Corona Menggugat

Di tiang-tiang listrik corona menggugat,
pada tiap-tiap punggung keluarga yang dipecat lalu hari-harinya jadi sarungan,
bocah kecil yang merah pantat karena ketahuan emak main layangan,
remaja beruntusan yang sirna janjinya kepingin apel malam mingguan,
lalu emak yang deg-degan memilih sayur dan daging buat santapan.

Di got-got mampet corona menggugat,
pada rumah sakit yang kalah pengunjung dari toko baju hari raya,
pingsan koki warteg dan abang kaki lima yang berdo’a “jajan dong jangan di rumah aja”,
lae-lae tambal ban yang mulai tambal dompet karena tersadar pasak melejit daripada tiangnya,
lalu ruang tamu pak RT yang sepi dari tanda tangan pengantar bikin KTP para muda-mudinya.

Di sela-sela ketiak pemulung corona menggugat,
pada jutaan manusia yang mulai bercumbu mesra dengan guling dan bantal,
tunawisma yang bergidik mengelap keringat dingin di dahi karena lapar yang mengekal,
agen rahasia yang mulai rindu langkah kaki jamaah masjid supaya tukar dan embat sandal,
lalu pijak kaki yang tak lagi bercuan bagi pedagang cuanki metal.

Di judul berita, opini, cuit twitter, kebijakan, dan serba-serbi surat edaran, corona menggugat,
sekitar tiga bulan aku diramai-bincangkan,
jadi tema diskusi daring sana-sini,
sumpah serapah anjing babi terlontar padaku yang mungil ini,
bahkan kalian pun tak mengenali wajahku sama sekali,
coba pantau sesekali hasil coblosanmu,
kaji lagi, dalami, selami, kernyitkan dahi,
hayo, mau akrab sama mereka atau akrab sama aku?

(Ocean, 2020)

Penulis: @ocean_odd (Pendidikan Bahasa Indonesia 2018)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed