Lawan Penyakit Apatis Stadium Akhir!

 

Salah satu penyakit mahasiswa baru adalah apatisme. Memang hal yang tidak mudah saat mengalami masa peralihan dari SMA menuju bangku perkuliahan. Individu haruslah beradaptasi dengan cepat akan berbagai perbahan yang terjadi. Di masa peralihan ini, jati diri seseorang akan terlihat. Emosi bahkan sifat dapat berubah karena proses peralihan. Namun hal ini bukanlah hantu yang harus ditakuti. Perubahan yang terjadi merupakan hal yang wajar. Perubahan di masa peralihan ini tergantung pada sudut pandang seseorang. Tak jarang mahasiswa baru yang tidak siap menerima dan terjun pada dunia kampus. Bahkan sebagian dari mahasiswa baru keteteran, sehingga menimbulkan rasa acuh terhadap berbagai hal yang membutuhkan perhatian mereka.

Penyakit apatisme sudah merajalela dengan beberapa pembuktian nyata yang sederhana. Dapat kita lihat dalam kehidupan dunia kampus, mahasiswa kupu-kupu (kuliah-pulang, kuliah-pulang) semakin berkembang biak dengan jumlah yang cukup banyak. Mereka tidak ada inisiatif untuk aktif dan terjun langsung menangani berbagai masalah yang ada. Rasa empati dan simpati mulai memudar karena tidak adanya kepekaan dan perasaan. Jika kasus ini tidak dibasmi, maka akan menjadi budaya turun menurun antar generasi.

Permasalahan ini sangatlah mutlak untuk dicari pemecahannya. Mahasiswa dianggap sebagai kaum intelektual haruslah menyoroti kasus ini. Perlu kesadaran dan pemahaman lebih dalam mengenai berbagai hal yang penting dan perlu digaris bawahi. Jangan dulu terlalu jauh berkoar berteriak dan menghujat mahasiswa apatis. Apakah Anda tidak terjangkit penyakit apatis? Mulailah dari diri sendiri sebelum menerapkannya kepada orang lain. Hal yang paling mendasar adalah memulainya dengan budaya membaca. Di jaman yang penuh perangkap ini, maka akan celaka bila hidup tanpa pondasi ilmu. Mahasiswa yang banyak membaca cenderung mudah menyampaikan gagasan, berwawasan luas dan merangsang penalaran kritis. Meraka akan terbiasa mampu merumuskan tantangan kehidupannya.

Masih pantaskah kalian berteriak “Hidup Mahasiswa!!” jika apatisme masih melekat dan menjadi penyakit stadium akhir? Masih pantaskah kita acuh dan masa bodo terhadap kemunafikan yang jelas terlihat transparan di depan mata kita? Hayati dan renungkanlah sejenak saja. Negara ini perlu perhatian. Kampus kita perlu diperhatikan. Kebenaran perlu ditegakkan.

Siska Fajar Kusuma, Pers Mahasiswa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *