Pembelajaran Serba Daring, Tingkat Pemahaman Pelajar/Mahasiswa pun Dipertanyakan.

Oleh: Najmi Muhammad Agus

Mengingat di situasi pandemi COVID-19 saat ini. Di mana segala bentuk kegiatan belajar-mengajar menggunakan media online. Patut untuk dipertanyakan, tentang seberapa efektif dan efisien kah pembelajaran daring saat ini? Apakah bisa pihak guru/dosen selaku penyampai materi memastikan secara pasti, apakah peserta didiknya paham sepenuhnya akan materi yang disampaikan?

Konkretnya, jawaban atas seberapa efektif dan efisienkah pembelajaran daring saat ini adalah sangat tidak efektif dan efisien. Kemudian, jawaban atas pemastian pemahaman materi yang disampaikan oleh guru/dosen tentunya masih patut untuk dipertanyakan. Perlu untuk disadari secara saksama, Hal ini tentulah menjadi suatu bentuk problematika yang sedang dihadapi oleh para peserta didik dan tentunya hal ini patut untuk diselesaikan secara saksama. Baik itu dari tenaga pendidiknya yaitu guru/dosen, maupun dari objek pembelajaran itu sendiri yaitu peserta didik yang tak lain dan tak bukan ialah murid atau mahasiswa. Perlu menjadi suatu perhatian secara saksama, bahwasanya kita selaku pelajar/mahasiswa selalu mempunyai tuntutan dari guru/dosen, supaya bagaimana caranya materi yang disampaikan guru/dosen bisa dipahami dengan sebaik mungkin. Akan tetapi, hal ini tidak selaras dengan pengaplikasian daripada proses penyampaian materi itu sendiri.

Di situasi saat ini,yang kita bisa katakana sangatlah kompleks untuk kegiatan belajar-mengajar dalam hal penyampaian materi secara daring. Sepantasnya seorang guru/dosen dituntut untuk bisa lebih berinovasi dalam segi penyampaian materi, supaya lebih relevan dengan situasi yang ada. Walaupun kita ketahui, bahwasanya perumusan dari metode yang digunakan itu tidaklah mudah. Tetapi, hal ini bukanlah suatu hal yang patut untuk dikeluhkan oleh tenaga pendidik. Justru, hal ini merupakan suatu momentum bagaimana caranya seorang tenaga pendidik bisa lebih berinovasi dan berkreasi, dari segi teknis penyampaian materi.

Nyatanya hal itu kurang terealisasi. Tidak sedikit guru/dosen masih merasa kebingungan dan tetap menggunakan cara penyampaian yang sama, seperti halnya proses penyampaian materi secara luring. Akan tetapi, cara yang seperti itu sudah sangat tidak relevan dan sangat tidak efektif dan efisien, ketika digunakan dalam kegiatan proses penyampaian materi secara daring. Hal seperti ini, yang banyak menyebabkan pelajar/mahasiswa tidak bisa sepenuhnya memahami apa yang guru/dosen sampaikan. Kemudian, evaluasi yang selalu guru/dosen tekankan untuk mengukur pemahaman pelajar/mahasiswa adalah dengan adanya tugas dan ujian seperti UTS dan UAS. Akan tetapi perlu disadari, sebenarnya banyak metode-metode yang bisa dikatakan menyenangkan dalam hal pengukuran pemahaman siswa atau mahasiswa.

Dalam metode umum yang digunakan ini, yaitu dengan memiliki tujuan untuk mengukur tingkat pemahaman pelajar/mahasiswa terhadap materi yang disampaikan patut untuk dipertanyakan. Kebanyakan, guru/dosen berdalih bahwasanya dengan adanya tugas dan ujian, itu sudah lebih dari cukup untuk menguji seberapa pahamkah pelajar/mahasiswa terhadap materi yang telah disampaikan. Nyatanya, pihak guru/dosen pun pasti sudah mengetahui, bahwasanya sistem pengerjaan tugas dan ujian pun ketika dilihat dari tingkat integritasnya patut untuk dipertanyakan. Sangatlah lucu bukan?

Tak terlepas dari hal itu, dari faktor segi media yang digunakan dan jaringan internet, itu pun mempunyai dampak yang sangat signifikan untuk keberlangsungan pemahaman siswa/mahasiswa terhadap pembelajaran. Nyatanya, perihal ini pun tidak bisa disamaratakan oleh pihak guru/dosen. Kembali lagi, ini merupakan suatu hal yang harus dipertimbangkan dalam penggunaan metode pembelajaran secara daring. Memang ini terkesan sulit dan cukup berat. Akan tetapi, ini bisa dijadikan sebagai momentum untuk terus berinovasi dan bersinergi dalam ranah penerapan pemahaman pembelajaran kepada siswa/mahasiswa.

Berangkat dari apa yang telah dipaparkan di atas, perlu adanya suatu konklusi dan solusi atas permasalahan tersebut. Perlu disadari secara saksama, kebanyakan berbagai tuntutan yang disampaikan oleh guru/dosen tidak sedikit yang memang mempunyai dampak yang sangat potensial bagi sebagian pelajar/mahasiswa. Hal ini bisa ditinjau dari media yang harus digunakan, perangkat yang tidak mendukung, dan masih banyak lagi. Akan tetapi, persepsi ini muncul atas dasar keresahan daripada proses penyampaian materi yang tak sedikit mengacu terhadap situasi yang sedang kita alami. Apakah perlu adanya pengkajian ulang kembali? Tentunya untuk mencapai tahap keberhasilan dalam pembelajaran, hal ini sangatlah penting untuk dilakukan. Ada beberapa bentuk penyelesaian masalah atau solusi yang seharusnya kita pun sadari. Solusinya, sebaiknya setiap guru/dosen bisa lebih memfasilitasi seperti halnya, ruang diskusi untuk pelajar/mahasiswa sebelum melaksanakan sesi pembelajaran secara berkelanjutan.

Dari segi perumusan metode pembelajaran, keberadaan siswa atau mahasiswa tentunya akan memberikan dampak yang sangat penting dalam keberlanjutan pembelajaran yang akan dilangsungkan, seminimal mungkin satu atau dua kali sebelum pelaksanaan pembelajaran dimulai. Hal ini agar siswa atau mahasiswa bisa memberikan kreasi dan ekspresinya, ketika ingin memberikan inovasi terhadap proses penyampaian materi di tengah wabah pandemi COVID-19 ini.

Tujuannya, supaya bisa menciptakan suatu proses penyampaian materi yang tidak memberatkan dan menyenangkan antar satu sama lain. Sehingga, bisa menciptakan suatu kegiatan penyampaian materi yang penuh akan inovasi dan ekspresi, serta bisa lebih dekat dengan terwujudnya sistem kegiatan pembelajaran ke tahap keberhasilan. Hal ini merupakan salah satu cita-cita, yang tentunya sangat diharapkan baik oleh tenaga pendidik maupun oleh peserta didik. Dalam hal ini, tantangan transformatif metode pembelajaran perlu terus digaungkan kembali.

Penyunting: Rini

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed