Nama Kampus Dihafal, Sejarahnya Ditinggalkan

Sumber Foto JohnGemercik Media 2 Scaled

Nama Kampus Dihafal, Sejarahnya Ditinggalkan

Setiap tahun ajaran baru, ribuan mahasiswa mengenakan jaket almamater dengan bangga sebagai penanda identitas kampus yang mereka pilih. Namun ketika ditanya siapa tokoh yang namanya diabadikan menjadi identitas kampus tersebut, suasana sering kali berubah hening. Banyak yang terdiam, bukan karena enggan menjawab, melainkan karena memang tidak mengetahui jawabannya. Fenomena yang terus berulang ini menunjukkan bahwa nama besar yang setiap hari melekat di dada sering kali hanya dipahami sebagai identitas institusi, bukan sebagai pintu masuk untuk mengenali sejarah yang diwariskannya.

Ketika Nama Berhenti Menjadi Sejarah

Universitas Siliwangi menjadi salah contoh yang paling dekat untuk menggambarkan persoalan ini. Kampus ini melahirkan banyak lulusan berprestasi, dengan indeks prestasi tinggi dan rekam jejak organisasi yang mentereng. Namun ketika pertanyaan sederhana tentang asal-usul nama kampus diajukan, jawaban yang tepat justru sulit ditemukan. Siliwangi lebih dikenal sebagai nama universitas ketimbang sebagai tokoh yang menempati posisi penting dalam sejarah tanah Pasundan.

Pola serupa dapat ditemukan di tempat lain. Banyak mahasiswa Universitas Diponegoro mengetahui nama pahlawan yang menjadi identitas kampus mereka, tetapi kurang memahami dampak besar Perang Jawa yang dipimpinnya terhadap sejarah kolonial Belanda. Di Universitas Hasanuddin, nama besar itu justru lebih akrab sebagai nama bandara ketimbang sebagai gelar Raja Gowa ke-16 yang oleh Belanda dijuluki De Haantjes van het Oosten, Ayam Jantan dari Timur, karena keberaniannya melawan monopoli dagang VOC. Di Universitas Gadjah Mada, nama itu populer, tetapi makna Sumpah Palapa sebagai gagasan politik penyatuan Nusantara pada masa Majapahit jarang dipahami lebih dari sekadar hafalan pelajaran sekolah dasar.

Kesamaan pola ini menunjukkan menunjukkan bahwa dinamika tidak terletak pada satu kampus atau satu tokoh, melainkan pada cara kita memperlakukan nama sebagai identitas administratif belaka, bukan sebagai pintu masuk untuk mengenali sejarah.

Mengapa Hal Ini Terjadi?

Ketidaktahuan mahasiswa terhadap sejarah tokoh di balik nama kampusnya bukanlah sekadar kelalaian individu, melainkan gejala dari persoalan struktural yang lebih dalam dan terukur ini bermula jauh sebelum mahasiswa memasuki perguruan tinggi. Asosiasi Guru Sejarah Indonesia (AGSI) kerap menyoroti bahwa pembelajaran sejarah di sekolah masih terjebak pada pendekatan konvensional yang mengutamakan hafalan kronologi dan fakta kering, bukan pemaknaan peristiwa.

Akibatnya sejarah lebih sering dipahami sebagai sekumpulan informasi yang sifatnya hafalan untuk mengadapi ujian daripada sejarah sebagai sarana dalam membangun cara berpikir kritis. Kondisi ini diperparah oleh rendahnya fondasi literasi membaca nasional, sebagaimana tercermin dalam data Programme for International Student Assessment (PISA) secara konsisten menunjukkan bahwa kemampuan membaca siswa Indonesia masih berada pada level yang rendah, sehingga banyak siswa kesulitan memahami teks kompleks dan menarik inferensi.

Ketika pembelajaran sejarah yang berorientasi pada hafalan bertemu dengan literasi yang rendah, kemampuan berpikir historis (historical thinking) sulit berkembang.

Dampak tersebut terbawa hingga ke bangku kuliah. Mahasiswa sekadar mengenal nama pahlawan pada atribut almamaternya sebagai label administratif tanpa memahami konteks sejarah serta nilai perjuangan di baliknya. Nama yang seharusnya menjadi simbol identitas justru berubah menjadi monumen kosong yang dikenang bentuknya, tetapi tidak dipahami isinya. Lebih jauh lagi, lemahnya keterampilan berpikir historis untuk menguji sumber dan mengenali bias tidak hanya memutus relasi mahasiswa dengan identitas kampusnya, tetapi juga membuat mereka rentan terhadap disinformasi dan manipulasi narasi di media sosial.

Mengapa Hal Ini Penting?

Dalam memandang urgensi sejarah kampus, terdapat dua sudut pandang yang sama-sama masuk akal dan perlu dipertimbangkan. Ada yang beranggapan bahwa mahasiswa tidak perlu menjadi ahli sejarah kampusnya sendiri karena waktu dan energi mereka lebih baik dicurahkan pada kompetensi inti profesinya. Namun di sisi lain, mengenal tokoh di balik nama kampus justru merupakan bagian dari literasi dasar serta identitas yang disandang sehari-hari. Karena itu, persoalannya bukan tentang apakah sejarah kampus itu penting atau tidak, melainkan seberapa jauh institusi pendidikan mau menyediakan ruang kecil untuk memperkenalkannya.

Persoalan ini juga berkaitan dengan cara sebuah bangsa merawat ingatan kolektifnya sejarawan Prancis Pierre Nora menyebut simbol-simbol semacam ini sebagai lieux de mémoire atau “(tempat-tempat ingatan)”. Dalam kerangka tersebut, nama kampus bukan sekedar identitas administratif, melainkan pengingat akan nilai dan perjuangan yang diwariskan kepada generasi berikutnya. Tanpa pengetahuan yang memadai, nama itu berisiko menjadi monumen kosong yang dikenang bentuknya tetapi tidak dipahami maknanya. Oleh karena itu, perguruan tinggi memegang peran strategis dalam merawat ingatan sejarah.

Apa yang Tersisa dari Sejarah Kita?

Persoalan ini pada akhirnya bukan sekadar tentang mahasiswa yang tidak mengenal tokoh di balik nama kampusnya. Lebih lagi mengkhawatirkan ialah ketika pendidikan gagal menumbuhkan rasa ingin tahu terhadap sejarah yang paling dekat dengan kehidupan mereka sendiri. Jika nama yang setiap hari dikenakan di dada saja berhenti menjadi pintu masuk untuk memahami masa lalu, maka sejarah telah kehilangan salah satu fungsi terpentingnya yaitu membentuk cara berpikir kritis, identitas, dan kesadaran kolektif generasi penerus.

Penulis: Zaini Akhdan

Penyunting: Gessa Rizki Azzahra

Post Comment