Gemercik News-Universitas Siliwangi (01/04). Universitas Siliwangi (Unsil) kembali menggelar rangkaian wisuda Periode III Tahun Akademik 2025/2026, pada Selasa (31/03) di Kampus 2 Mugarsari. Dalam momen tersebut, Unsil meluluskan sejumlah mahasiswa berprestasi dengan predikat lulusan terbaik dan tercepat.
Muhammad Nur Muslim, wisudawan berpredikat lulusan tercepat dan terbaik dengan Indeks Penilaian Kumulatif (IPK) 4.00, Program Studi (Prodi) Pendidikan Masyarakat (Penmas), mengungkapkan pentingnya menyeimbangkan kehidupan, akademik, dan organisasi. Menurutnya, organisasi bukanlah hambatan bagi proses akademiknya.
“Saya punya prinsip bahwa ketika kita dalam berkuliah harus menyeimbangkan antara organisasi, kehidupan, pendidikan kemudian hal-hal yang berkaitan lainnya. Jadi, ingin mematahkan statement bahwa orang-orang yang berorganisasi itu kadang lama masa studinya,” ungkap Muhammad kepada Gemercik, pada Selasa (31/03)
Lebih lanjut, Muhammad menjelaskan cara untuk mengatasi rasa jenuh dalam proses akademik yaitu dengan terus beraktivitas, salah satunya dengan mengikuti program voluntering. Baginya, fase burnout merupakan titik terendah yang dipicu karena kurangnya kegiatan.
“Fase ketika saya tidak melakukan apa pun, itu yang menjadikan saya kurang lebih ya tekanan. Jadi, saya itu hobinya berkegiatan, kalau tidak berkegiatan itu akan menjadi burnout dan sedikit stress buat saya,” jelas Muhammad.
Sementara itu, Shara Haliza Azzahra selaku wisudawati lulusan terbaik dan tercepat dari Prodi Ekonomi Syariah, menyebutkan tiga pilar utama yang memotivasinya dalam menyelesaikan studi yaitu orang tua, dosen pembimbing, dan objek penelitiannya. Menurutnya, dukungan dari ketiga pihak itu menghilangkan alasan untuk menunda pengerjaan skripsi.
“Yang pertama orang tua yang bantu nyemangatin buat ngelewatin godaan. Terus yang kedua dosen pembimbing untuk memotivasi langkah selanjutnya dari skripsi. Terus yang ketiga juga dari objek penelitian saya juga sangat men-support,” ujar Shara.
Selain itu, Shara berupaya mengubah perspektifnya dalam menghadapi kesulitan selama pengerjaan skripsi. Shara menganggap setiap tantangan yang muncul adalah bagian dari ujian untuk menyelesaikan studi, sehingga Shara tidak pernah berpikir untuk berhenti kuliah
“Setiap saya menemukan masalah, saya berpikir bahwa ini adalah salah satu ujian. Kalau misalnya saya gak bisa melewati ini berarti saya tidak bisa melewati skripsi saya,” ungkapnya.
Di sisi lain, Safa Hanifah Kustendi lulusan tercepat dengan IPK 3.77 dari Prodi yang sama menekankan lingkungan pertemanan yang positif juga turut berkontribusi pada performa akademiknya, baginya memiliki teman-teman yang baik dan suportif membuat pengalaman perkuliahannya berjalan positif.
“Untuk aku pribadi, Alhamdulillahnya enggak terlalu tergantung ke teman. Teman-temannya baik-baik juga dan lingkungannya positif semua, jadi efeknya juga positif selama ini,” jelasnya.
Terakhir, Safa mendefinisikan kesuksesan versi dirinya yaitu bukan hanya tentang nilai, melainkan tentang keberanian untuk mencoba banyak hal. Baginya, kuliah adalah ruang untuk mencoba tanpa harus takut dihakimi, karena Safa mengganggap di dunia kerjapun akan dituntut untuk mencoba hal baru dan belajar dari kegagalan.
“Di perkuliahan ini tempat buat dimana kamu nyobain semua hal tanpa di judge. Suksesnya itu saat kamu banyak pengalaman di banyak hal,” Tutupnya.
Reporter: Berinda, Napisah
Penulis: Hany, Diyah
Penyunting: Maya Marhamah

