Mahasiswa Unsil Soroti Pola Ormawa yang Dinilai Kehilangan Relevansi

WhatsApp Image 2026 03 06 At 20.59.10

Gemercik NewsUniversitas Siliwangi (6/03). Sejumlah mahasiswa Universitas Siliwangi (Unsil) memberikan pendapatnya terkait pola organisasi mahasiswa (Ormawa) yang dinilai kehilangan relevansi. Muhammad Zaidan Ariski, mahasiswa Program Studi (Prodi) Manajemen, mengungkapkan bahwa kondisi ini berakar pada sistem kaderisasi yang dianggap tidak relevan dengan perkembangan zaman.

“Bisa dibilang kuno itu dari segi kaderisasinya, biasanya mereka dinilai terlalu keras, mereka dinilai terlalu mendewa-dewakan kakak tingkat, seperti ospek-ospeknya itu yang menggambarkan kekerasan. Intinya tidak relevan lah dengan zaman sekarang,” ungkap Zaidan kepada Gemercik, pada Kamis (5/03).

Di sisi lain, mengenai minat ormawa di lingkungan kampus, Yasha Anindya, mahasiswa Prodi Ilmu Politik, menjelaskan bahwa gejala penurunan minat mahasiswa sudah terlihat di tingkat Universitas. Menurutnya, kondisi ini tidak bisa dianggap sepele karena berpotensi menimbulkan kekosongan kepemimpinan dan melemahkan keberlangsungan Ormawa di Unsil.

 “Kalau misalkan terus dibiarkan, tentunya akan banyak terjadi kekosongan di ranah organisasi mahasiswa di Siliwangi. Contohnya, sekarang BEM Unsil itu pakai sistem PLT dan kalau misalkan tidak ada ketua BEM  yang dihasilkan, bisa-bisa BEM Unsil itu dibekukan,” ujarnya.

Terkait bentuk ideal, Yasha menekankan perlunya keseimbangan agar Ormawa tetap menjaga esensi perjuangan dan idealisme, sekaligus responsif terhadap kebutuhan mahasiswa saat ini. Budaya organisasi yang sehat disertai program yang relevan, dinilai menjadi kunci agar Ormawa kembali diminati.

 “Sebenarnya tidak muluk-muluk, cukup menjadi organisasi yang tidak toxic. Datang tepat waktu, realisasi kegiatan tepat waktu, tidak korup dari segi keuangan maupun anggota, dan anggotanya punya kesadaran tanggung jawab,” tegasnya.

Kemudian, Muhammad Alfansa Malik, mahasiswa Prodi Manajemen, menilai bahwa lembaga kampus dapat berperan dalam mewujudkan kebijakan yang mendukung perubahan budaya organisasi di lingkungan kampus. Alfansa mengatakan pembatasan jam kegiatan kampus dapat mengurangi stigma negatif terhadap  Ormawa.

“Jam kampus itu mulai dikurangin yang tadinya bisa sampai malam, sekarang maksimal cuma sampai jam 10 sampai jam 11. Itu salah satu peraturan rektorat untuk menghapus stigma buruk, yang rapatnya sampai malam atau kegiatannya berlarut-larut,” ucapnya.

Terakhir, Alfansa juga menilai bahwa upaya adaptasi dengan minat mahasiswa tidak hanya dilakukan melalui pola kaderisasi, tetapi juga lewat program kerja yang lebih beragam. Menurutnya, beberapa Ormawa mulai membuka ruang yang lebih luas bagi mahasiswa untuk menyalurkan minat dan bakatnya melalui kegiatan yang lebih dekat dengan kebutuhan serta minat mereka.

“Kalau misalnya kita lihat dari beberapa proker tahun kemarin, Ecofest contohnya di Badan Eksekutif Mahasiswa. kita sudah lihat mengadakan berbagai konser, ada bazar juga, atau enggak, SIFEST kemarin bisa ngundang artis nasional. Nah itu pun sebuah program yang memang harus bisa dikembangkan juga dan bisa menjadi sebuah trend positif juga untuk sebuah Ormawa,” tutupnya.

Reporter: NurAlliyah Zahira, Saepul Milah

Penulis: Rida Nurul Azizah

Penyunting: Widia Yuningsih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *