{"id":3233,"date":"2020-10-25T13:11:25","date_gmt":"2020-10-25T13:11:25","guid":{"rendered":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/?p=3233"},"modified":"2020-12-15T11:45:56","modified_gmt":"2020-12-15T11:45:56","slug":"manusia-silver-tidak-sekilau-warnanya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/manusia-silver-tidak-sekilau-warnanya\/","title":{"rendered":"Manusia Silver Tidak Sekilau Warnanya"},"content":{"rendered":"\n<p><em>Oleh: Muhammad Yusya Rahmansyah<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Ramai jalanan Kota Tasikmalaya selalu dipadati ratusan kendaraan setiap hari, bahkan di tengah pandemi. Tapi, kali ini ada yang berbeda, sekelompok manusia berwarna <em>silver<\/em> metalik mewarnai lampu merah dibeberapa ruas jalan di Kota Tasikmalaya.<\/p>\n\n\n\n<p>Tidak sulit menemukan manusia <em>silver<\/em>. Apabila dari arah Universitas Siliwangi menuju perempatan yang menjadi titik temu Jl. BKR, Jl. Siliwangi dan Jl. PETA, dapat kita jumpai beberapa orang berwarna <em>silver<\/em> sedang berkeliling menghampiri pengendara yang berhenti mematuhi aturan lalu lintas.<\/p>\n\n\n\n<p>Teriknya sinar matahari tidak menjadi halangan, justru teriknya sinar matahari menjadi penjelas keberadaan mereka. Pantulan sinar matahari merefleksikan warna <em>silver<\/em> metalik yang kilauannya mencolok di mata siapa pun yang melihatnya. Lantas di mana lagi manusia <em>silver<\/em> berada di Kota Tasikmalaya.<\/p>\n\n\n\n<p>Menyusuri jalan menuju Alun-Alun Kota Tasikmalaya, baik melalui arah Jalan Tentara Pelajar atau Jalan Sutisna Senjaya, kita dapat melihat beberapa manusia <em>silver<\/em> di sisi jalan. Mereka menunggu pengguna jalan yang berhenti di lampu merah, memberikan sedikit rezeki untuk mereka.<\/p>\n\n\n\n<p>Mencoba sedikit mewawancarai mereka terkait kehadiran manusia <em>silver<\/em> di Kota Tasikmalaya. Sebut saja Rendi dan Nurul. Dua orang manusia <em>silver<\/em> yang ditemui di sisi Jalan Sutisna Senjaya. Mereka sedang menunggu lampu merah untuk bergegas bekerja mencoba mencari rezeki ketika ditemui siang itu.<\/p>\n\n\n\n<p>Cuaca cukup bersahabat, tidak terik dan tidak mendung. Saat dihampiri, mereka dengan sigap segera menjawab pertanyaan yang diberikan. Dari mana asal manusia <em>silver<\/em> di Tasikmalaya?<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cAsalnya dari Bandung, lalu satu orang di sana ke Tasik, dan kami coba mengembangkan di Tasikmalaya,\u201d jelas Rendi.<\/p>\n\n\n\n<p>Mendengar alasan mereka mengapa mewarnai tubuh mereka dengan cat berwarna <em>silver<\/em> agak terkejut dengan alasannya. Mereka menyampaikan bahwa efek pandemi yang memaksa mereka berubah warna menjadi <em>silver<\/em>. Selain itu, mereka juga menjelaskan bahwa mereka hanya bisa menjadi manusia <em>silver<\/em> bukannya tidak <em>mau<\/em> bekerja yang lain.<\/p>\n\n\n\n<p>Jalanan kembali ramai, sesekali mereka melirik pengendara yang berhenti di lampu merah dan sambil menjawab pertanyaan yang diberikan. Ini sendiri saja atau berkelompok? Berdasarkan penjelasan Rendi, manusia silver itu berkelompok dan ada koordinator yang mengkoordinir mereka.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cSemua ini pekerjaan kelompok,\u201d jelas Rendi.<\/p>\n\n\n\n<p>Lantas berapa pendapatan yang didapat dan modal yang dikeluarkan? Modal untuk membeli cat sablon sebesar 20 ribu, mereka mendapatkan penghasilan sebesar 100-200 ribu perhari. Seperti apa rasanya dicat <em>silver<\/em>, ada rasa pedih?<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cPedih pasti ada, ya ada pedih terutama dibagian mata,\u201d sambil menahan pedihnya efek cat sablon di matanya, Rendi tetap menjelaskan.<\/p>\n\n\n\n<p>Badan mereka terlihat kaku. Bisa jadi untuk tetap menjaga warna cat agar tidak terkelupas, mereka bekerja sejak jam 9 pagi sampai jam 3 sore bahkan terkadang sampai jam 6 sore.<\/p>\n\n\n\n<p>Mereka berasal dari Tasikmalaya, Nurul dari Paseh dan Rendi dari Padayungan. Mereka berasal dari kelompok manusia <em>silver<\/em>. Ternyata banyak kelompok manusia <em>silver<\/em> di Kota Tasikmalaya. Kelompok Rendi dan Nurul rata-rata anggotanya berusia 14 tahun keatas. Namun, di Jalan BKR ada tiga anak kecil yang berwarna <em>silver<\/em>. Tiga anak kecil ini ternyata berbeda dari kelompok Rendi dan Nurul. Tiga anak kecil berusia sekitar 6-8 tahun, dipekerjakan entah oleh siapa di sisi Jalan BKR. Setiap lampu merah menyala, di bawah teriknya matahari mereka menghampiri pengendara yang berhenti.<\/p>\n\n\n\n<p>Sempat menghampiri mereka setelah selesai menghampiri pengendara. Pertanyaan terlontar, \u201cDek, kenapa <em>diwarnain<\/em> <em>silver<\/em> badannya?\u201d Kedua anak kecil itu hanya tersenyum menampakan gigi mereka dengan polos ketika ditanya pertanyaan itu. Sekotak susu masing-masing diberikan kepada mereka. Mencoba bertanya kembali, jawaban mereka adalah \u201cikut-ikutan aja\u201d entah itu jawaban jujur mereka atau memang ada orang yang tidak bertanggung jawab yang memaksa mereka menjawab itu.<\/p>\n\n\n\n<p>Kembali ke Rendi dan Nurul. Apa pendapat mereka terhadap pandangan orang lain yang melihat kegiatan mereka? Mereka menjawab, \u201cBerbagilah\u2026\u201d jawabannya singkat, padat dan jelas. Berbagilah, itu perkataan penutup wawancara singkat dengan mereka. Lalu, Rendi dan Nurul kembali ke jalan, kembali mengharapkan manusia untuk berbagi.\u00a0<\/p>\n\n\n\n<p> Lantas, bagaimana efek cat sablon <em>silver<\/em> yang mereka pakai? Dilansir dari <em>health.detik.com<\/em>, dokter ahli kulit dan kelamin dr. Fitria Amalia Umar, Sp.KK, M.Kes mengatakan penggunaan cat sablon pada kulit sebaiknya jangan dilanjutkan demi menjaga kesehatan. Jika masih harus beraksi, dokter Fitria menyarankan mengganti bahan pewarna menjadi yang lebih ramah kesehatan kulit.<\/p>\n\n\n\n<p>Bahan cat pada umumnya mengandung bahan kimia <em>Vinyl Cholride. <\/em>Dokter Yeyen Yovita Mulyana, Sp.KK dilansir dari <em>jabar.idntimes.com<\/em> menjelaskan bahwa penggunaan <em>Vinyl Chloride <\/em>dalam waktu singkat dapat mempengaruhi saraf menimbulkan gejala pusing dan sakit kepala, iritasi mata dan kulit. Bahkan dalam waktu lama dapat menyebabkan kerusakan paru.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cEfek jangka lama bisa menimbulkan <em>Vinyl Chloride\u2019s Disease, <\/em>kerusakan hati, ginjal, otak, cacat pada bayi, abortus, kanker hati, kanker payudara, kanker mulut, kanker rongga mulut dan kanker otak.\u201d Jelas dokter Yeyen.<\/p>\n\n\n\n<p>Menurut dokter Yeyen, efek tersebut lebih rentan menjadi kanker bagi anak-anak sebab kulit anak lebih tipis dibandingkan paparan terhadap kulit orang dewasa. Hal tersebut belum termasuk cara menghapus cat menggunakan sabun detergen atau sabun colek. Beresiko menimbulkan iritasi kulit, lecetnya kulit memperbesar resiko zat kimia yang masuk ke dalam tubuh ketika kembali mengecat kulit menggunakan cat sablon.<\/p>\n\n\n\n<p>Siang itu menjadi siang yang singkat, padat dan jelas. Sulitnya mencari uang untuk menyambung hidup. Bahkan anak kecil ikut masuk dalam kerasnya hidup. Efek jangka panjang zat kimia yang ada di dalam cat sablon, larut dalam perjuangan dan keinginan manusia <em>silver<\/em> menyambung hidup, tidak terasa lagi pedih dan perihnya agar masih tetap bertahan hidup. Hidup Manusia <em>silver<\/em> memang tidak sekilau warnanya. Sekian.<\/p>\n\n\n\n<p>Penyunting: Jihan F<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Muhammad Yusya Rahmansyah Ramai jalanan Kota Tasikmalaya selalu dipadati ratusan kendaraan setiap hari, bahkan di tengah pandemi. Tapi, kali ini ada yang berbeda, sekelompok manusia berwarna silver metalik mewarnai lampu merah dibeberapa ruas jalan di Kota Tasikmalaya. Tidak sulit menemukan manusia silver. Apabila dari arah Universitas Siliwangi menuju perempatan yang menjadi titik temu Jl. [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":3234,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[26],"tags":[],"class_list":["post-3233","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-feature"],"aioseo_notices":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3233","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3233"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3233\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3351,"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3233\/revisions\/3351"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3234"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3233"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3233"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3233"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}