Gemercik News-Universitas Siliwangi (1/04). Universitas Siliwangi (Unsil) terus berupaya meningkatkan kualitas lulusannya secara konsisten. Langkah ini ditempuh melalui reformasi kurikulum berbasis kebutuhan industri, penguatan sertifikasi kompetensi, serta perluasan kerja sama dengan pemangku kepentingan (stakeholder), guna meningkatkan daya saing wisudawan di dunia kerja.
Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni Unsil, Dr. Asep Suryana Abdurrahmat, S.Pd., M.Kes., menjelaskan bahwa indikator keberhasilan lulusan tidak hanya dilihat dari kuantitas wisudawan, melainkan dari relevansi kompetensi mereka terhadap kebutuhan Dunia Usaha dan Industri (DUDI). Hal ini menjadi prioritas agar tidak terjadi kesenjangan antara kualifikasi lulusan dengan kebutuhan tenaga kerja di lapangan.
“Jangan sampai supply lulusan yang kita kirim ke lapangan tidak sesuai dengan demand yang dibutuhkan dunia kerja,” ujar Dr. Asep kepada Gemercik, pada Selasa (31/03).
Selain itu, Unsil secara berkala melakukan evaluasi kurikulum dengan melibatkan pihak eksternal, mulai dari dunia usaha, industri, instansi pemerintah, hingga asosiasi profesi. Keterlibatan stakeholder ini penting agar kurikulum tidak hanya bersifat akademis teoritis tetapi juga aplikatif.
“Sampai 3-4 tahun sekali Unsil harus me-review kurikulum. Pada saat me-review kurikulum itu tidak dilakukan oleh pihak Unsil saja, tetapi melibatkan stakeholder dari industri, instansi pemerintah, sampai asosiasi profesi,” jelasnya.
Selain pembaruan kurikulum, Unsil mendorong mahasiswa memiliki sertifikasi profesi sebagai nilai tambah saat memasuki dunia kerja. Sertifikasi ini difasilitasi melalui Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP), mengingat Unsil telah memiliki sejumlah skema kompetensi yang diakui secara nasional. Dr. Asep menjelaskan bahwa program sertifikasi biasanya ditawarkan kepada mahasiswa menjelang kelulusan, tergantung kebijakan masing-masing program studi.
“Biasanya antara semester 7-8, tapi tergantung prodinya, karena kita kan hanya menyediakan lembaganya LSE, LSE menyediakan skemanya, sesuai yang diajukan oleh prodi, bahwa kapan prodi mau melaksanakan, tergantung prodinya,” ujarnya.
Lebih lanjut, Dr. Asep menjelaskan bahwa Unsil telah melakukan berbagai upaya peningkatan kualitas mahasiswa, termasuk melalui kerja sama dengan sejumlah lembaga eksternal seperti non-government organization (NGO). Program ini sempat dilaksanakan sebagai tahap awal pengenalan dengan melibatkan sekitar 100 mahasiswa secara gratis. Namun, keberlanjutan program tersebut menghadapi kendala ketika pihak lembaga mulai menetapkan biaya pelatihan.
“2024 saya sudah mulai dengan Kaldera, sempat kita melaksanakan training untuk 100 orang gratis, sekalian pengenalan. Sayangnya pas 2025 kemarin mau melaksanakan lagi, itu tadi Kaldera pasang tarif. Cuma tarifnya itu 3 juta per orang, tetapi karena mereka concern, kalau IPB 3 juta memang, saya tau IPB 3 juta, Unpad pun 3 juta, yang ingin bekerja sama dengan Kaldera,” jelasnya.
Terakhir, Dr. Asep menyoroti karakter lulusan Unsil yang dinilai memiliki potensi kuat dalam bidang kewirausahaan, karena adanya pengaruh kultur masyarakat Tasikmalaya yang dikenal memiliki jiwa dagang. Hal ini terbukti dari banyaknya alumni yang menjadi wirausahawan dan mampu menciptakan lapangan kerja sendiri.
“Kalau suku Sunda itu kan, kebanyakan lebih suka menjadi ambtenaar/pegawai, tapi kalau di Tasikmalaya itu kan lebih kepada entrepreneur. Kenapa koperasi munculnya di Tasikmalaya, koperasi itu pertama kali muncul, oleh Bung Hatta itu di Tasikmalaya itu,” ujarnya.
Reporter : Dista Chandra Kirana
Penulis : Zahra Nalurita
Editor : Mutia Rahma Aprianti

