Mahasiswa Unsil Gelar Aksi Tolak Kekerasan Seksual di Kampus

Gemercik News-Universitas Siliwangi (25/04). Lebih dari 50 mahasiswa Unsil dari berbagai fakultas melakukan aksi solidaritas, dalam rangka memperingati Hari Kartini pada Sabtu (24/04). Diusung oleh BEM Unsil, aksi tersebut bertempat di depan Gerbang Utama Universitas Siliwangi. Disampaikan oleh Ketua BEM Unsil, secara general aksi ini bertujuan menggertak lembaga Unsil untuk menolak kekerasan seksual yang terjadi di dalam kampus.

Sumber Foto : Annisa/Gemercik Media

“Secara general sebenarnya ini buat tamparan juga gertakan di Unsil jika memang nantinya bakal terbongkar kasus-kasus kekerasan seksual di Unsil ini. Ya, mereka akan tahu akibatnya seperti apa. Itu yang kita harapkan dan kita juga berharap masyarakat sadar bahwa kampus bukan tempat yang aman sebenarnya, “ tutur Gilang Gustiawan selaku Ketua BEM Universitas Siliwangi.

“Kita aksi di luar lingkungan Unsil itu untuk menarik perhatian masyarakat itu sendiri, agar paham (bahwa) ternyata kampus bukan tempat yang aman bagi seluruh perempuan ataupun laki-laki. Ya, ternyata kampus pun menjadi salah satu tempat bagi mereka penjahat-penjahat untuk menjalankan aksinya itu. Yang pertama, kita di sini ingin mengedukasi tentang hal tersebut,” lanjut Gilang.

Gilang menyingung bahwa aksi ini dimaksudkan untuk membangun solidaritas bagi korban kekerasan seksual. Korban selama ini dibungkam, sehingga tidak berani speak up untuk mengadu. Para korban kekerasan seksual akan dibersamai oleh BEM Unsil dan mahasiswa lainnya.

Menurut Gilang, meskipun aksi ini tidak tertuju untuk kampus Unsil, BEM Unsil akan tetap memberi ruang dengan menyediakan advokesma untuk menjaring individu atau kelompok penyintas korban pelecehan seksual. Advokesma tersebut akan menjamin keprivasian para korban untuk mengadu soal kekerasan seksual yang dialaminya. Poin-poin yang dituntut dalam aksi solidaritas ini, antara lain:

  1. Bersihkan kampus dari permasalahan kekerasan seksual.
  2. Hukum dan adili pelaku kekerasan seksual sampai jera.
  3. Berikan edukasi dan pelayanan aduan kekerasan di kampus.
  4. Segera selesaikan dan sahkan rancangan Permendikbud terkait kekerasan seksual di kampus.
  5. Jadikan kampus sebagai tempat yang aman, nyaman, dan bebas kekerasan verbal, fisik, maupun seksual.
  6. Rangkul dan dukung penyintas untuk terus berjuang mencari keadilan.

Gilang juga menuturkan bahwa di lingkungan kampus Unsil rawan terjadi pelecehan seksual. Banyak kasus pelecehan seksual secara verbal terjadi. Akan tetapi, kejadian kekerasan seksual belum mendapatkan bukti-bukti yang pas, sehingga masih dinyatakan sebagai isu.

“Untuk masalah kekerasan seksual dari saya pribadi jika berbicara fakta itu harus disertakan dengan bukti, walaupun ada isu kekerasan seksual. Jika berbicara pelecehan itukan ada yang secara verbal. Itu banyak (terjadi) di Unsil (ketika) cewek cantik lewat digodain. Berarti (pelecehan itu) ada,” jelas Gilang Gustiawan.

Aksi yang sama juga terjadi di Alun-Alun Kota Tasikmalaya yang diusung oleh Aliansi BEM Tasikmalaya (ABT). Alasan BEM Unsil mengadakan aksi di titik yang berbeda dengan aksi ABT,  karena sebagai sikap politik BEM Unsil dan sebagai gertakan untuk Aliansi BEM Tasikmalaya agar melakukan rekonsiliasi.

“Perihal masalah ini merupakan sikap politik BEM Unsil. Kita di sini ingin menggertak (pihak) ABT apakah dari korpusnya sendiri nanti akan melakukan rekonsiliasi dengan kita (atas) kejadian kita atau tidak.” Tutup Gilang Gustiawan

Reporter: Zahra Firdausa Sunarya & Farda Siti Solihah

Penulis: Dedeh Sukmawati

Penyunting: Denia Daniatin

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed