Gemercik News–Universitas Siliwangi (3/04). Kerusakan Gedung Mandala dan kondisi fisik Gedung Trigatra memicu kekhawatiran keamanan mahasiswa di Universitas Siliwangi (Unsil). Menanggapi hal tersebut Kepala Biro Umum dan Keuangan, Drs. Nana Sujana, M.Si., menjelaskan bahwa keberlanjutan renovasi Gedung Mandala masih menunggu hasil kajian teknis dari Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (DPUTR).
Menurut Drs. Nana, keputusan untuk renovasi atau pembangunan ulang sepenuhnya bergantung pada rekomendasi DPUTR guna menjamin keamanan pengguna. Pihak universitas telah mengajukan kajian kelayakan sejak sebulan lalu untuk memastikan apakah bangunan harus dipertahankan atau dibangun total sesuai Detail Engineering Design (DED).
“Kita sedang menunggu surat resminya yang dikeluarkan oleh PU. Kalau menurut PU masih layak, mungkin akan kita perbaiki. Kalau tidak layak, ya mungkin kita harus berpikir karena secara DED kita sudah punya,” ungkap Drs. Nana kepada Gemercik, pada Kamis (2/04).
Kemudian, Drs. Nana mengungkapkan bahwa keputusan untuk menutup sementara Gedung Mandala diambil berdasarkan pertimbangan risiko keamanan yang tinggi. Akibatnya, agenda besar seperti wisuda dan Orientasi Mahasiswa Baru Universitas Siliwangi (Ombus) harus dialihkan ke Kampus 2. Hal ini berkonsekuensi pada biaya operasional yang lebih tinggi karena penggunaan tenda.
“Daripada nanti kita paksakan terus ternyata berisiko, nanti kasusnya seperti gazebo lagi, bahaya lagi kan. kita juga nyari formulasi yang tepat, soalnya kemungkinan Ombus juga kalau lihat situasi seperti itu ya di Kampus 2 dengan menggunakan tenda,” ungkapnya.
Di sisi lain, Drs. Nana menjelaskan bahwa renovasi Gedung Trigatra terhalang persoalan legalitas karena status kepemilikannya berada di bawah Yayasan Siliwangi, bukan milik universitas sepenuhnya. Kondisi dilematis ini membatasi Unsil dalam melakukan pembangunan permanen sehingga renovasi yang dilakukan hanya sebatas pemeliharaan agar gedung tetap berfungsi.
“Dilematis ya kalau Gedung Trigatra itu. Di lain pihak itu secara kepemilikan milik Yayasan Siliwangi secara status, bukan milik kita. Jadi kalau statusnya milik kita mungkin sudah kita bangun sesuai dengan kebutuhan, sekarang paling hanya renov-renov kecil begitu. Kalau hanya sifatnya pemeliharaan ya kita bisa tindak lanjuti,” ujarnya.
Kemudian Drs. Nana menambahka bahwa meskipun tersedia alternatif lain seperti Auditorium Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), kapasitasnya dianggap belum mampu menggantikan peran vital Gedung Mandala dalam menampung aktivitas mahasiswa berskala besar. Pihak universitas masih memikirkan solusi terbaik sembari menunggu keputusan dari DPUTR.
“Kita juga sebetulnya sama ikut berpikir karena bagaimanapun itu adalah ruang publik yang harus dipergunakan untuk mahasiswa, di lain pihak kita juga belum berikan solusi yang terbaik untuk semua karena emang kalau lihat kapasitas yang gedungnya layak besar itu emang Gedung Mandala,” tambahnya.
Di samping itu, Drs. Nana mengungkapkan bahwa sebagai solusi jangka panjang untuk mengatasi keterbatasan ruang sekretariat Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), dan Badan Legislatif Mahasiswa (BLM), pihak universitas telah merencanakan pembangunan Gedung Ormawa terpusat di belakang Fakultas Agama Islam (FAI). Rencananya akan memiliki aula pertemuan sendiri guna memfasilitasi berbagai aktivitas kemahasiswaan.
“Konsep DED-nya kan sudah ada, tinggal kita nanti kalau kepastian dananya sudah ada untuk dibangun, sehingga nanti kalau ada aktivitas mahasiswa tidak usah lagi pinjam tempat ke yang lain, punya tempat sendiri nanti aulanya,” ungkapnya.
Terakhir, Drs. Nana mengakui bahwa layanan sarana dan prasarana saat ini belum optimal di tengah pertumbuhan jumlah mahasiswa yang pesat. Sebagai langkah taktis, pihak universitas mendorong mahasiswa dan pengurus UKM untuk segera melaporkan kerusakan fasilitas melalui surat resmi yang disertai foto dokumentasi agar dapat segera ditinjau.
“Nanti oleh tim kami ada tim BMN, tim rumah tangga dan konstruksi. Makanya mungkin UKM juga silakan bersurat ke kami terkait dilampirkan foto-foto juga terkait kerusakannya, mungkin nanti kita lihat, kita cek sesuaikan dengan kapasitas pemeliharaan ya kita perbaiki sesuai dengan kemampuan kita,” tutupnya.
Reporter : Dista Chandra Kirana
Penulis : Rida Nurul Azizah
Penyunting : Manazil Khoiriyah Prana
