Nilai Kaderisasi Fakultas Stagnan, Akademisi Dorong Evaluasi Substantif

1788f250 8df3 45dc B187 91b500748db9

Nilai Kaderisasi Fakultas Stagnan, Akademisi Dorong Evaluasi Substantif

Gemercik News–Universitas Siliwangi (16/10). Pelaksanaan kaderisasi mahasiswa tingkat fakultas di Universitas Siliwangi (Unsil) dinilai perlu direkonstruksi secara total agar tetap relevan dengan kebutuhan mahasiswa. Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Triananda Genedin, S.Sos., M.Si., menyatakan bahwa pola kaderisasi saat ini cenderung stagnan dan masih terjebak pada metode lama yang kurang substantif dalam membentuk karakter mahasiswa.

“Pola kaderisasi yang berlaku saat ini hampir tidak ada inovasi. Kultur senioritas, sikap arogan, dan ajang unjuk kebolehan kakak tingkat masih sering ditemukan, sementara nilai esensial transfer ilmu dan pembentukan karakter justru terabaikan,” ujar Genedin kepada Gemercik, pada Kamis (15/10).

Genedin menambahkan bahwa kultur lama tersebut menjadi salah satu faktor utama penurunan antusiasme, serta rasa memiliki mahasiswa terhadap Organisasi Mahasiswa (Ormawa). Selain itu, metode pembentukan disiplin yang mengandalkan tekanan mental atau tindakan intimidatif dinilai sudah tidak efektif lagi untuk diterapkan kepada generasi mahasiswa saat ini.

“Untuk melatih mentalitas tidak harus dengan teriak-teriak atau menekan mahasiswa. Metode mendengarkan ceramah berjam-jam, lalu dihakimi masalah sepele seperti atribut juga harus diubah,” tambahnya.

Lebih lanjut, Genedin menyoroti pergeseran fokus mahasiswa yang kini lebih memprioritaskan peningkatan keterampilan praktis seperti magang, dibandingkan sekadar pengalaman berorganisasi. Karena itu, Ormawa di tingkat fakultas dituntut untuk menghadirkan program kerja yang memiliki keterukuran dan dampak nyata.

“Dunia kerja sekarang lebih melihat pengalaman kerja relevan seperti internship. Organisasi itu penting sebagai miniatur budaya kerja, tetapi syaratnya harus dikelola dengan baik dan dampaknya terasa nyata bagi mahasiswa,” ungkapnya.

Terakhir, guna memperbaiki sistem kaderisasi ke depan, Genedin menyarankan agar pola pasif diubah menjadi keterlibatan langsung mahasiswa dalam proyek organisasi. Genedin juga mendorong adanya pendampingan dari dosen pembimbing agar memastikan arah serta evaluasi kegiatan Ormawa dapat berjalan secara terstruktur dan terarah.

“Proses kaderisasi itu harusnya dibuat menyenangkan dan inklusif. Libatkan mahasiswa baru secara langsung dalam proyek organisasi agar mereka merasa dirangkul dan merasakan manfaatnya secara nyata,” tutupnya.

Tim:
Reporter: Diyah Permata, NurAlliyah

Penulis: Zaky Muhammad Alimin

Penyunting: Diyani Rahayu

Post Comment