Aksi Simbolik “Siliwangi Melawan” Warnai Keresahan Mahasiswa Unsil atas Kondisi Negara

Aksi Simbolik

Aksi Simbolik “Siliwangi Melawan” Warnai Keresahan Mahasiswa Unsil atas Kondisi Negara

Gemercik News–Tasikmalaya (20/06). Mahasiswa Universitas Siliwangi (Unsil) menggelar aksi simbolik bertajuk “Siliwangi Melawan, di Bawah Bayang-Bayang Rezim Otoriter” di Taman Kota Tasikmalaya, pada Jumat (19/06). Aksi yang diinisiasi oleh gerakan kolektif mahasiswa ini merupakan bentuk keresahan terhadap kondisi sosial dan ekonomi negara saat ini. Andi Maulana, koordinator lapangan, menjelaskan bahwa aksi ini dipicu oleh keresahan mahasiswa terhadap berbagai program strategis nasional. 

Adapun tuntutan yang dibawa meliputi: a) penghentian pemborosan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), b) menghentikan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), c) penarikan kembali Rancangan Undang-Undang Kepolisian Republik Indonesia (RUU Polri) dan Rancangan Undang-Undang Tentara Nasional Indonesia (RUU TNI), serta d) desakan kebijakan pemerintah terkait kenaikan kurs dolar dan harga bahan bakar minyak (BBM).

“Kita sebagai mahasiswa Siliwangi sudah resah dengan kondisi negara ini, entah situasi sosial ataupun situasi ekonomi. Tuntutannya tidak jauh dari program strategis nasional. Itu saya rasa perlu adanya kebijakan baru dari pemerintah untuk membereskan terkait permasalahan ini,” ungkap Andi kepada Gemercik, pada Jumat (19/06).

Andi menambahkan bahwa program MBG dan KDMP dinilai belum memberikan dampak yang signifikan bagi kesejahteraan guru, termasuk Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja Guru (PPPK) dan honorer. Andi juga menyoroti kontradiksi atas rencana pengesahan RUU Polri dan RUU TNI, serta kasus penggusuran lahan tani di Karangjaya oleh pihak militer.

“Apalagi dengan kemarin di Karangjaya, adanya penggusuran lahan tani, lahan para petani gitu oleh para pihak militer, itu membuat kami sangat resah dengan kondisi negara kali ini,” ujarnya.

Kemudian, Andi menyampaikan bahwa secara teknis, sebelum aksi digelar, mahasiswa dari berbagai fakultas di Unsil telah melakukan kajian dan konsolidasi untuk menentukan isu-isu yang akan diangkat, hingga akhirnya disepakati bahwa gerakan kali ini diwujudkan dalam bentuk aksi simbolik.

“Kemarin kami dengan para fakultas yang ada di Unsil tentunya melakukan kajian dan juga konsolidasi terkait isu-isu apa saja yang ingin diangkat dan juga apa yang ingin dilaksanakan dalam gerakan ini,” tambahnya.

Lebih lanjut, Andi menegaskan bahwa sebagai langkah keberlanjutan untuk mengawal tuntutan tersebut, aliansi mahasiswa akan terus menggelar aksi perlawanan, meski belum ada tuntutan yang dirincikan secara menyeluruh karena aksi ini masih berada pada tahap formulasi.

“Kami akan gelarkan perlawanan di mana pun, kapan pun, dan dengan siapa pun. Tentunya ini gerakan kolektif, itu yang harus digarisbawahi. Kita seharusnya tanpa ada tuntutan pun, kita seharusnya sudah aware dengan kondisi sosial politik dan juga negara hari ini,” tegasnya.

Sebagai penutup, Andi berharap aksi simbolik ini mampu menyerap aspirasi masyarakat secara langsung untuk kemudian dikolektifkan dalam gerakan selanjutnya dan mengajak seluruh mahasiswa Unsil untuk turut bergerak bersama.

Output daripada aksi ini adalah untuk menyerap keluhan dan aspirasi dari masyarakat secara langsung. Kepada mahasiswa Siliwangi, Ayo kita bergerak, Indonesia sedang tidak baik-baik saja,” tutupnya.

Penulis: Neng Rivha Darojatul Hasanah

Penyunting: Mutia Rahma Aprianti 

Post Comment