Pendidikan adalah jalan terbaik untuk merubah nasib suatu bangsa yang terpuruk menjadi bangsa yang besar. Karena suatu bangsa tidak akan lahir menjadi bangsa yang besar tanpa adanya peran pendidikan. Melalui pendidikan, akan tercipta generasi hebat yang menjadi penggerak suatu bangsa. Sesuai dengan salah satu ayat dalam Al-Qur’an mengatakan bahwa “Tuhan tidak akan merubah nasib suatu kaum, kecuali kaum itu sendiri yang mengubahnya”. Maka, tidak ada alasan lagi untuk tidak melakukan revitalisasi peran pendidikan untuk menyiapkan generasi emas 2045.
Untuk menjawab permasalahan diatas, saya menawarkan sebuah konsep baru dalam proses revitalisasi peran pendidikan yaitu dengan mengadakan pendidikan karakter gaya baru. Namun, hal utama yang menjadi pembahasan adalah penggunaan The Power of Positive Labeling. Penggunaan konsep ini dilakukan oleh guru yang bertugas sebagai agen perubahan dalam mensukseskan pendidikan karakter gaya baru.
Pendidikan karakter melalui penggunaan The Power of Positive labeling jugamenjawab dari pertanyaan tentang pembentuk karakter paling baik tanpa menggunakan pendidikan yang membutuhkan kekuatan fisik. Kita mengetahui banyak orang berpendapat bahwa dalam pendidikan karakter harus dengan pendidikan militer agar dapat terbentuk mental yang kuat. Namun, sesungguhnya pembentuk karakter yang paling baik yaitu dengan kesadaran diri sendiri melakukan perubahan tanpa paksaan melalui cap/label dari guru kepada murid.
Menurut Lemert (dalam Sunarto, 2004) Teori Labeling adalah penyimpangan yang disebabkan oleh pemberian cap/label dari masyarakat kepada seseorang yang kemudian cenderung akan melanjutkan penyimpangan tersebut. Dari teori Lemert, jika kita melakukan pemberian cap/label baik dari guru kepada siswa, maka, akan ada pembentukan karakter secara alamiah karena ada rasa tanggung jawab tersendiri dengan pemberian label/cap kepada diri siswa. Inilah yang menjadi pemikiran saya akan konsep pendidikan karakter gaya baru Indonesia di masa mendatang.
Kita dapat membuat rumus sederhana dari konsep pendidikan karakter gaya baru melalui Labeling. Siswa yang berperilaku buruk dengan pemberian label/cap buruk, maka, perilaku siswa akan cenderung tetap buruk atau menyimpang. Namun, kejadian sebaliknya terjadi ketika siswa berperilaku buruk dengan pemberian label/cap baik, maka, perilaku siswa akan cenderung menuju arah kebaikan karena adanya sikap tanggung jawab secara tidak disadari dengan kepemilikan label/cap dalam diri siswa tersebut.
Menurut Analisis saya, Neo Character Building dengan menitik fokuskan kepada The Power of Positive Labeling oleh guru kepada murid akan terjadi perubahan yang evolusioner. Sugesti menjadi bagian yang sangat kuat dibalik pemberian label/cap melalui ucapan pendek guru kepada murid. Sebuah tanggung jawab dari dalam diri seseorang akan muncul ketika mendapatkan ucapan pendek berupa label/cap yang dikatakan berulang-ulang oleh guru kepada murid. Misalnya, pemberian panggilan “Anak Baik” kepada anak yang sebenarnya bersikap nakal. Cara ini dipercaya akan merubah perilaku anak tersebut dalam kurun waktu yang tidak lama sehingga sebuah karakter baik dapat terbentuk dengan sendirinya.
Dari penelitian saya mengenai Pamali/Ora Ilok, terdapat persamaan yang memang kesimpulannya sama dengan labeling bahwa sugesti menjadi aktor utama dalam setiap perkataan pendek(label/cap) yang diucapkan. Kita selalu mendengar yang namanya pamali ketika seseorang melanggar dengan sengaja aturan nenek moyang di dalam kehidupan bermasyarakat. Kemudian, secara refleks orang tua langsung memberikan teguran dan mengatan bahwa itu adalah pamali.Dengan pemberian cap/label pamali, seseorang akan merasa bersalah ketika mengetahui akibat melanggar pamali sehingga sugesti itu masuk menuju alam bawah sadar. Kemudian, hal yang tidak diharapkan akhirnya terjadi akibat sugesti dalam bentuk label/cap.
The Power of Positive Labeling akan menjadi awal pendidikan karakter gaya baru Indonesia. Pendidikan karakter ini tanpa menggunakan paksaan tetapi melalui kesadaran diri karena adanya tanggung jawab akibat sebuat label/cap yang didapatkan. Kekuatan sugesti menjadi aktor utama sehingga terdapat persamaan antara labeling dan pamali.
Dengan lahirnya konsep pendidikan karakter gaya baru, seyogyanya pemerintah menerapkan kosep ini dalam revitalisasi peran pendidikan di Indonesia untuk menyiapkan generasi emas 2045. Ide dan gagasan ini tidak pernah terpikirkan oleh para guru di Indonesia. Padahal, ini adalah cara terbaik dengan menggunakan ilmu sosiologi dalam pembentukan karakter untuk persiapan tercipatnya generasi yang berintelektual cerdas dan berbudi baik. (Teguh Frediansyah/Gemercik)
