{"id":2402,"date":"2020-03-15T14:22:16","date_gmt":"2020-03-15T14:22:16","guid":{"rendered":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/?p=2402"},"modified":"2020-03-15T14:22:18","modified_gmt":"2020-03-15T14:22:18","slug":"rhythm-through-silence","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/rhythm-through-silence\/","title":{"rendered":"Rhythm Through Silence"},"content":{"rendered":"\n<p><em>Oleh: Safitri Dina Prameswari<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Senyum tidak pernah hilang dari wajah\nViona sejak dari Bandara Internasional Soekarno Hatta hingga pesewat yang ia\ntumpangi mendarat di Bandara John F. Kennedy. Dengan cepat ia mengurus\nsegalanya baik itu imigrasi dan bagasi, hingga ia menaiki taksi yang akan\nmengantarnya ke apartemen yang akan ia tempati selama berada di New York. <\/p>\n\n\n\n<p>Viona melemparkan pandangannya ke luar\njendela. Beberapa saat ia larut dengan suasana New York pada malam hari yang ia\nlihat dari kaca jendela. Pikirannya berkelana pada satu bulan yang lalu, yang\nmana dia mendapat email dari kampus impian. Vio berhasil lolos divisi musik\nJuilliard School yang terletak <em>di Licoln\nCenter for the performing arts<\/em> di New York <em>City<\/em>, Amerika Serikat.\nGelar <em>Bchelor of Music<\/em> ada di depan\nmata. Entah sudah berapa lama dia melalmun, hingga tidak sadar bahwa dia sudah\nmendekati lokasi yang ia tuju.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201c<em>Excuse\nme, Miss. We already arrive at your destination<\/em>,\u201d kata si supir taksi. <\/p>\n\n\n\n<p>Vio terlonjak dari lamunannya, segera ia\nmembayar dan mengambil barang bawaannya dari taksi. Ia mempercepat langkahnya\nmenuju apartemen. Setelah sampai di depan pintu, ia segera masuk dan meletakkan\nbarang-barangnya. Apartemen ini tidak besar, tapi cukup nyaman untuk orang yang\ntinggal seorang diri. Apartemen ini didominasi warna putih bersih pada dinding\ndan beberapa perabotannya. Vio segera melangkah ke kamar yang berada di sudut\napartemen. Tanpa basa-basi, ia segera membaringkan tubuhnya yang terasa sangat\npenat ke pembaringan. Ia segera mengambil <em>ipod,\n<\/em>memutar lagu kesukaannya, lalu memejamkan mata. Entah mengapa, rutinitas\nini yang paling ia sukai.<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;Setelah cukup lama ia berbaring, mata Vio\nterpaku pada jendela di sudut kamar dengan tirai yang terbuka. Tirai tersebut\nmenampakkan jalanan kota New York. Ia segera menghampiri jendela tersebut dan\nmelihat gemerlap lampu jalan dan papan iklan yang besar. <\/p>\n\n\n\n<p>\u201cW<em>elcome\nto New York<\/em>, Vio!\u201d ucapnya pada diri sendiri<\/p>\n\n\n\n<p>Ini baru awal dari perjalanan hidupnya.\nWaktu akan bergulir dan mungkin akan meninggalkan sebongkah kenangan. Entah itu\nakan terasa manis, atau pahit. Vio akan berjalan menghadapi segala rintangan\nyang menghadang dan melewati jalanan terjal yang akan mengoyakkan semangat. Ia\nsiap melawan apa pun yang siap melemparnya pada jurang keputusasaan.<\/p>\n\n\n\n<p>Keesokan harinya.<\/p>\n\n\n\n<p>Viona menghela napas perlahan. Ia berjalan\nmenelusuri lorong demi lorong konservatorium musik yang terkenal untuk sekedar\nmencari ketenangan. <\/p>\n\n\n\n<p>Sepi<em>.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Akhirnya, Vio beranjak keluar dan duduk di\nhamparan rumput lalu bersandar di bawah pohon besar. Ia mengamati setiap daun\nyang meninggalkan rantingnya dan menikmati setiap embusan angin musim gugur\nyang mengibaskan rambut panjangnya. Ia selalu menyukai musim ini.<\/p>\n\n\n\n<p>Viona membuka tempat biolanya, menghela\nnapas, dan memejamkan mata. Dia memainkan lagu yang ada dalam benaknya.\nBerusaha menyerap semua rasa sakit dalam tubuhnya yang perlahan menghimpit dada\ndan membuatnya sulit bernapas. Dia merindukan ayahnya, dia juga merindukan ibu\nyang bahkan belum pernah ia lihat seumur hidupnya. Bagaimanakah lekuk wajah\nibunya? Apakah ibunya memiliki wajah yang mirip dengan dirinya? Entahlah,\nrasanya begitu sulit meski hanya untuk sekadar bertanya kepada sang ayah. <\/p>\n\n\n\n<p>***<\/p>\n\n\n\n<p>Suara alunan biola yang menyayat dengan\npenuh keahlian itu mengalun melintasi lorong konservatorium. Bagas mengenali\nmelodi itu. \u201c<em>Butterfly Waltz<\/em>\u201d dimainkan dengan sangat apik. Meski\nterdengar samar-samar, tetapi bagas tetap terhanyut dengan gesekan biola yang\nmembawa turun naik nadanya sampai merasuk ke jiwa. Siapa pun yang memainkannya\npasti sangat cerdas dan berbakat.<\/p>\n\n\n\n<p>Suara biola itu masih terdengar. Bagas\nberjalan mengikuti lorong yang panjang sampai menemukan satu titik hamparan\nrumput di halaman samping. Tampak seorang gadis berbalut <em>dress<\/em> sedang memainkan biolanya. Gadis itu terlihat memukau dan\nentah mengapa, biola yang ada di genggamannya terlihat begitu menarik. Seakan\nkakinya terpaku di bumi, Bagas enggan untuk pergi, dan gadis itu juga belum\nberniat untuk membuka matanya. Selang beberapa menit, gadis itu selesai\nmemainkan biolanya. <\/p>\n\n\n\n<p>\u201c<em>Don\u2019t\nstop it<\/em>!\u201d seru Bagas spontan. Mungkin karena terlalu hanyut dengan\npermainan biola gadis itu, Bagas tidak sadar dengan ucapannya.<\/p>\n\n\n\n<p>Gadis itu terkejut lalu menatapnya. Dan\nuntuk pertama kalinya Bagas baru menyadari bahwa gadis itu memiliki sepasang\nbola mata berwarna kecoklatan yang indah. <\/p>\n\n\n\n<p>\u201c<em>Who\nare you?<\/em>\u201dtanya gadis itu\nketus dan bergegas meletakkan biola di tempatnya. Dengan cepat dia juga\nmengemasi barang-barang yang dibawanya dan beranjak pergi. \u201cDasar pengganggu!\u201d\nucapnya lirih.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cKamu dari Indonesia?\u201d tanya Bagas karena\ndia terkejut dengan perkataan gadis itu. <\/p>\n\n\n\n<p>Gadis itu berhenti sejenak, \u201cBukan\nurusanmu!\u201d ketus gadis itu. Lalu dia segera beranjak meninggalkan tempat\ntersebut.<\/p>\n\n\n\n<p>***<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Kamu sudah latihan?\u201d tanya seorang\npria berambut pirang yang duduk di sampingnya.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cTentu, bagaimana denganmu?\u201d Vio balik\nbertanya.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cAku sudah memulai latihan sebelum masuk\nJuilliard\u201d <\/p>\n\n\n\n<p>\u201c<em>Great<\/em>,\nsemoga berhasil!\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cTerima kasih. Namaku Kevin.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cAku viona.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cBaiklah, kita sudah bisa menjadi teman\nmulai hari ini. Sampai jumpa. Gilaranku sebentar lagi.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Setelah pria pirang itu pergi, Viona\nkembali berkutat pada <em>ipod<\/em> miliknya\nsembari menunggu giliran audisi. Entah sudah berapa lama, akhirnya nama Viona dipanggil\nuntuk masuk ke ruang audisi. Bergegas dia melangkah dengan yakin dan penuh\npercaya diri. Vio sudah berada di tengah ruangan yang megah dengan panggung\nbesar dan deretan kursi penonton yang dapat menampung ribuan orang, mungkin.\nVio menghela napas terlebih dahulu agar lebih tenang. Ia lalu meletakkan biola\ndi pundak dan menggesek biola tersebut hingga melodi dapat terdengar oleh\ntelinganya.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201c<em>Por\nuna cabeza<\/em>\u201d, tiba-tiba lagu itu yang muncul dalam benaknya. Dengan\nnada-nada yang ringan di awal tetapi semakin cepat tangga nada yang harus\ndilalui. Sebenarnya Vio belum pernah memainkan lagu-lagu <em>tango, <\/em>tapi ternyata tidak buruk juga. Dia bahkan menikmati setiap\ngesekan melodi yang keluar dari biola kesayangannya.<\/p>\n\n\n\n<p>***<\/p>\n\n\n\n<p>Entah mengapa, audisi tahun ini terasa membosankan\nbagi Bagas. Semua peserta terasa sama saja, terpaku dengan hafalan tangga nada\ndan erkesan tidak jujur dalam memainkannya. Baiklah, mungkin setelah ini, dia\nbisa beranjak sejenak dari kursi juri. Tapi pikirannya tiba-tiba terhenti,\nkarena seorang gadis yang berjalan menuju panggung audisi, tampak santai dan\nyakin. Tunggu dulu, rasanya Bagas pernah melihat gadis itu sebelumnya. Dia\nterus mengingat di mana dia pernah bertemu dengan gadis itu. Sampai ketika\ngadis itu memainkan biolanya, nadanya yang ringan membuat dia ingin berdansa di\nbawah sinar lampu sorot. Saat memasuki pertengahan lagu, nada yang dimainkan\ntampak terdengar penuh emosi, kesedihan dan putus asa. <\/p>\n\n\n\n<p>Ahh, Bagas pernah melihat gadis yang sama\ndengan biolanya di taman. Semakin lama mendengar pemainan biolanya, membuat\nBagas ingin bermain juga. Segera dia meminta pengawal untuk mengambilkan biola <em>Vieuxtemps Guarneri<\/em> yang diberikan oleh\nsalah satu violinis saat ia dalam perjalanan konser ke Belgia. Biola ini tidak\nantik seperti <em>Stradivarius, <\/em>tetapi\ntentu saja mahal, mengingat biola ini pernah dilelang dengan harga 16 juta\ndolar Amerika. <\/p>\n\n\n\n<p>Segera Bagas berjalan ke arah panggung\nsembari menggesek. Tentu saja hal ini membuat Viona terkejut. Tapi dia tetap\nfokus pada nada yang dimainkan. Duet tidak terduga malam ini terasa begitu\nsempurna. Bagas tidak berusahan menonjol dalam permainan, tetapi tetap saja\nsetiap nada yang bergulir dari tangannya terasa amat sesuai. Ketika akhirnya\nmelodi terakhir dimainkan, mereka berdua masih terhanyut dalam permainan.\nSampai suara riuh tepuk tangan memenuhi seluruh ruangan. <\/p>\n\n\n\n<p>Rasa tidak percaya memenuhi benak Viona,\nentah karena dia tampak asing dengan suasana ramai ini, atau karena seorang\npria yang ditemuinya adalah juri dari audisi yang dia ikuti. Tanpa pikir\npanjang dia segera menunduk, lalu bergegas untuk meninggalkan panggung. <\/p>\n\n\n\n<p>\u201cViona!\u201d panggil seorang pria, \u201cAku tidak\npercaya, ternyata kamu hebat sekali. Bahkan <em>violinis<\/em>\nfavoritku ikut bermain denganmu tadi,\u201d tambahnya.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cMemangnya siapa dia?&#8221; tanya Vio penasaran,\nmengingat dia ada di meja juri, pastilah orang penting.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cBukankah kamu dari Indonesia? Dia Bagas\nArsenio, <em>Violinis <\/em>lulusan terbaik di\nJuilliard,\u201d ujar kevin si rambut pirang.<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;***<\/p>\n\n\n\n<p>Ketika pengumuman tiba, Viona menjadi yang\nterbaik dalam audisi dan tentunya menjadi <em>violinis<\/em>\nutama untuk konser <em>trip<\/em> di Broadway\nNew York.<\/p>\n\n\n\n<p>Penyunting: Ana<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Safitri Dina Prameswari Senyum tidak pernah hilang dari wajah Viona sejak dari Bandara Internasional Soekarno Hatta hingga pesewat yang ia tumpangi mendarat di Bandara John F. Kennedy. Dengan cepat ia mengurus segalanya baik itu imigrasi dan bagasi, hingga ia menaiki taksi yang akan mengantarnya ke apartemen yang akan ia tempati selama berada di New [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":2403,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[165],"tags":[],"class_list":["post-2402","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-sastra"],"aioseo_notices":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2402","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2402"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2402\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2404,"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2402\/revisions\/2404"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2403"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2402"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2402"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2402"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}