{"id":3838,"date":"2021-03-24T08:55:01","date_gmt":"2021-03-24T08:55:01","guid":{"rendered":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/?p=3838"},"modified":"2021-03-24T08:55:03","modified_gmt":"2021-03-24T08:55:03","slug":"di-ujung-senja","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/di-ujung-senja\/","title":{"rendered":"DI UJUNG SENJA"},"content":{"rendered":"\n<p><em>Oleh : Asyifa Nurul Rahma Fauziah<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Matahari mulai melambaikan tangannya. Gulita perlahan menghampiri. Terlihat sesosok manusia duduk merenung seorang diri. Entah apa yang ia pikirkan saat ini. Tak ada garis senyum yang terlukis di wajahnya. Hanya nampak kerenungan di sana.<\/p>\n\n\n\n<p>Sebelum ini, saat keramaian mengelilinginya, ia menunjukkan senyumnya. Senyum yang ia paksakan lebar-lebar hingga tak ada seorang pun yang mampu memahami tingginya dinding yang ia bangun. Tak ada yang tahu betapa sulitnya ia membuat batas itu. Tak beberapa lama, seorang gadis menghampirinya.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cKamu beneran <em>gapapa<\/em>?\u201d tanya gadis itu.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201c<em>Haha<\/em>&nbsp;santai <em>aja<\/em>. Saya beneran <em>gapapa<\/em>. Sudah biasa,\u201d jawab seseorang itu.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cKamu bisa bicara pada ku, jangan sungkan,\u201d timbal gadis itu.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201c<em>Haha<\/em>&nbsp;siap. Kamu sendiri bagaimana? Masalahmu kemarin. Apa baik-baik saja?\u201d ia mencoba mengalihkan pembicaraan. &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cAku baik-baik saja,\u201d jawab gadis itu.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cSyukurlah.\u201d Tambahnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Lagi dan lagi, berusaha membangun dinding, berusaha mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja. Bagai menusuk belati pada jantungnya sendiri. Meretakkan rusuknya secara perlahan. <em>Kretak kretak<\/em>. Menyisakan sisa-sisa kepingan terakhir. Berharap pada kepingan terakhir ini mampu membuatnya bertahan.<\/p>\n\n\n\n<p>Ditinggalkan oleh orang tersayang, memanglah bukan hal mudah. Ditambah ini bukan pertama kali baginya. Ia takkan pernah siap menerima kenyataan pahit yang bertubi-tubi. Namun dituntut untuk selalu kuat, terlebih di depan adiknya. Kini hanya adiknya yang ia punya.<\/p>\n\n\n\n<p>Mereka duduk di bawah sinar mentari yang perlahan memudar. Seolah tak ada hari esok untuk keduanya. Mencoba meresapi tiap buaian angin yang menyapu lembut wajahnya.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cMas\u201d ujar adiknya.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cIya, dek?\u201d jawabnya lembut.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cBapak, mas\u201d ucap adiknya yang mungil.<\/p>\n\n\n\n<p>Ia terenyuh. Tahu kemana arah pembicaraan ini nantinya. Berusaha untuk tetap terlihat tegar di depan adik manisnya. Tidak mungkin ia mampu menunjukkan keperihan yang ia rasakan juga.<\/p>\n\n\n\n<p>Adiknya masih terlalu kecil untuk menerima semuanya. Masih terlalu mungil untuk berusaha terlihat baik-baik saja. Masih terlalu rapuh untuk menampung beban kehidupan. Saat usia sebayanya bermain ke sana kemari, saat usia sebayanya tertawa riang gembira, saat usia sebayanya tak merasakan apa yang ia rasakan.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cBapak pasti sudah melihat kita dari atas sana, dek. Bapak pasti tersenyum di langit,\u201d ujarnya pelan sembari menatap awan.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cKenapa bapak <em>ninggalin<\/em>&nbsp;kita, mas? <em>Ngga<\/em>&nbsp;cukup ibu?\u201d air matanya berusaha menyeruak keluar dari kelopak matanya.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cTuhan lebih sayang mereka, dek. Tuhan pasti telah menemukan ibu dan bapak,\u201d ia mencoba menenangkan adiknya.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cUdah ya nangisnya, bapak <em>ga<\/em>&nbsp;akan suka liatnya. <em>Nanti<\/em>&nbsp;bapak sedih. Adik mas <em>kan<\/em>&nbsp;cantik, nanti <em>ilang<\/em>&nbsp;<em>loh<\/em>&nbsp;cantiknya,\u201d tambahnya.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cTapi, bapak yang bikin sedih, mas\u201d jawabnya polos.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cDek, bapak <em>ga<\/em>&nbsp;pernah berniat ninggalin kita. Ibu juga <em>ga<\/em>&nbsp;pernah <em>pengen<\/em>&nbsp;ninggalin kita. Tapi Tuhan lebih sayang mereka, dek\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cUdah ya, <em>tuh kan<\/em>&nbsp;jadi jelek gitu. Kamu masuk ke rumah ya dek, <em>udah mau<\/em>&nbsp;gelap. Masuk angin nanti,\u201d tambahnya.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cIya, mas. Adek masuk duluan ya,\u201d ucap adik cantiknya.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201c<em>Nah<\/em>, pinter adeknya mas.\u201d Ujarnya sambil tersenyum.<\/p>\n\n\n\n<p>Kini hanya ia sendirian di sana. Tangisnya pecah tanpa suara. Hanya senja yang menjadi bukti sunyi kepedihannya. Hanya angin yang berusaha menghiburnya. Ia menumpahkan semuanya sendirian. Alam membiarkannya membagi rasa yang ia pendam mati-matian. Hanya saat ini ia tak perlu membangun dinding yang kuat nan kokoh itu.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cTuhan, mengapa? Tak bisakah? Tak cukupkah? Mengapa waktu begitu singkat?\u201d Ia menghela napas perlahan.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cAdit tahu, Adit hanya anak yang tak berguna. Adit bahkan belum sempat membuktikan apapun. Tapi kenapa? Apa ini sebuah hukuman? Bukannya ini terlalu sulit?\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cLalu, bagaimana dengan adek? <em>Gimana<\/em>&nbsp;mungkin <em>cuma<\/em>&nbsp;Adit dan adek, pak? <em>Gimana<\/em>&nbsp;cara kami bertahan ke depannya pak? Dia terus menangis, pak. Sebelum ini, saat ditinggal ibu, bapak yang membuat kami kuat. Lalu sekarang bagaimana? Bapak bahkan <em>gaada<\/em>&nbsp;di sini\u201d ia menumpahkan keluh kesah sesak di dada.<\/p>\n\n\n\n<p>Matahari terus-menerus menenggelamkan dirinya. Bahkan waktu pun tak membiarkannya kali ini. Daun-daun menari seperti mengatakan \u2018Ayo kamu kuat!\u2019 padanya. Bulan bahkan mulai terlihat lebih jelas dari sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Ia menghela napas kasarnya berkali-kali. Berusaha membangun benteng kembali dirinya. Bertahan pada sesuatu yang bahkan bisa hancur kapan saja. Setidaknya adiknya penguat satu-satunya saat ini, pikirnya. Bukan, dinding itu bukan untuk dirinya, rupanya. Batas itu ia bangun demi menjaga adiknya.<\/p>\n\n\n\n<p>Kini sepenuhnya mentari telah menghilang, digantikan rembulan ditemani para bintang cantik. Ia menyukai langit malam. Setidaknya dulu, saat ujian itu belum datang bertubi-tubi. Seakan mengeroyoknya ramai.<\/p>\n\n\n\n<p>Pada akhirnya ia harus kembali pada kenyataan. Menguatkan dirinya, memupuk kembali serpihan-serpihan harapan hampir punah. Ia cukup sadar, dunianya runtuh namun dunia yang lain tetap berjalan. Ia menatap langit, tersenyum pedih mengatakan, \u201cPak-bu, Adit bisa kuat. Jangan khawatirin kami. Tenanglah di sana. <em>Insyaallah<\/em>, kami ikhlas. Adit sayang kalian\u201d. Ia menyeka air matanya. Menarik napas dalam-dalam. Meyakinkan dirinya untuk bertemu adiknya kembali. Perlahan tapi pasti, langkah kaki itu akan kuat, dan akan semakin menguat.<\/p>\n\n\n\n<p>Penyunting: Rini<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh : Asyifa Nurul Rahma Fauziah Matahari mulai melambaikan tangannya. Gulita perlahan menghampiri. Terlihat sesosok manusia duduk merenung seorang diri. Entah apa yang ia pikirkan saat ini. Tak ada garis senyum yang terlukis di wajahnya. Hanya nampak kerenungan di sana. Sebelum ini, saat keramaian mengelilinginya, ia menunjukkan senyumnya. Senyum yang ia paksakan lebar-lebar hingga tak [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":3839,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[165],"tags":[],"class_list":["post-3838","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-sastra"],"aioseo_notices":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3838","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3838"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3838\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3841,"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3838\/revisions\/3841"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3839"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3838"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3838"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3838"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}