Di era media sosial yang serba cepat, kebenaran tidak lagi lahir dari riset panjang atau kajian ilmiah mendalam, yang mana kajian ilmiah merupakan suatu proses sistematis yang melibatkan pengumpulan data, pengujian hipotesis, dan peninjauan ulang untuk memastikan objektivitas. Namun, kenyataannya pada hari ini kepakaran perlahan mulai kehilangan legitimasinya di mata publik, panggung informasi tidak lagi dikuasai oleh mereka yang ahli, melainkan oleh mereka yang memiliki pengikut (followers). Hal ini menjadi ancaman nyata karena ketika jumlah like dianggap lebih benar daripada hasil penelitian, masyarakat akan kehilangan kemampuan untuk membedakan mana fakta dan mana yang sekadar opini.
Saat ini, mayoritas opini influencer kerap dianggap lebih meyakinkan dibandingkan penjelasan ahli yang berbasis data. Opini tersebut sering muncul dalam potongan video berdurasi singkat, dikemas secara menarik, lalu dibagikan ribuan kali dalam hitungan jam sehingga mudah dipercaya kebenarannya oleh publik. Ironisnya, semakin viral suatu konten, semakin besar pula peluang konten tersebut dipercaya. Padahal, seorang ahli menempuh proses akademik dan penelitian yang panjang untuk membangun otoritasnya, namun, di ruang digital, popularitas sering kali lebih menentukan dibanding kompetensi. Jumlah pengikut seolah menjadi ukuran baru kredibilitas. Misalnya, tidak sedikit pengguna media sosial seperti TikTok atau Instagram yang memilih membuat konten sensasional demi meraih popularitas instan daripada membangun citra atau karya secara bertahap.
Dapat kita lihat contohnya ketika seorang influencer dengan mudah menyebarkan tips diet ekstrem hanya melalui video singkat yang dikemas menarik. Publik langsung mempercayainya karena konten tersebut viral, padahal pembuat konten tidak memiliki latar belakang medis sama sekali. Sementara itu, dokter atau ahli gizi yang memaparkan risiko penyakit jangka panjang berdasarkan jurnal medis justru dianggap membosankan dan diabaikan. Dalam perspektif sosiologi, fenomena ini mencerminkan apa yang disebut Max Weber sebagai peralihan dari otoritas rasional ke otoritas karismatik, yaitu kepatuhan yang semula berbasis pada aturan formal beralih kepada kekaguman terhadap sosok individu. Halo effect dan confirmation bias membuat publik lebih mudah mempercayai figur yang disukai, bukan yang paling kompeten. Dengan kata lain, emosi sering mengalahkan rasionalitas dalam membangun kepercayaan.
Akar dari masalah ini terletak pada cara masyarakat mengonsumsi informasi tanpa proses filtrasi. Arus informasi yang ringkas dan instan telah melahirkan budaya instan yang menekankan hasil cepat dan kepuasan langsung. Akibatnya, banyak orang kehilangan kesabaran untuk membaca penjelasan panjang atau melakukan verifikasi sumber. Secara psikologis, fenomena ini berkaitan erat dengan Teori Beban Kognitif, yaitu kondisi ketika arus informasi yang datang bertubi-tubi membuat memori kerja otak kelebihan beban. Kondisi inilah yang memicu fenomena yang kini populer disebut sebagai brain rot.
Brain rot dapat didefinisikan sebagai suatu penurunan kualitas berpikir akibat terlalu sering mengonsumsi konten singkat dan dangkal. Menurut Oxford Word of the Year, brain rot menggambarkan penurunan kemampuan otak akibat terlalu sering mengonsumsi konten daring yang tidak atau kurang berkualitas. Masyarakat terbiasa menerima informasi tanpa analisis yang mendalam. Dampaknya kepakaran dapat kehilangan dapat kehilangan makna karena manusia tidak lagi memiliki energi mental untuk mencerna ilmu yang lebih kompleks. Jalur pintas melalui konten hiburan pasif lebih dipilih, sehingga motivasi belajar menurun dan nalar menjadi tumpul. Berdasarkan Global Digital Wellness Report, generasi muda menghabiskan lebih dari tujuh jam sehari di depan layar, dan sebagian besar hanya untuk konsumsi konten pasif seperti ini.
Dapat dianalisis pula, bahwa kebiasaan tersebut bukan sekedar pola hiburan, melainkan bentuk pelatihan mental yang keliru. Ketika individu terlalu sering mengonsumsi konten tanpa berpikir dan menganalisis membuat otak menjadi pasif dan kurang reflektif. Akibatnya, kemampuan untuk mempertanyakan informasi, menyusun argumen, dan mengevaluasi kebenaran semakin melemah. Dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi membentuk masyarakat yang mudah terpengaruh oleh informasi viral, tetapi miskin daya kritis. Durasi tujuh jam tersebut bukanlah sekadar angka, melainkan bentuk pelatihan ulang otak untuk hanya menerima rangsangan singkat. Hal ini melemahkan otot fokus dan kemampuan berpikir kritis karena otak terbiasa menerima informasi tanpa perlu mengolahnya secara mendalam. Selain itu, dominasi konsumsi konten pasif mengurangi kesempatan untuk melakukan aktivitas kreatif, interaksi langsung, maupun pengembangan keterampilan nyata yang menjadi fondasi masa depan.
Selain itu, ketergantungan masyarakat terhadap media sosial telah mencapai tahap yang mengkhawatirkan. Laporan Reuters Institute mencatat bahwa masyarakat Indonesia kini menjadikan media sosial sebagai sumber utama berita (57%), melampaui televisi (44%) dan media cetak yang hanya mencapai 10%. Ironisnya, meskipun media sosial mendominasi, tingkat kepercayaan masyarakat terhadap berita justru cenderung menurun. Hal ini membuktikan bahwa viralitas sering dianggap sebagai standar kebenaran baru meskipun kualitasnya belum dapat dipertanggung jawabkan.
Matinya kepakaran membawa dampak yang negatif bagi kehidupan sosial. Pergeseran kebenaran ilmiah yang kalah oleh konten sensasional membuat nalar publik melemah dan kemampuan membedakan fakta serta opini semakin menurun. Sebaliknya, media sosial memiliki potensi positif apabila digunakan secara bijaksana, media sosial dapat menjadi sarana bagi para ahli untuk menyebarkan pengetahuan secara luas dan komunikatif. Akan tetapi, legitimasi pakar yang diperoleh melalui pendidikan, riset, dan pengalaman profesional, suara mereka sering kali tenggelam di ruang digital. Hal ini disebabkan oleh bahasa akademik yang dianggap rumit, keterbatasan kemampuan komunikasi publik, dan proses ilmiah yang lambat dibanding viralitas konten. Akibatnya, informasi berbasis data sering kalah bersaing dengan opini dan sensasi.
Oleh karena itu, pentingnya bagi masyarakat untuk membiasakan diri berpikir kritis. Setiap menerima informasi, sebaiknya selalu mempertanyakan siapa yang menyampaikan, apa dasar datanya, dan dari mana sumbernya. Jika kondisi ini dibiarkan, bukan hanya kepakaran yang akan mati, melainkan juga kualitas nalar publik secara keseluruhan. Ketika nalar melemah, yang hilang bukan sekadar kebenaran ilmiah, melainkan kemampuan manusia untuk tetap berpijak pada realitas di tengah badai informasi instan.
Penulis: Anggita Puspa Aniendya
Penyunting: Nisrina Nur Rahmah
Ilustrator: Andien R


