{"id":3014,"date":"2020-08-18T06:18:30","date_gmt":"2020-08-18T06:18:30","guid":{"rendered":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/?p=3014"},"modified":"2020-08-18T06:18:32","modified_gmt":"2020-08-18T06:18:32","slug":"indonesiabutuhkerja-seleb-sumpah-ini-bukan-endorse-ini-reviewasli","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/indonesiabutuhkerja-seleb-sumpah-ini-bukan-endorse-ini-reviewasli\/","title":{"rendered":"#Indonesiabutuhkerja \u201cSeleb: Sumpah ini Bukan Endorse, ini ReviewAsli\u201d"},"content":{"rendered":"\n<p><em>Oleh: Ayu Sabrina B<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>#Indonesiabutuhkerja sempat heboh di jagat maya Indonesia, pasalnya sejumlah artis kompak mengunggah postingan dengan tagar tersebut. Tentunya kemudian menimbulkan tanda tanya besar bagi warganet, sebab diselipi narasi yang mendukung Rancangan Undang Undang (RUU) Cipta Kerja. Apakah para artis sengaja dibayar pemerintah buat <em>endorse <\/em>Omnibuslaw? Atau memang para artis sangat butuh kerja banget kayak tagar di atas ya?<\/p>\n\n\n\n<p>Tak sedikit warganet beranggapan bahwa tagar itu dimunculkan para artis dan Selebgram di media sosial mereka berkat dorongan <em>endorse<\/em> dari &#8216;pemerintah&#8217;. Melansir dari laman <em>detik.com<\/em>, inilah sejumlah seleb yang disebut-sebut mendukung RUU Cipta Kerja:<\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\" type=\"1\"><li>Gofar Hilman<\/li><li>Inul Daratista<\/li><li>Cita Citata<\/li><li>Valentino &#8216;Jebrett&#8217; Simanjuntak<\/li><li>Rigen Rakelna &amp; Boris Bokir<\/li><li>Aruan Marsha<\/li><li>Kim Kurniawan<\/li><li>Gisella Anastasia<\/li><li>Gading Marten<\/li><li>Siti Badriah<\/li><li>Gritte Agatha<\/li><li>Fitri Tropica<\/li><li>Gita Bhebhita<\/li><li>Caesa Gunawan<\/li><li>Zahwa Aqilah<\/li><li>Ismed Sofyan<\/li><li>Ardhito Pramono<\/li><li>Adhe Giovani<\/li><li>Alain Goenawan<\/li><li>Tiyo Adji<\/li><li>Aisya Fabien<\/li><li>Adit Insomnia<\/li><\/ol>\n\n\n\n<p>Mereka mempromosikan RUU tersebut melalui video berdurasi pendek yang diunggah ke akun media sosial pribadinya. Para figur ini pun dinilai tidak memahami perasaan para pekerja yang sedang berjuang agar RUU Cipta Kerja tidak disahkan. Pada <em>nonton<\/em> <em>gak<\/em> <em>sih tuh<\/em> para seleb, pas ada aksi demonstrasi di gedung DPR \u2013RI bulan lalu, kan banyak <em>banget<\/em> massanya, <em>belain-belain<\/em> lagi, padahal lagi ada corona? <em>Lahiya<\/em>, sibuk <em>ngendorse<\/em> <em>hm<\/em>. Padahal juga <em>nih<\/em>, RUU Cipta Kerja ditolak pengesahannya oleh kebanyakan pekerja dan organisasi buruh karena dianggap merugikan dan menghilangkan hak-hak pekerja.<\/p>\n\n\n\n<p>Melihat banyak dikritik, beberapa hari kemudian para artis meminta maaf dan melakukan klarifikasi ke hadapan jagat maya. Ya klarifikasi <em>emang<\/em> sudah hobi baru yang dilakukan para seleb dan <em>influencer<\/em> <em>gitu<\/em>. Melalui akun twitter resminya, Gofar menjelaskan dulu awal mula ia menerima tawaran pekerjaan <em>endorse <\/em>tersebut. Ia mengaku hanya diminta membuat video kreatif, tapi tidak disebutkan arahan mengenai promosi produk hukum apa pun. Nah kan iya <em>endorse <\/em>ah.&nbsp; \u201cKesalahan dari <em>gue<\/em> dan tim, kita tidak melakukan riset yang lebih dalam lagi sebelum dan sesudah menerima pekerjaan,\u201d cuitnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Selanjutnya, Ardhito Pramono melakukan hal serupa di akun twitter-nya.&nbsp; Ardhito mengaku memang mendapat <em>brief <\/em>&nbsp;untuk melakukan kampanye #Indonesiabutuhkerja. Namun, dalam <em>brief <\/em>yang diterima tidak ada kata-kata Omnibus Law&nbsp; atau RUU Cipta Kerja.&nbsp; Ia pun beralasan bahwa ia hanya musisi dan tak ingin digiring ke hal-hal politik. \u201cSaya juga bertanya, apakah ada hubungan dengan Omnibus Law? Jawabannya, tidak ada. Saya bertanya karena saya hanya musisi, enggak paham politik dan tidak punya pengetahuan akan isu-isu tersebut sehingga saya tidak ingin digiring ke ranah yang tidak saya pahami,\u201d ungkapnya.&nbsp; Lain kali, kalau mau <em>endorse unboxing<\/em> dulu <em>napa<\/em>? Buka dulu <em>draft<\/em>-nya, baca, ikut kajian lebih bagus bang hehehe.<\/p>\n\n\n\n<p>Beberapa dari video yang diunggah bernarasi kan \u2018kasihan\u2019 dengan orang-orang yang kehilangan pekerjaan, terutama di masa pandemi. Premis ini justru aneh banget, karena RUU Cipta Kerja justru menghapus prinsip \u201cmengusahakan agar jangan terjadi pemutusan hubungan kerja\u201d dalam Pasal 151 Undang-Undang Ketenagakerjaan. Dengan RUU Cipta Kerja, kamu bisa punya pegawai yang statusnya masih pekerja kontrak seumur hidup, lalu kamu bisa menggaji pegawaimu cukup untuk makan sekali sehari <em>aja<\/em>.&nbsp; <em>Literally kek kerja abadi gitu guys, rasanya ampe mo meninggal<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<p>Keluarga sakit? Haid? Hamil? Bahkan meninggal? Bukan alasan lagi untuk cuti kerja. Melahirkan di kantor <em>aja<\/em> bunda, sekalian anaknya bisa diperkerjakan karena kita harus kerja, kerja, kerja. Semakin banyak investasi asing, lapangan kerja semakin luas. Kira-kira lapangan kerja baru apa <em>yah<\/em> yang disediakan pemerintah? contohnya, <em>influencer <\/em>sekarang digaji oleh pemerintah. Kayaknya nanti bisa diangkat jadi PNS juga <em>nih<\/em>, kalo <em>udah<\/em> jadi PNS <em>gak<\/em> usah takut lagi diculik. Aku bilang <em>gini<\/em> bukan karena di <em>endorse<\/em> pemerintah loh <em>guys<\/em>, jujur <em>beneran<\/em>, Undang-undangnya itu rasanya <em>kek<\/em> <em>mo<\/em> meninggal!<\/p>\n\n\n\n<p><em>Eits, <\/em>jangan lupa ini bukan murni kesalahan para figur yang <em>ngendorse<\/em>. Kita dengar pembelaan dari istana. Maksudnya klarifikasi dari pihak istana. Doony Gahral, Tenaga Ahli Utama Kantor Staff&nbsp; Presiden (KSP) menegaskan bahwa pemerintah tidak pernah membayar artis atau <em>influencer<\/em> untuk dukung Omnibus Law RUU Cipta Kerja. Melalui <em>Kompas.com<\/em>, ia juga mengungkapkan bahwa rasanya tidak ada yang aneh dengan dukungan serentak yang ditunjukkan para artis tersebut. \u201cSaya kira wajar saja kalau banyak artis mendukung program pemerintah, apalagi itu program yang baik,\u201d pungkasnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Kalau bukan pemerintah yang bayar, siapa <em>dong<\/em>? Apakah ini perbuatan elite global? Yang <em>bener<\/em> <em>aja<\/em> ah, masa iya tukang <em>ngendorse<\/em> <em>gak<\/em> dibayar. Atau ini adalah setingan para seleb kayak <em>channel<\/em> <em>youtube <\/em>yang suka <em>prank<\/em> itu. Meskipun begitu, setelah banyak yang klarifikasi banyak juga yang kemudian hapus videonya. <em>Well<\/em>, masih ada sih beberapa artis yang masih <em>masang<\/em> <em>endorse<\/em> RUU Cipta Kerja. Cuma banyak juga yang <em>udah <\/em>di-<em>take down<\/em> dari Mensosnya masing-masing, mungkin karena <em>diributin<\/em> warganet, atau semoga saja sadar bahwa Omnibus Law memang bermasalah.<\/p>\n\n\n\n<p>Jangan lupa juga, rupanya pembahasan Omnibus Law RUU Cipta Kerja <em>udah<\/em> rampung 75 persen dan diperkirakan akhir September katanya selesai.&nbsp; Bakalan ada yang <em>ngendorse<\/em> lagi <em>gak<\/em> ya setelah <em>beneran<\/em> sah? Lain kali, perhatikan dengan detail ya, perhatikan ongkosnya, untungnya (buat yang <em>ngendorse<\/em>), sama potensi makin terkenalnya. Untung, Keanugl Selebgram favorit saya tidak ikut <em>ngendorse<\/em>, kalo ikut <em>ngendorse<\/em> habis pemerintah dibilang <em>gak<\/em> punya akhlak dan <em>ngadi-ngadi<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<p>Penyunting: Jihan<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Ayu Sabrina B #Indonesiabutuhkerja sempat heboh di jagat maya Indonesia, pasalnya sejumlah artis kompak mengunggah postingan dengan tagar tersebut. Tentunya kemudian menimbulkan tanda tanya besar bagi warganet, sebab diselipi narasi yang mendukung Rancangan Undang Undang (RUU) Cipta Kerja. Apakah para artis sengaja dibayar pemerintah buat endorse Omnibuslaw? Atau memang para artis sangat butuh kerja [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":3015,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[13],"tags":[],"class_list":["post-3014","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-opini"],"aioseo_notices":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3014","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3014"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3014\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3016,"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3014\/revisions\/3016"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3015"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3014"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3014"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3014"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}