Tempat Berpulang yang Nyaris Luput dari Ingatan

Oleh, Anisa Tri Wijayanti

Akuntansi 2018

Riuh pekik pedagang kaki lima yang menjajakan dagangannya menggoda para pejalan kaki yang melintas. Berharap mereka tertarik untuk sekadar bertanya-tanya, atau lebih jauhnya membeli. Tak mau kalah, komplek pertokoan megah pun ingin turut memikat hati sang pembawa rupiah. Mulut yang dipenuhi busa tak jadi halangan berkicau di hadapan pengeras suara agar setidaknya hari ini membawa hasil ke rumah. Pejalan kaki juga mesti berhati-hati, sebab sedikit saja lengah, pedagang kaki lima akan jadi korban kesialannya.

Ramai kendaraan berlalu lalang di jalanan sudah pasti menambah lengkap daftar kemacetan. Wajar saja, banyak yang mengatakan bahwa jalanan ini terkenal dengan julukan surga dunianya para pencinta belanja. Jalanan yang membentang sepanjang 2,5 Km ini terletak tepat di jantung Kota Tasikmalaya. Sebagai sebuah jantung kota, jalanan ini merepresentasikan bagaimana kehidupan di perkotaan berlangsung, pusat perbelanjaan, pendidikan, tempat hiburan, hingga berlangsungnya proses perekonomian masyarakat Kota Tasikmalaya. Siapa pun yang pernah menyambangi kota santri ini, pasti akrab dengan nama jalanan ini. Yap, Jalan K.H. Zainal Musthafa (Mustofa).

Mayoritas masyarakat di kota santri ini, sedikit banyak akan mengetahui mengapa akhirnya jalan ini dinamakan K.H.Z Mustofa. Sebab, salah satu ulama termasyhur sekaligus seorang pahlawan nasional berasal dari kota ini, beliau bernama KH. Zainal Musthafa. Pahlawan yang turut berjasa dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia hingga penghujung usianya. Bahkan, namanya bukan hanya diabadikan menjadi nama sebuah jalan, melainkan juga tugu. Terdapat sebuah tugu berbahan perunggu, berlafadzkan Allah dengan huruf hijaiyah yang terletak di tengah Bundaran By Pass-Linggajaya. Tugu ini lantas diberi nama Tugu KH. Zainal Musthafa dengan kolam dan taman kecil di sekelilingnya.

Berawal dari titik ini pula, saya mencoba mengunjungi sebuah tempat yang bernilai sejarah tinggi. Mencoba menelusuri sebuah taman, yang nampaknya akrab di telinga masyarakat Tasikmalaya, namun seperti jarang menjadi perhatian. Bagi sebagian kalangan, taman ini akan menjadi titik tolak ukur seberapa jauh kehidupan dapat berguna. Sebab, di taman ini pula ada puluhan jasad yang bersemayam bersama julukan pahlawan nasionalnya.

Berkawan dengan rintik air yang berjatuhan dari langit sejak pagi hari. Bersamaan dengan proses pendinginan yang tak kunjung berhenti, mengunjungi satu sudut di Kabupaten Tasikmalaya. Berangkat dari sekitar Bantar menuju peristirahatan terakhir Sang Pahlawan. Tepatnya, Taman Makam Pahlawan yang terletak di Desa Sukarapih, Kecamatan Sukarame, Kabupaten Tasikmalaya. Melalui telepon pintar, aplikasi peta digital pun digunakan untuk mengarahkan ke tempat tujuan. Butuh waktu sekitar 40 menit menembus jalanan sebelum akhirnya sampai di Taman Makam Pahlawan, tepatnya makam KH. Zainal Musthafa. Letaknya tak jauh dari Pondok Pesantren yang didirikan oleh almarhum ketika masih hidup, yakni Pondok Pesantren Sukamanah.

Makam yang bernuansa serba putih ini didirikan pada tahun 1972. Di lahan wakaf keluarga dengan luas sekitar satu hektar inilah bersemayam jasad KH. Zainal Musthafa.

Usai memarkirkan sepeda motor, kedatangan saya rupanya disambut hangat oleh Bapak Ois Mukhlis. Beliau merupakan salah satu keturunan keluarga KH. Zainal Musthafa, yang sehari-hari bertugas mengurus dan memelihara makam. Bersama Pak Ois pula, seluruh informasi sejarah terkait KH. Zainal Musthafa sejak pembangunan yang terus dilakukan di sekitar makam.

Tak ingin terlalu lama menyimpan rasa penasaran tentang bagaimana kisah perjuangan Sang Kiai, hingga menghembuskan nafas terakhir untuk kemudian disemayamkan. KH. Zainal Musthafa bernama asli Hudaemi. Menghembuskan nafas terakhirnya karena dijatuhi hukuman mati oleh pemerintah Jepang pada 25 Oktober 1944. Untuk selanjutnya disemayamkan di Taman Makam Pahlawan Belanda Ancol, Jakarta,

Pria yang akrab disapa Ois oleh warga sekitar ini menjawab semua pertanyaan yang diajukan. Pak Ois kemudian menjelaskan asal mula dipindahkannya makam KH. Zainal Musthafa yang semula berlokasi di TMP Ancol, menjadi berlokasi di TMP KH. Zainal Musthafa seperti saat ini. Bermula dari beredarnya kabar bahwa usai dihukum mati oleh pemerintah Jepang, sejak itulah kabar keberadaan makam pahlawan nasional itu tidak diketahui letaknya.

Kolonel Syarif Hidayat yang bertugas di Angkatan Darat, merupakan seorang santri di pondok pesantrennya meminta Kepala Pusat Sejarah ABRI, Kolonel Nugraha Natosusanto untuk mencari keberadaan makam. Pencarian diteruskan hingga mengajukan permohonan data kepada pemerintah Jepang. Pencarian berakhir manis, makam KH. Zainal Musthafa ditemukan bersama 17 santrinya yang juga gugur karena dihukum mati oleh pemerintah Jepang.

Menurut Pak Ois, karena pemakaman bergabung dengan makam Belanda, maka nisannya berbentuk salib. Oleh karena itu, tanpa berpikir lama, jenazah KH. Zainal Musthafa bersama 17 santrinya kemudian dipindahkan ke Tasikmalaya pada 25 Agustus 1972.

Pak Ois mengatakan bahwa akan dilakukan pembangunan masjid agar memudahkan peziarah ketika ingin beribadah. Sebab biasanya, peziarah yang ingin beribadah harus pergi ke wilayah pesantren yang letaknya sekitar 1 Km dari lokasi makam. Rencana pembangunan lainnya adalah gedung pertemuan, museum, hingga perpustakaan.

Pak Ois dengan penuh keikhlasan hatinya merawat makam ini. Beliau menuturkan bahwa dirinya hanya mendapatkan upah sebesar 600 ribu dari pemerintah provinsi setiap bulannya. Beliau selalu antusias memperbaiki area pemakaman demi memberikan kenyamanan bagi para peziarah.

Di sekitar area makam juga terdapat sebuah tugu mirip bambu runcing yang merupakan simbol perjuangan melawan penjajah pada zaman dahulu. Uniknya, bambu runcing ini juga memiliki filosofi tersendiri, yakni berjumlah lima buah. Menandakan jumlah Rukun Islam yang dijunjung tinggi oleh umat muslim. Di sampingnya, terdapat sebuah tugu yang berisi ringkasan sejarah gugurnya KH. Zainal Musthafa, siapa saja yang disemayamkan di area itu. Hingga surat Keputusan Presiden tentang Gelar Pahlawan Nasional yang diberikan kepada KH. Zainal Musthafa.

Kini, pusara pemakaman ini banyak dikunjungi para peziarah yang datang dari berbagai penjuru negeri. Tidak banyak yang mereka lakukan, sekadar melantunkan ayat suci dan doa bersama, hingga menaburi bunga di sekitar makam. Tak hanya menjadi tempat ziarah, di sekitar makam juga terdapat tiang bendera yang digunakan untuk upacara ketika memperingati hari-hari besar nasional. Hal ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan bagi para pahlawan nasional yang gugur dan disemayamkan di area tersebut.

Pak Ois juga menjelaskan bahwa setiap tanggal 25 Februari, terdapat sebuah agenda rutin. Sebuah kegiatan napaktilas yang dilakukan oleh para santri dengan berjalan kaki sekitar 20 Km. Hal ini dimaksudkan sebagai Haul, sekaligus bertujuan untuk mengenang dan menghormati KH. Zainal Musthafa, sebagai panutan dalam menjadi contoh bagi kehidupan.

Setelah hampir satu jam bercengkerama sembari diiringi suara rintik hujan, Pak Ois memberikan sebuah wejangan khas orang tua, yang sekaligus seperti pesan bagi kita semua.

“Dari semua kalangan diberikan kesadaran, kewajiban, tanggung jawab semuanya. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa-jasa para pahlawan. Ya, menghormati kita mengolah, merawat, jangan sampai kita lupa sejarah.” Tutur Pak Ois serius sehingga menampakkan jelas kerutan di wajah parubayanya.

Hal ini membuat saya ikut tersadar, apakah kita sudah menghormati jasa para pahlawan? Atau justru menjadi warga yang abai akan perjuangan para pahlawan? Jangan sampai kita lupa mengenai sejarah pahlawan kita yang sudah bertaruh nyawa demi negara yang mereka cintai.

Penyunting: Jihan Fadhilah

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed