{"id":251,"date":"2019-05-27T22:01:06","date_gmt":"2019-05-27T22:01:06","guid":{"rendered":"https:\/\/gemercikmedia.com\/?p=251"},"modified":"2019-05-27T22:01:08","modified_gmt":"2019-05-27T22:01:08","slug":"bedah-novel-kau-aku-dan-sepucuk-angpau-merah-karya-tere-liye","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/bedah-novel-kau-aku-dan-sepucuk-angpau-merah-karya-tere-liye\/","title":{"rendered":"Bedah Novel \u201cKau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah\u201d Karya Tere Liye"},"content":{"rendered":"\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\"><p>Judul Novel : Kau, Aku dan Sepucuk Angpau Merah <\/p><p>Penulis : Tere Liye<\/p><p>Tahun Terbit : 2012<\/p><p>Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama<\/p><p>Jumlah Hal. : 512 Halaman   <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n<p>\u201cBagaikan sungai Kapuas, cinta sejati adalah perjalanan, tidak memiliki  ujung, tujuan, apalagi muara. Air laut akan menguap ke udara jatuh  menjadi hujan di gunung-gunung, membentuk anak-anak sungai, menjadi  ribuan sungai perasaan, lantas menyatu di sungai Kapuas, itulah siklus  yang tidak akan pernah terhenti bergitu pun cinta.\u201d <\/p>\n\n\n\n<p>*** <\/p>\n\n\n\n<p>\u201cKau, Aku dan Sepucuk Angpau Merah\u201d karya Tere Liye ini menceritakan  tentang cinta pertama seorang tokoh bernama Borno yang begitu memukau.  Borno merupakan pemuda yang berasal dari tepian Sungai Kapuas,  Pontianak, Kalimantan Barat yang jatuh hati pada seorang gadis  berketurunan Indo-China bernama Mei.<\/p>\n\n\n\n<p>Perjalanan Borno dalam menemukan  cinta sejatinya tidak seperti kisah kebanyakan yang menyuguhkan  ke-mellow-an. Di dalam novel ini, kisah Borno justru diceritakan berbeda  walaupun dengan tema sederhana dengan alur yang klasik. Banyak  rintangan yang dihadapi Borno selama ia menjadi bujang dengan hati  paling lurus sepanjang tepian Kapuas, banyak pula pertanyaan yang muncul  di kepala pemuda itu tentang kehidupan, sampai pada akhirnya ia  menemukan pertanyaan bagaimana cinta mulai berakar? Dan apa sebenarnya  makna dari cinta? Tentu, hal itu terjadi setelah ia bertemu dengan Mei  dan menemukan sepucuk angpau berwarna merah milik gadis itu. <\/p>\n\n\n\n<p>Tere Liye menghadirkan tokoh-tokoh penyusun cerita yang membuat novel  ini menjadi satu kesatuan cerita yang utuh, hal itu karena watak dari  masing-masing tokoh dalam cerita memang sangat mendukung.\u00a0 <br> Berikut tokoh-tokoh beserta penokohan yang disebutkan dalam novel<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cKau, Aku dan Sepucuk Angpau Merah\u201d.\u00a0 <br> Borno (bujang dengan hati paling lurus sepanjang tepian Kapuas)  diceritakan dalam novel ini memiliki rasa pantang menyerah, berhati  lurus, cerdas, mandiri, rajin dan pekerja keras. Hal ini dapat  dibuktikan melalui beberapa kutipan :  \u201cHidup untuk bekerja. Kalau kau pemalas, duduklah di depan gerbang kampung menjadi peminta-minta.\u201d (Bab 1, Hal. 20). <\/p>\n\n\n\n<p>\u201cAku punya banyak rencana, Pak Tua. Bukankah Pak Tua sendiri yang pernah  bilang, terkadang dalam banyak keterbatasan, kita harus bersabar  menunggu rencana terbaik datang, sambil terus melakukan apa yang bisa  dilakukan.\u201d (Bab 14, Hal. 209).<\/p>\n\n\n\n<p>Mei sebagai cinta pertama Borno. Memiliki perangai yang lembut, berhati  baik, cerdas, sopan santun, perhatian, penyayang, dan berparas sendu  menawan. Hal ini dapat dibuktikan melalui tipe wicara yang dinarasikan  sebagai berikut :  Mei memeluk hangat wanita tua, menyalami yang laki-laki. (Bab 15, Hal. 220). <\/p>\n\n\n\n<p>Bapak Borno, merupakan seorang laki-laki yang tangguh, kuat, rajin, dan  mandiri. Hal ini dapat dibuktikan melalui tipe wicara alihan sebagai  berikut :  Bapak tercinta, nelayan tangguh yang menjadi tulang punggung keluarga,  terjatuh dari perahu saat melaut. Jatuh bukan masalah. Bukan nelayan  kalau tidak pernah jatuh. Lagi pula Bapak bisa berenang semalaman kalau  dia mau.<\/p>\n\n\n\n<p>(Bab 1, Hal. 13) Ibu Borno, merupakan seorang wanita yang berhati lembut, baik, penyabar,  dan selalu berusaha mendidik anaknya menjadi seseorang yang berhati  mulia dan tulus. Hal ini dapat dibuktikan melalui tipe wicara alihan  sebagai berikut :  Ibu pernah bilang, \u201dBahkan penjaga kakus juga pekerjaan yang mulia, Borno. Sepanjang kaulakukan dengan tulus.\u201d (Bab 1, Hal. 29). <br><\/p>\n\n\n\n<p>Pak Tua, diceritakan sebagai kerabat dekat Borno. Pak Tua memiliki sifat  yang bijak, humoris, dan senang bertualang. Borno seringkali  mendapatkan nasehat bijak dari Pak Tua. Bahkan pertanyaan-pertanyaan  yang sempat terlintas di pikiran Borno mengenai kehidupan ataupun sebuah  perasaan dijawab bijak oleh Pak Tua. Salah satu kutipan Pak Tua kepada  Borno yang dapat diambil dari novel ini adalah : <br> \u201d\u2026Kita hanya bisa berasumsi, tapi asumsi tentang perasaan sama dengan  menebak besok sepitku akan ramai penumpang atau sepi. Serba tidak pasti.  Berasumsi dengan perasaan, sama saja dengan membiarkan hati kau  diracuni harapan baik, padahal boleh jadi kenyataannya tidak seperti  itu, menyakitkan.\u201d (Bab 30, Hal.429). <\/p>\n\n\n\n<p>Banyak tokoh lainnya yang mendukung jalannya cerita dalam novel ini,  seperti tokoh Andi yang berperan sebagai sahabat karib Borno. Andi  seolah menjadi pemanis segala permasalahan yang dialami oleh Borno.  Selain itu, ada pula tokoh pendukung lain seperti Bang Togar, Cik  Tulani, Koh Acong, dan Sarah. Dalam novel ini, Sarah diceritakan sebagai  ujian bagi Borno bagaimana ia tetap setia dengan cinta pertamanya (Mei)  meskipun suatu waktu dia bertemu dengan gadis yang tak kalah lebih  cantik dari Mei, yaitu Sarah. <\/p>\n\n\n\n<p>Alur yang digunakan pada cerita selalu berjalan maju namun ada beberapa  potongan yang sengaja hilang untuk memberikan sensasi penasaran untuk  pembaca. Untuk menghadirkan potongan-potongan yang hilang itu banyak  sekali kejadian mengulang ke masa lampau, dengan begitu cerita berjalan  sesuai seperti yang diharapkan penulis. Dengan menggunakan alur  campuran, novel ini mengajak pembaca fokus untuk masuk ke dalam cerita. <\/p>\n\n\n\n<p>Sudut pandang yang digunakan adalah aku, sudut pandang orang pertama.  Aku dalam novel ini mewakili Borno atau dalam cerita dikenal juga  sebagai Bujang dengan Hati Paling Lurus Sepanjang Tepian Kapuas. <br> Kisah cinta dalam novel ini memang berbeda dari kisah cinta yang lain.  Melalui Tokoh Borno, penulis seolah menyampaikan apa makna pengorbanan  sesungguhnya, dan bagaimana kita bisa menyimpulkan arti cinta melalui  kisah cinta kita sendiri. Borno dan Mei adalah orisinil cerita cinta  tentang pengorbanan yang mengajarkan banyak hal tanpa menggurui.<\/p>\n\n\n\n<p>Namun,  kekurangannya, walaupun mendapatkan akhir yang bahagia, tetapi novel ini  tidak menjelaskan bagaimana hubungan tokoh utama dengan tokoh pendukung  lain di akhir cerita, contohnya hubungan antara Borno dengan Ayah Mei  yang tidak merestui mereka menikah.<\/p>\n\n\n\n<p>Penulis : Indriyani Suharyan<\/p>\n\n\n\n<p>Penyunting: Yyn.y <\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Judul Novel : Kau, Aku dan Sepucuk Angpau Merah Penulis : Tere Liye Tahun Terbit : 2012 Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama Jumlah Hal. : 512 Halaman \u201cBagaikan sungai Kapuas, cinta sejati adalah perjalanan, tidak memiliki ujung, tujuan, apalagi muara. Air laut akan menguap ke udara jatuh menjadi hujan di gunung-gunung, membentuk anak-anak sungai, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":252,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[14],"tags":[],"class_list":["post-251","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita"],"aioseo_notices":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/251","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=251"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/251\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":253,"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/251\/revisions\/253"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/media\/252"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=251"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=251"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=251"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}