun kelor dapat menyebabkan kontraksi pada rahim.<\/p>\n\n\n\n<p>Maka\ndari itu, konsumsi ekstrak kelor tidak disarankan selama kehamilan. Jika Anda\nsedang hamil atau merencanakan kehamilan, selalu diskusikan dengan dokter\nsebelum menggunakan obat herbal dan obat-obatan lainnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Penyunting: Rini <\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Fachriel Hayqal M. Daun Kelor merupakan tanaman yang bisa tumbuh dengan cepat, berumur panjang, berbunga sepanjang tahun, dan tahan kondisi panas ekstrim. Tanaman ini berasal dari daerah\u00a0tropis \u00a0dan\u00a0subtropis\u00a0di\u00a0Asia Selatan. Daun kelor umum digunakan untuk menjadi pangan dan obat di Indonesia, biji kelor juga digunakan sebagai penjernih air skala kecil. Sejak awal tahun 1980-an, penelitian [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":2395,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[25],"tags":[],"class_list":["post-2393","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"aioseo_notices":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2393","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2393"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2393\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2401,"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2393\/revisions\/2401"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2395"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2393"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2393"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2393"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}