Bagaimana Kapitalisme Menormalisasi Ketimpangan yang Tak Pernah Lahir dari Keteraturan Bumi

IMG 20260719 WA0011

Bagaimana Kapitalisme Menormalisasi Ketimpangan yang Tak Pernah Lahir dari Keteraturan Bumi

Manusia dan Kehidupan Komunal Sebelum Kapitalisme

Sejak 4,6 miliar tahun lalu, bumi bergerak dan bertumbuh selaras, berjalan beriringan tanpa adanya hierarki. Setiap makhluk hidup, debu, maupun batu memiliki peran untuk keberlangsungan sistem alami yang ada di bumi. Bumi memiliki keteraturan yang menjaga keberlangsungan kehidupan di dalamnya. Sistem yang mengatur kehidupan di bumi bersifat selaras, tidak ada hierarki mutlak, tidak ada si miskin dan si kaya, serta tidak ada kelompok yang hidup dari akumulasi kerja kelompok lainnya.

Bentuk keterhubungan dan keseimbangan di bumi tercermin dari hutan hujan tropis. Setiap makhluk memiliki perannya masing-masing, pepohonan menghasilkan oksigen, burung-burung bertugas menyebar biji pohon, jamur hutan dan serangga memakan bangkai rusa lalu menghasilkan tanah yang subur, lalu tanah menyimpan sisa-sisa kehidupan di dalamnya.

Pada masa Paleolitikum, manusia purba berburu dan mengumpulkan makanan untuk bertahan hidup. Mereka bermigrasi dari satu wilayah ke wilayah lain tanpa mengenal kepemilikan atas sebidang lahan dan tanpa perlu memikirkan otoritas yang ada di wilayah tersebut. Manusia pada saat itu tidak memiliki dorongan untuk menimbun atau menguasai sumber daya secara berlebihan. Bumi bebas untuk dikunjungi, tidak ada garis-garis imajiner yang dibentuk dari suatu kekuasaan.

Kemudian, tidak hanya sampai masa prasejarah, manusia masih hidup selaras dengan alam walaupun sudah mengenal budaya dan juga sistem sosial. Masyarakat tradisional adalah masyarakat yang hidup berdampingan dengan alam, mereka memanfaatkan alam untuk kebutuhan hidupnya. Mereka memegang nilai ekosentrisme, yang diwujudkan melalui pembentukan hutan larangan, sungai adat, dan peraturan seperti “pamali”. Hutan dan alam memiliki nilainya tersendiri, tidak bergantung pada penilaian manusia. Selain hubungan dengan alam, kehidupan sosial masyarakat tradisional yang komunal tidak melahirkan ketimpangan sistemik, karena setiap anggota masyarakat menjalankan peran sosial untuk memenuhi kebutuhan bersama. 

Revolusi Industri dan Lahirnya Logika Kapitalisme

Lalu, kapan keseimbangan itu mulai berubah? Kapan “peran” berubah menjadi “pangkat” dan “kebutuhan” berubah menjadi “akumulasi”? Jawabannya tidak lahir dalam satu malam, tetapi salah satu titik penting dapat ditelusuri ke tahun 1769 silam. Ketika James Watt menyempurnakan mesin uap yang kemudian mempercepat laju Revolusi Industri. Penemuan ini menjadi alat yang memungkinkan produksi bergerak dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya. Dari perubahan ini, lahir logika produksi baru yang tidak lagi berorientasi pada kebutuhan, melainkan menuju penguasaan sumber daya, sebuah kondisi yang kemudian dibedah Karl Marx dalam buku Das Kapital.

Dalam Das Kapital, Karl Marx menjelaskan bahwa kapitalisme adalah mode produksi yang ditujukan untuk mencapai keuntungan setinggi-tingginya yang didapat melalui proses produksi dengan mengeksploitasi para pekerja yang menghasilkannya. Logika ini mengubah cara pandang manusia dalam melihat sesama dan alam. Relasi sosial dihitung berdasarkan  keuntungan material, serta hutan dianggap lahan kosong yang harus diolah demi keuntungan perusahaan. Sistem ini juga menjauhkan manusia dari alam, bahkan untuk sekadar mengetahui asal makanan yang mereka konsumsi saat makan siang. Manusia tidak lagi dilihat sebagai individu utuh, melainkan sekadar tenaga kerja, sementara alam dipandang hanya sebagai bahan baku produksi.

Dampak nyata dari sistem eksploitasi tersebut dapat kita lihat pada kehidupan kapitalisme saat ini. Dalam data World Inequality Report (2022), 10% populasi dunia menguasai 76% dari seluruh kekayaan. Data tersebut menunjukkan bahwa ketimpangan bukan sekadar asumsi, tetapi nyata dalam kehidupan masyarakat modern. Bumi yang sebenarnya dapat menghidupi mahluk hidup di dalamnya, tetapi dikalahkan keserakahan sekelompok kecil manusia.

Kapitalisme Modern dan Normalisasi Ketimpangan

Dalam dunia modern, kapitalisme masuk seutuhnya ke dalam kehidupan manusia. Mekanisme tersebut dianggap memberikan kehendak bebas bagi setiap individu. Pada kenyataannya, kapitalisme hanya memberi harapan kebebasan, individu pekerja sedang dieksploitasi oleh pemilik modal yang mengambil keuntungan dari nilai yang tidak diberikan kepada pekerja. Sistem ini juga mendorong masyarakat untuk terus mengonsumsi, bahkan melampaui kebutuhan hidupnya. Kapitalisme menawarkan kompetisi yang tampak bebas, padahal setiap individu tidak memulai dari titik yang setara. Mereka yang sejak awal memiliki modal, akses, dan peluang lebih besar akan jauh lebih mudah mendominasi dibanding mereka yang hanya memiliki tenaga untuk bertahan hidup.

Mayoritas masyarakat modern menganggap ketimpangan sebagai hal yang alami. Beberapa dari mereka kerap menganggap ketimpangan sebagai bentuk konsekuensi dari “hukum rimba”, di mana yang lemah akan dikalahkan oleh yang lebih kuat. Hal ini menjadi argumentasi dari pelabelan ketimpangan sebagai hal yang wajar dalam kehidupan. Seperti singa yang memangsa rusa sebagai buruannya, tanpa melihat bahwa sang singa memburu untuk mengisi perutnya, bukan untuk disimpan dan memonopoli seluruh padang rumput agar singa lain kelaparan. Pandangan tersebut sering kali mengabaikan bahwa kompetisi di alam tidak bekerja melalui penumpukan dan monopoli tanpa batas. Walaupun alam liar memiliki kompetisi dan dominasi sementara, namun alam liar bukanlah panggung untuk dominasi sistemik, melainkan hubungan ekologis yang saling bergantung satu sama lain.

Pada akhirnya, kapitalisme lebih dari sekadar mengubah cara manusia bekerja dan mengonsumsi, tetapi juga mengubah cara manusia memahami kehidupan. Ketimpangan yang sebenarnya lahir dari sistem perlahan dianggap sebagai hukum alam yang tidak bisa dihindari. Manusia modern terbiasa melihat persaingan, dominasi, dan akumulasi sebagai tanda kemajuan, sementara keseimbangan dan keterhubungan dianggap sebagai sesuatu yang utopis. Padahal, bumi selama miliaran tahun menunjukkan bahwa keberlangsungan hidup tidak dibangun melalui penumpukan tanpa batas, melainkan melalui hubungan yang saling menopang antara satu kehidupan dengan kehidupan lainnya. Ketika manusia mulai menerima ketimpangan sebagai kewajaran, mungkin sejak saat itu manusia perlahan menjauh dari keteraturan yang sejak awal menjaga keberlangsungan bumi.

Penulis: Rendi

Penyunting Nisrina

Ilustrator: Andien

Post Comment