{"id":863,"date":"2016-09-05T03:14:00","date_gmt":"2016-09-05T03:14:00","guid":{"rendered":"https:\/\/gemercikmedia.com\/2016\/09\/05\/opini-ospek\/"},"modified":"2016-09-05T03:14:00","modified_gmt":"2016-09-05T03:14:00","slug":"opini-ospek","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/opini-ospek\/","title":{"rendered":"OPINI: OSPEK"},"content":{"rendered":"<div dir=\"ltr\" style=\"text-align: left;\">\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<div style=\"clear: both; text-align: center;\"><a href=\"https:\/\/1.bp.blogspot.com\/-eCS6CCquGVA\/V8zid16k78I\/AAAAAAAAB8k\/BIy002iVZT0BMF5_sSLMkmvswk_Lxsl7ACLcB\/s1600\/ospek-55d6169cd87a61e90beeef36.jpg\" style=\"margin-left: 1em; margin-right: 1em;\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" border=\"0\" height=\"223\" src=\"https:\/\/1.bp.blogspot.com\/-eCS6CCquGVA\/V8zid16k78I\/AAAAAAAAB8k\/BIy002iVZT0BMF5_sSLMkmvswk_Lxsl7ACLcB\/s320\/ospek-55d6169cd87a61e90beeef36.jpg\" width=\"320\" \/><\/a><\/div>\n<p>Seorang pakar konseling menulis sebuah puisi tentang pendidikan seseorang sekitar 62 tahun yang lalu. Jika kita lihat tulisan Darothy Law Nolte mungkin kita berfikir ternyata ini semua sudah terjadi jauh sebelum abad ke-20. Mungkinkah OSPEK yang kita lakukan tanpa kekerasan? Hal ini menjadi masalah krusial yang selalu menjadi perdebatan hangat setiap mahasiswa. Mungkinkah hal yang \u201cpernah\u201d kita rasakan berubah menjadi sebuah acara yang lebih \u201csantun\u201d dan juga \u201cmencerdaskan\u201d tanpa harus melakukan kekerasan? Mungkinkah?<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Masih sangat banyak pertanyaan tentang OSPEK, baik itu dikalangan mahasiswa atau bahkan para pemerhati pendidikan. Apakah OSPEK ini masih relevan dilaksanakan di era post-Modern ini? Siapkah kita menangguh masalah psikis para peserta OSPEK? Mengapa OSPEK ada? Bagaimanakah awal mula adanya OSPEK? Apakah OSPEK di mindset kita bisa berubah dari yang \u201ckekerasan\u201d menjadi \u201cmencerdaskan\u201d?<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><span><\/span><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Jika menjawab diskusi-diskusi panjang di atas maka kita kaitkan dengan sejarah OSPEK itu sendiri. Gie adalah seorang mahasiswa seperti kita, mahasiswa di era-Soekarno. Gie menuliskan kekesalan dan kekecewaannya pada OSPEK di kampusnya. Dia juga menceritakan sejarah awal OSPEK yaitu dimulai dari adanya kegiatan perpeloncoan sekelompok Mahasiswa Belanda terhadap Mahasiswa Pribumi yang masuk di kalangan elit kampus di zaman Van De Venter. Selain untuk menunjukkan senioritas, perpeloncoan ini juga menunjukkan dominasi Belanda terhadap Pribumi.&nbsp;<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Maka dalam buku hariannya yang sekarang di kenal \u201cCatatan Seorang Demonstran\u201d mengecam kegiatan keras dan penindasan di kampusnya. Menurutnya, meneruskan tradisi OSPEK dengan cara perpeloncoan sama dengan meneruskan penghinaan Belanda terhadap Indonesia. Kita selalu meneruskan budaya yang asing, lugu, dan mengikuti tradisi \u201cpembodohan-pembodohan\u201d secara terang-terangan. Sementara Amerika, Rusia, Jepang dan sederet negara besar lainnya telah meninggalkan cara kuno seperti ini. Kini mereka sibuk menerbangkan pesawat-pesawat canggihnya keluar angkasa. Bagaimana dengan kita?<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Maka hentikanlah pembodohan-pembodohan ini.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Apakah kita berfikir bahwa mahasiswa baru itu datang dengan isi kepala kosong yang \u201charus\u201d di cucuk hidungnya dan giring kearah yang diinginkan? Apakah harus diisi dengan segala \u201cteori-teori\u201d kekompakan? Apakah kita tidak bisa berfikir dewasa dan menerima orang-orang dewasa yang datang?<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Terdengar lucu ketika dalam rapat formal dan forum-forum lainnya beberapa orang membenarkan hal tersebut dengan alasan demi kekompakan mereka atau perlunya menekan mereka agar merasa senasib sepenanggungan. Padahal dalam forum informal tergambarkan tujuan-tujuan sebenarnya, \u201cBiar mampus lo! Ha..ha..ha..\u201d. Bukankah ini sebuah kebohongan yang diselimuti dengan teori-teori manis seperti kekompakan dan kedisiplinan?<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Tidak dapat disangkal bahwa tekanan fisik akan membuat seseorang hancur egonya dan merasa<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">senasib sepenanggungan. TAPI, apakah tidak ada cara lain selain fisik?<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Tidak dapat disangkal pula bahwa hukuman itu perlu dilaksanakan agar orang tidak melanggar<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">peraturan. Tapi apakah perlu dengan cara berteriak? Apakah perlu dengan membentak-bentak setiap hari? Apakah itu perlu? Apakah itu harga mati? Agar seseorang takut atau jera&#8217;kah?&nbsp;<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Tidak dapat disangkal pula bahwa tugas-tugas yang diberikan akan membentuk pola kesigapan. Kesigapan yang nantinya akan sangat berguna dalam menempuh lika-liku kuliah. Namun apakah tidak ada cara lain untuk membuat etos kerja seseorang meningkat?<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Masalah ini begitu rumit jika kita berpikir terlalu teoritis dan hanya bersandar pada \u201cBUDAYA TERDAHULU\u201d . Kita harus keluar dari pemikiran-pemikiran dangkal nan lugu yang selalu digunakan setiap OSPEK ini. Out of the Box. Ya! Kita butuh perubahan. Bukan perubahan yang besar, tapi perubahan dari diri kita sendiri.&nbsp;<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Sebuah kedisiplinan, kekompakan dan etos kerja yang baik bukanlah tugas sebuah acara OSPEK yang MAHA besar ini. Semua sifat itu tumbuh dari sebuah kata yang bernama \u201cKELUARGA\u201d. Bagaimana bisa? Silakan samakan sifat ANDA dengan kedua orang tua ANDA sendiri. Kita meng-copy paste hampir semua sifat orang tua kita. Diantara ribuan sifat tersebut, hanya beberapa saja yang hilang. Tugas sebagai senior itu seharusnya membimbing seperti \u201cKELUARGA\u201d, bukan menindas seperti \u201cPENJAJAH\u201d.&nbsp;<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cOSPEK ini agar melatih kesopanan dengan kakak tingkat,\u201d seolah menjadi kalimat yang diucapkan untuk membela OSPEK dengan kekerasan. Bisakah kita bercermin kepada diri kita sendiri dan membuat pernyataan, \u201cApakah kita lebih menghormati dan akan lebih sopan kepada senior yang membentak? Itu sebuah kehormatan dan kesopanan kepada senior atau sebuah rasa takut?\u201d Sejatinya, kita akan dihormati jika kita bisa membimbing tanpa kekerasan. Kita hanya mencari cara yang lebih terlihat elegan, praktis dan ekonomis walaupun tidak benar dan mencari dalih untuk membenarkannya dan menyandangkan bahwa ini adalah \u201cKEADILAN\u201d. Kita diperlakukan dengan keras di OSPEK dan adik kelas harus merasakannya. Apakah itu yang disebut KEADILAN?&nbsp;<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Keadilan adalah kebajikan utama dalam institusi sosial,<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Sebagaimana kebenaran dalam sistem pemikiran..<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Suatu teori, betapapun elegan dan ekonomisnya, harus ditolak atau direvisi jika ia tidak benar; demikian juga hukum dan institusi, tidak peuli dan rapihnya,betapapun efesien harus direnofarmasi atau dihapuskan jika tidak adil&#8230; ~John Rawls, Teori Keadilan.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Kekerasan bukan satu-satunya jalan.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Tugas utama seorang senior itu membimbing kepada yang benar. Itu saja, bukan memaksa setiap kebenaran yang menurut sudut pandangnya \u201citu benar\u201d. Setiap orang memiliki persepsi mengenai kebenarannya masing-masing.&nbsp;<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Mungkinkah OSPEK berubah? Berubah menjadi lebih baik? Berubah dari rasa takut menjadi antusiasme? Berubah dari penindasan kepada penghargaan? Berubah dari perpeloncoan (dengan apapun kedoknya) menjadi wahana penyambutan dan pendidikan yang mencerdaskan, mencerahkan dan mengutuhkan? Berubah menjadi tempat sebuah keluarga besar yang saling asah, asih, asuh? Apakah kita bisa mengubah OSPEK hari ini menjadi lebih baik?&nbsp;<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Yakinlah bahwa angin perubahan sudah bertiup kencang, dan kita semua bisa menjadikan segalanya lebih baik.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Jika seseorang dibesarkan dengan celaan, la belajar memaki.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Jika seseorang dibesarkan dengan permusuhan, la belajar berkelahi.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Jika seseorang dibesarkan dengan ketakutan, la belajar gelisah.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Jika seseorang dibesarkan dengan rasa iba, la belajar menyesali diri.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Jika seseorang dibesarkan dengan cemoohan, la belajar rendah diri.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Jika seseorang dibesarkan dengan lri hati,la belajar kedengkian.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Jika seseorang dibesarkan dengan dipermalukan, la belajar merasa bersalah.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Jika seseorang dibesarkan dengan dorongan, la belajar percaya diri.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Jika seseorang dibesarkan dengan toleransi, Ia belajar menahan diri.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Jika seseorang dibesarkan dengan pujian, la belajar menghargai.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Jika seseorang dibesarkan dengan penerimaan, la belajar mencintai.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Jika seseorang dibesarkan dengan dukungan, la belajar menyenangi diri.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Jika seseorang dibesarkan dengan pengakuan, Ia belajar mengenali tujuan,<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Jika seseorang dibesarkan dengan berbagi, la belajar kedermawanan.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Jika seseoreng dibesarkan dengan kejujuran dan keterbukaan, Ia belajar kebenaran dan keadilan.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Jika seseorang dibesarkan dengan rasa aman, Ia belajar menaruh kepercayaan.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Jika seseorang dibesarkan dengan ketenteraman, la belaiarberdamai dengan pikiran.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">dan Jika seseorang dibesarkan dengan persahabatan, Ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">(Dorothy Law Nolte dalam Seseorang Belajar dari Kehidupannya)<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">*telah dirubah dari karya aslinya..<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Pengirim: Abdul Basith Zaki<\/div>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Seorang pakar konseling menulis sebuah puisi tentang pendidikan seseorang sekitar 62 tahun yang lalu. Jika kita lihat tulisan Darothy Law Nolte mungkin kita berfikir ternyata ini semua sudah terjadi jauh sebelum abad ke-20. Mungkinkah OSPEK yang kita lakukan tanpa kekerasan? Hal ini menjadi masalah krusial yang selalu menjadi perdebatan hangat setiap mahasiswa. Mungkinkah hal yang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[13],"tags":[],"class_list":["post-863","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-opini"],"aioseo_notices":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/863","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=863"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/863\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=863"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=863"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/gemercikmedia.com\/admin\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=863"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}