Optimalkan Layanan, Perpustakaan Unsil Lakukan Pemeliharaan Buku Secara Insidental

WhatsApp Image 2026 02 13 At 17.43.19

Gemercik News—Universitas Siliwangi (13/02). Unit Pelaksana Akademik (UPA) Perpustakaan Universitas Siliwangi (Unsil) berupaya meningkatkan kualitas pelayanan melalui sistem pemeliharaan koleksi buku yang terintegrasi. Pustakawan Ahli Pertama, Lelis Masridah, S.I.P., mengungkapkan bahwa pemeliharaan buku fisik saat ini dilakukan sewaktu-waktu bersamaan dengan proses penyusunan buku di rak (shelving).

“Untuk pemeliharaan buku fisik itu dilakukan bersamaan dengan shelving. Ketika pustakawan melihat ada buku yang harus diperbaiki, kita perbaiki. Kalau rusaknya sudah parah banget biasanya kita siangi, kita tarik dari rak. Jadi insidental tidak setiap hari, karena buku kita juga tidak sebanyak itu rusaknya,” ungkap Lelis kepada Gemercik, pada Rabu (11/02).

Lelis kemudian menambahkan terkait koleksi buku yang telah disiangi (dikeluarkan dari koleksi aktif), dapat dimanfaatkan kembali melalui program hibah. Namun, program ini hanya berlaku untuk buku-buku lama peninggalan masa yayasan, sementara buku berstatus Barang Milik Negara (BMN) masih harus dikelola oleh pihak universitas.

“Buku yang ditarik itu bukan dibuang, kalau ada yang membutuhkan bisa dimanfaatkan lagi. Seperti kemarin, ada anak-anak KKN meminta buku, biasanya kami berikan yang sudah disiangi agar tidak memenuhi rak. Adapun buku BMN belum bisa dihibahkan karena masih kita manfaatkan,” tambahnya.

Di sisi lain, Lelis menjelaskan bahwa UPA Perpustakaan menggunakan aplikasi Senayan Library Management System (SLiMS) untuk memantau sejarah peminjaman secara akurat. Terkait pelanggaran waktu peminjaman, pihak perpustakaan menerapkan sanksi sosial berupa merapikan buku di rak (shelving).

“Kita menggunakan SLiMS untuk memantau peminjaman dan statistik bulanan. Untuk sanksi, dulu ada uang denda. Tapi sekarang di perpustakaan sudah tidak dilakukan punishment tersebut. Akhirnya kita suruh shelving,” jelasnya.

Selain itu, untuk menjamin orisinalitas koleksi, pihak Perpustakaan bekerja sama dengan pihak ketiga yang diawasi oleh Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP). Kerja sama ini dilakukan melalui mekanisme marketplace resmi untuk memastikan setiap buku yang dibeli memiliki status pajak jelas dan kualitas yang terjamin.

“Untuk belanja buku, menggunakan pihak ketiga yang diawasi oleh LKPP. Dan bisa dipastikan, buku yang kita beli menggunakan uang BMN itu ada labelnya, berwarna hijau atau merah. Jika ditemukan buku bajakan dari penyedia, kami tegas akan memutus kerja sama dan meminta penggantian,” ungkapnya.

Terakhir, mengenai penambahan koleksi buku baru, Lelis menjelaskan bahwa pihak UPA Perpustakaan rutin melakukan pengadaan koleksi buku baru berdasarkan usulan setiap fakultas. Proses penjaringan ini dipermudah melalui pemindaian QR Code yang tersebar di berbagai titik strategis kampus.

“Setiap tahun itu ada program pengadaan buku baru. Kita biasanya share ke setiap fakultas. Bahkan di depan TU-nya masing-masing itu ada semacam QR. Jadi mahasiswa boleh mengusulkan buku baru di situ,” tutupnya.

Reporter: Adila Azmal Apriliani, Ade Reva Nurhanifah
Penulis: Fitria Sehla
Penyunting: Mutia Rahma Aprianti

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *